Hak Cipta Pengarang dan Penerbit

Hak Cipta Pengarang dan Penerbit.

Dalam proses menulis sebuah buku, seorang penulis biasanya melakukan penelitian dan kajian yang matang. Dalam batas tertentu, hal itu memeras banyak tenaga, pikiran, waktu, dan biaya. Ketika buku selesai ditulis, penulis dan atau penerbitnya menjadi pemegang copyright (hak cipta) atas buku tersebut.

Selain sebagai pengakuan atas hak kekayaan intelektual, copyright juga bertujuan mencegah adanya pihakpihak lain yang meraih keuntungan materi secara ilegal dari buku tersebut. Di antara bentuk mengeruk keuntungan materi secara ilegal, yang umum terjadi di masyarakat, adalah:

1. Pemfotokopian buku yang kemudian diperjualbelikan

2. Pencetakan buku secara ilegal yang kemudian dijual dengan harga jauh di bawah buku asli (edisi buku bajakan).

3. Penjualan soft file buku secara illegal.

Bagaimana kedudukan copyright dalam tinjauan ilmu fikih? Di kalangan ulama kontemporer terjadi perbedaan pendapat tentang pemberlakuan copyright atas penulisan buku, terkhusus lagi bukubuku agama.

TIDAK ADA COPYRIGHT

Beberapa ulama kontemporer, antara lain Dr. Ahmad Kurdi, tidak mengakui berlakunya hak cipta. Menurut mereka, pengarang kitab tidak berhak menerima keuntungan materi dari hasil karyanya.
Dasar argumentasinya adalah:

• Hak cipta bisa mendorong penulis untuk tidak mempublikasikan karyanya kecuali jika mendapatkan imbalan materi (royalti atau lainnya). Hal ini merupakan wujud dari menyembunyikan ilmu yang dikecam oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, “Sesungguhnya orangorang yang menyembunyikan buktibukti nyata kebenaran dan petunjuk yang telah Allah turunkan, setelah Kami (Allah) menjelaskannya kepada manusia dalam kitab suci, maka mereka adalah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan orang-orang yang melaknat.” (QS. AlBaqarah [2]: 159)

BACA JUGA: JUAL BARANG KW

nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu, lalu ia menyembunyikan ilmu tersebut, niscaya mulutnya akan dikekang dengan tali dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, AtTirmidzi, dan Ibnu Majah)

• Ilmu adalah amal ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan termasuk bisnis dan industri. Oleh karena itu, tidak boleh melakukan amal ketaatan dengan menerima imbalan materi. Orang yang berilmu wajib mengajarkan ilmunya kepada umat secara gratis. Adapun kebutuhan hidupnya menjadi tanggung jawab umat melalui baitul mal (kas negara).

• Hak cipta dapat mempersempit dan membatasi peredaran ilmu dan kitab di tengah umat. Tanpa adanya hak cipta, setiap orang berhak mencetak dan mendistribusikan karya para penulis, sehingga ilmu akan lebih tersebar luas di tengah umat.

ADA COPYRIGHT

Mayoritas ulama kontemporer mengakui adanya hak cipta. Di antara mereka adalah Syaikh Dr. Musthafa Az-Zarqa, Muhammad Utsman Syabir, Muhammad Fathi Ad-Duraini, Muhammad Sa’id Al-Buthi, Wahbah Az-Zuhaili, Muhammad Taqi Al-Utsmani, Bakr Abdullah Abu Zaid, Imaduddin Khalil, dan Wahb Sulaiman Ghawaji. Para ulama India dan Pakistan seperti Syaikh Fath Muhammad Al-Luknawi, Mufti Muhammad Kifayatullah, dan Abdurrahim Al-Lajaburi, juga memegang pendapat ini.

Dasar argumentasi mereka adalah: • Dari Ibnu Abbas s bahwasanya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda, “Hal yang paling layak kalian meminta imbalan materi atasnya adalah kitab Allah.” (HR. Bukhari)

Jika syariat Islam memperbolehkan imbalan materi atas jasa mengajarkan Al-Qur’an, maka perkara lainnya yang mengandung unsur jasa dan kemanfaatan lebih berhak untuk diberi imbalan materi.

• Dari Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi bahwasanya nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda kepada seorang sahabat, “Aku telah menikahkan dirimu dengan wanita ini, dengan mahar ayat-ayat Al-Qur’an yang engkau hafal.” (HR. Bukhari)

Jika syariat Islam memperbolehkan hafalan Al-Qur’an dan pengajaran AlQur’an sebagai mahar pernikahan, maka menerima imbalan materi dari mengajarkan Al-Qur’an lebih boleh. Demikian pula, mengarang buku yang mengandung ilmu yang bermanfaat dan menyebarluaskannya, lebih boleh lagi untuk menerima imbalan materi.

• Buku merupakan perpaduan dari unsur kerja keras otak dalam berfikir dan kerja keras tangan dalam menulis. Buku adalah karya tangan yang sifatnya halal, maka padanya berlaku hadits nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, “Tidaklah seseorang melakukan mata pencaharian yang lebih baik daripada bekerja dengan tangannya sendiri.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah)

nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ditanya, “Apakah mata pencaharian yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (bersih dari dosa).” (HR. Ahmad, AlBazzar, Al-Hakim, dan Ath-Thabarani)

• Mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali berpendapat kemanfaatan adalah harta kekayaan. Karangan sebagai hasil pemikiran adalah sebuah kemanfaatan bagi umat manusia, meskipun manfaat tersebut bersifat non-materi. Sebagai sebuah kemanfaatan, karangan adalah harta dan secara syar’i berhak ditukar dengan imbalan material.

KAJIAN PENDAPAT

Argumentasi para ulama yang tidak mengakui adanya copyright bisa dijawab sebagai berikut:

Pertama, seorang penulis benarbenar menyembunyikan ilmu apabila ia melarang umat Islam dari membaca, mempelajari, dan mengajarkan buku karyanya. Copyright tidak menghalangi umat Islam dari membaca, mempelajari, dan mengajarkan sebuah buku. Copyright bahkan tidak menghalangi umat Islam dari membeli dan menjual buku tersebut. Copyright hanya menghalangi orang lain mencetak dan memperjual-belikan buku tersebut tanpa izinnya, demi meraih keuntungan materi.

Kedua, menghafal Al-Qur’an dan mengajarkan Al-Qur’an adalah amalan ketaatan untuk mendekatkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى. Namun nabi صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memperbolehkan mengambil upah harta dari mengajarkan Al-Qur’an. Beliau n juga memperkenankannya sebagai mahar pernikahan. Hal ini menunjukkan tidak semua amal ketaatan itu haram diganti dengan imbalan materi.

Ketiga, bila setiap pihak berhak melakukan pembajakan terhadap hasil karya para penulis dan meraih keuntungan materi darinya, niscaya para penulis akan putus asa dan malas menelurkan karyakarya baru. Sebab, hasil kerja keras dan penemuan-penemuan ilmiah baru mereka justeru dipetik para pembajak.

Akibatnya, tidak akan ada kajiankajian baru dan karya-karya orisinil baru. Penyebarluasan ilmu-ilmu baru justru akan terhenti. Keberadaan copyright justru memberi semangat para penulis untuk lebih giat melakukan kajian dan mengeluarkan karya-karya terbaik mereka.

TARJIH

Pendapat yang mengakui berlakunya copyright adalah pendapat yang didukung oleh dalil-dalil syar’i yang shahih dan kuat sisi pada penunjukan maknanya. Pendapat ini juga selaras dengan ‘urf (kebiasaan yang telah berlaku secara umum dan luas di tengah masyarakat).

Manusia harus membayar sejumlah uang saat mereka naik pesawat, kapal laut, kereta api, bis, dan taksi. Buku karya para penulis pun layak diberi imbalan materi, sebagai ganti dari manfaat ilmu yang didapat darinya. Terlebih, buku sebagai sebuah barang bisa dimiliki oleh masyarakat yang membelinya.

Majma’ Fiqh Islami dalam Daurah ke-5 yang diadakan di Kuwait pada 1-6 Jumadil Awwal 1409 H/10-15 Desember 1988 M memutuskan pemberlakuan copyright atas hak karya para penulis. Wallahu a’lam. []

 

%d bloggers like this: