Haram Meskipun Berkhasiat

Haram Meskipun berkhasiat

Pada dasarnya, menentukan hukum halal haram suatu jenis hewan bukan didasarkan pada apakah hewan tersebut berkhasiat sebagai obat atau hanya sekadar makanan. Meskipun diyakini berkhasiat sebagai obat, jika hukumnya haram, tetap tidak boleh. Jika pun boleh, harus melalui mekanisme dan pembahasan khusus.

Tetap Haram Meskipun berkhasiat

Alasan khasiat obat pada beberapa hewan yang tidak biasa dikonsumsi, sering memicu polemik mengenai halal-haramnya. Misalnya saja cacing sebagai obat typuss, semut jepang sebagai obat diabetes, tokek sebagai obat gatal-gatal, minyak kalajengking sebagai obat kulit, minyak bulus dan lain lain. Keyakinan terhadap khasiat obat ini, kadangkal sering membuat orang dengan mudah menghalalkan sesuatu yang sebenarnya haram. Seakan-akan tidak ada alternatif obat lain selain dari hewan tersebut.

Dalam kajian hukum Islam, ada salah satu klasifikasi hewan yang oleh mayoritas ulama diharamkan, yaitu hasyarat. Hayarat merupakan terminologi arab yang mencakup serangga dan hewan bumi seperti kadal, tikus, ular, kalajengking dan lain sebagainya. Klasifikasi yang luas ini memudahkan kita untuk mengenali hukum dari masing-masing hewan yang tercakup di dalamnya.

Hasyarat sering diartikan “serangga”. Padahal, sebagaimana disebutkan dalam kamus Lisanul Arab IV/190, terminologi hasyarat jauh lebih luas daripada serangga. Hasyarat merupkan istilah arab, bukan klasifikasi ilmiyah dalam ilmu biologi. Jadi wajar jika cakupan pengertiannya berbeda dengan  serangga atau hewan invertebrata. Selain serangga hewan-hewan tanah seperti ular, tikus, cacing, kalajengking, tokek dan jerboa juga masuk termasuk hasyarat, padahal dalam ilmu biologi, ular termasuk reptile dan tikus termasuk mamalia, bukan serangga.

Adapun hukum hasyarat, secara umum haram menurut mayoritas mazhab. Adapun lndasan dalilnya di antaranya:

Pertama, hasyarat dianggab sebagai khabaits (hewan yang kotor). Tidak wajar dan tidak layak untuk dikonsumsi. Padahal, kita diperintahkan untuk memakan thayyibaat, makanan yang baik. Kebalikan thayib adalah khabits.

“Wahai orang yang beriman, makanlah sesuatu yang baik dari rezeki yang sudah kami berikan” (al-baqarah 172)

“Dan dia menghalalkan yang baik dan mengharamkan atas mereka segala yang buruk (menjijikkan).” (QS. Al-A’araf: 157)

Larangan ini juga mencakup konsumsi untuk obat. Dari Abu Hurairah berkata:

نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنِ الدَّوَاءِ الْخَبِيْثِ

“Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- melarang menggunakan obat yang khabits/buruk.” (HR. Abu Daud no. 3870)

Jadi, meskipun dianggap memiliki khasiat obat, jika hewan tersebut termasuk khabits, hukumnya haram. Sedangkan hasyarat, menurut beberapa ulama dikategorikan sebagai khabaits.

Kedua, kebanyakan hasyarat, khususnya serangga merupakan hewan yang tidak bisa disembelih. Dan hewan yang tidak bisa disembelih lalu mati baik dibunuh maupun mati sendiri hukumnya haram karena termasuk bangkai, kecuali belalang.

Allah berfirman yang artinya:

Telah diharamkan atas kalian bangkai binatang, darah, daging babi, binatang yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, binatang yang mati dengan sebab tercekik, terkena benturan keras, terjatuh dari ketinggian, ditanduk binatang lain, dimakan binatang buas, kecuali binatang yang kalian sembelih (secara syar’i, maka halal).” (Al-Ma’idah: 3)

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ ، فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ : فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ ، وَأَمَّا الدَّمَانِ : فَالْكَبِدُ وَالطِّحَال

Nabi s.a.w. bersabda: “dihalalkan bagi kami 2 bangkai dan 2 darah, 2 bangkai itu; binatang laud an belalang. Sedangkan 2 darah adalah; Jantung dan limpa”. (HR Ahmad dan al-Baihaqi)

Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, “Tidak halal memakan bekicot dan hasyarot lainnya (seperti cecak, kumbang, semut, lebah, lalat, seluruh cacing, kutu, dan nyamuk) karena Allah Ta’ala berfriman (yang artinya), “Kecuali yang kalian bisa menyembelihnya”. Dalil menunjukkan bahwa penyembelihan hanya boleh dilakukan pada tenggorokan atau di dada. Sedangkan yang tidak mampu disembelih, maka jelas tidak boleh dimakan dan makanan seperti ini dihukumi haram.” (Al Muhalla, 7: 405).

Keharaman hasyarat disepakati oleh mazhab Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Alasannya, hasyarat termasuk mustakhbats (hewan yang dinilai tidak layak konsumsi). Dari mazhab Hanafiyah, Imam as Sarkhasi menyatakan, hewan mustakhbats diharamkan langsung dalam nash ““dan diharamkan bagi mereka sesuatu yang buruk”} (al-a’raf 157).  Hasyarat termasuk hewan mustakhbats. (al Mabsuth XI/220). Kesimpulan haram juga dikemukakan Imam an Nawawi sebagai ulama mazhab Syafi’iyah dalam kitab al Majmu’ IX/15.

Mazhab yang seara luas membolehkan adalah mazhab Maliki. Dalil yang digunakan adalahayt 145 surat al An’am yang menytkan bahwa yang diharamkan al Quran hanya darah, babi, bangkai dan binatang yang disembelih tanpa menyebut nama Allah. dalil lain adalah hadits dari Milqam bin al-Talib:

صَحِبْتُ النَّبِي صلى الله عليه و سلم فَلمْ أَسْمَعْ الْحَشَرَاتِ اْلأَرْضِ تَحْرِيْمًا

Milqam bin al-Talib meriwayatkan dari ayahnya: “aku menemani rasul s.a.w. (selama hidupku) dan aku tidak pernah mendnegar beliau mengharamkan hasyarat (serangga).” (al-Mu’jam al-kabir no. 1299)

Hanya saja, pendapat mazhab Maliki dalam hal ini banyak dikaji ulang oleh para ulama. khususnya mengenai pembatasan dalam surat al An’am:145. Faktanya, ada banyak hadits shahih yang menjelaskan keharaman sesuatu padahal di dalam al Quran tidak disebutkan.

baca juga: Kain Haram, Apakah Ada?

Agar lebih selamat, hendaknya kita menghindari konsumsi hewan hasyarat. meskipun beberapanya diyakini mengandung obat, masih ada banyak alternatif lain yang bisa digunakan. Semoga, sikap kehati-hatian ini juga dapat menjadi obat bagi kita dari penyakit meremehkan hal-hal yang diharamkan atau yang syubhat. Wallahua’lam. (taufikanwar).

 

 

# Haram Meskipun berkhasiat # Haram Meskipun berkhasiat# Haram Meskipun berkhasiat # Haram Meskipun berkhasiat #

%d bloggers like this: