Haji, Potret Persatuan Umat Islam

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Setelah kita besyukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan bershalawat kepada nabi Muhammad ﷺ. Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ikhwan fiddin arsyadakumullah

Kita sekarang tengah berada di satu bulan di mana umat Islam yang mampu, diwajibkan menunaikan ibadah haji ke Baitullah untuk memenuhi rukun Islam yang kelima. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dan sabda Rasulullah ﷺ.

Allah Subhanahu Wata’alaberfirman,

 وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Dan hanya karena Allah diwajibkan haji atas manusia ke Baitullah, yaitu terhadap mereka yang telah sanggup melaksanakan kewajiban tersebut, sungguh Allah tidak menghajatkan apa-apa dari alam semesta ini. ” (QS. Ali Imran: 97).

Rasulullah ﷺ, bersabda,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ «أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ فَحُجُّوا ». فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلاَثًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ – ثُمَّ قَالَ – ذَرُونِى مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلاَفِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَىْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَىْءٍ فَدَعُوهُ ».

“Wahai manusia, telah diwajibkan atas kalian berhaji maka berhajilah”, kemudian ada seorang bertanya: “Apakah setiap tahun Wahai Rasulullah?”, Nabi Muhammad ﷺ tidak menjawab sampai ditanya tiga kali, barulah setelah itu beliau menjawab: “Jika aku katakan: “Iya”, maka niscaya akan diwajibkan setiap tahun belum tentu kalian sanggup, maka biarkanlah apa yang sudah aku tinggalkan untuk kalian, karena sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum kalian, akibat banyaknya pertanyaan dan penyelisihan mereka terhadap nabi mereka, maka jika aku perintahkan kalian dengan sesuatu, kerjakanlah darinya sesuai dengan kemampuan kalian dan jika aku telah melarang kalian akan sesuatu maka tinggalkanlah.” (HR. Muslim)

 

HAJI SIMBOL PERSATUAN UMAT ISLAM

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Dalam Syariat Islam, banyak kita temukan bentuk ibadah yang menunjukkan sebuah kesatuan dan persatuan umat ini. Seperti shalat Jamaah, shalat Jumat, puasa Ramadhan dan Haji ke baitullah. Ibadah-ibadah ini memuat makna kebersamaan, ketaatan dan persatuan. Ada gerak dan kegiatan yang sama. Rukuk bersama, sujud bersama, kumpul bersama, disiplin dalam berbuka dan sahur.

Ibadah haji misalnya adalah bukti umat Islam bisa bersatu dalam pandangan, paham dan kepentingan.  Ibadah haji membuktikan umat Islam sedunia benar-benar bersatu, walaupun berbeda kedudukan ekonomi dan politik. Mereka meninggalkan egoisme pribadi dan interest negara masing-masing demi tujuan mulia.

Sikap moderat dan toleran jamaah haji menciptakan iklim kondusif untuk beribadah, berinteraksi dan berbagi. Dengan rasa kebersamaan sebagai saudara seiman, maka jamaah haji saling berbagi. Di Tanah Suci mereka mendapat gambaran riil kondisi umat Islam sedunia.

Inilah fenomena persatuan umat Islam yang seharusnya bisa dipraktekkan dalam kehidupan umat Islam sehari-hari.

 

Jamaah shalat Jumat Rahimakumullah

Sungguh kita merindukan persatuan dan persudaraan umat, seperti ibarat tubuh yang satu. Tak boleh ada bagian tubuh yang sakit atau disakiti, sebab sakit sebagian tubuh saja akan berakibat ke seluruh tubuh. Miskin dan tertindas sebagian umat turut dirasakan umat yang lainnya. Demikian juga sukses dan bahagia, akan ikut dirasakan saudara seiman seluruhnya.   Rasulullah ﷺ bersabda.

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Dari An-Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam kecintaan mereka, kasih mengasihi di antara mereka dan saling tolong menolong seperti jasad. Apabila satu organ merasa sakit maka berpengaruh terhadap seluruh jasad dengan jaga dan panas. (HR. Muslim)

Rasululllah n juga mengumpamakan kondisi orang beriman seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan.

عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ.

Dari Abu Burdah bin Abdullah bin Abu Burdah, dari kakeknya, dari Abu Musa ra, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin bagi mukmin yang lain seperti bangunan yang satu sama yang lain saling menguatkan. Dan beliau mengeratkan jari jemarinya. (HR. Al-Bukhari)

 

PILAR PENTING DALAM ISLAM

Sesungguhnya persatuan umat merupakan salah satu pilar penting dalam Islam, banyak dalil-dalil syar’i yang memerintahkannya, antara lain firman Allah Subhanahu Wata’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا

 “Dan berpegang teguhnya dengan tali agama Allah, dan janganlah kalian berpecah belah”. (QS. Ali Imran: 103)

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah di dalam Majmu’ul Fatawa, menuturkan:

“Di antara kaidah penting yang menjadi pilar agama adalah bersatunya hati-hati kaum muslimin, berpadunya kalimat mereka, dan baiknya hubungan antara sesama kaum muslimin… dan orang berkomitmen dengan pilar ini disebut ahlul jamaah, sebagaimana orang yang menyelisihi pilar ini disebut ahlul furqoh (perpecahan).

Syaikh Abdurahman As-Sa’di t di dalam Al-Hatstsu ‘Ala Ijtima’i Kalimatil Muslimin, memaparkan urgensi pilar ini dengan mengatakan:

“Di antara perkara-perkara ilahiyah, dan syariat nan suci, serta wasiat kenabian yang teragung adalah; berpegang teguh dengan tali agama Allah dan bersatunya kalimat kaum muslimin, Dan berusaha untuk memotivasi mereka dengan beragam sarana untuk mencapainya (persatuan), mewanti-wanti umat dan memberi peringatan kepada mereka untuk tidak berselisih, berpecah belah dan bercerai berai, serta melarang seluruh sarana yang dapat mengantarkan umat ini kepada hal tersebut.

Ikhwan fiidin arsyadakumullah

Faktor terbesar yang menjadikan kaum muslimin terjajah dan bertekuk lutut kepada kaum kuffar bukanlah disebabkan kekuatan dan kemutakhiran senjata mereka semata, namun justru disebabkan faktor internal kaum muslimin, yaitu permusuhan dan perpecahan yang terjadi di kalangan mereka sehingga melemahkan kekuatan mereka dan menjauhkan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.

Dalam hadits yang di riwayatkan oleh imam Muslim dan yang lainnya, Rasulullah ﷺ bersabda: bahwa Allah berfirman:

يَا مُحَمَّدُ، إِنِّي إِذَا قَضَيْتُ قَضَاءً فَإِنَّهُ لا يُرَدُّ وَإِنِّي أَعْطَيْتُكَ لأُمَّتِكَ أَنْ لا أُهْلِكَهُمْ بِسَنَةٍ عَامَّةٍ، وَأَنْ لا أُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ سِوَى أَنْفُسِهِمْ فَيَسْتَبِيحَ بَيْضَتَهُمْ، وَلَوِ اجْتَمَعَ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِ أَقْطَارِهَا حَتَّى يَكُونَ بَعْضُهُمْ يُهْلِكَ بَعْضًا

“Wahai Muhammad, sesungguhnya jika Aku telah menetapkan sebuah takdir maka tidak akan bisa ditolak (pasti terjadi), dan sesungguhnya Aku telah menakdirkan bagi umatmu (umat Islam) untuk tidak binasa dan hancur dengan bencana kelaparan dan kekeringan, dan (juga) mereka tidak akan dikuasai oleh musuh dari luar (orang kafir) sehingga dapat menghancurkan (kekuatan) mereka, kendati mereka (orang-orang kafir) bersatu padu untuk memerangi dan menaklukkan mereka, kecuali jika sesama kaum muslimin saling membinasakan/bertikai.”

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ إِنَّ رَبِّي غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

BAGAIMANA MEMUPUK PERSAUDARAAN ANTARA KAUM MUSLIMIN?

Allah Subhanahu Wata’ala, Rasulullah ﷺ, para sahabat, tabi’in, dan ulama telah memberikan pentunjuk sekaligus teladan bagaimana cara menumbuhkan, memupuk dan menjaga persaudaraan antar orang-orang yang beriman.

  1. Menyadari bahwa Allah Subhanahu Wata’ala telah menciptakan manusia dengan karakter yang berbeda-beda

Perbedaan adalah sunnatullah. Adanya manusia dengan wajah, bentuk, warna kulit, karakter, watak, dan tabiat yang berbeda-beda adalah salah satu kehendak Ilahi yang selayaknya kita sadari. Hal ini penting agar kita tidak selalu berharap atau bahkan memaksa orang lain agar senantiasa sependapat dengan kita. Justru sebaiknya kita belajar untuk memahami orang lain.

  1. Tidak mengolok-olok, tidak mencela, dan tidak memanggil dengan gelar yang buruk. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

 

يَـٰأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٍ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ.

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan/meremehkan kaum yang lain. Boleh jadi mereka (yang diremehkan) lebih baik daripada mereka (yang meremehkan). Jangan pula wanita merendahkan wanita yang lain. Boleh jadi wanita (yang diremehkan) lebih baik daripada wanita (yang meremehkan). Janganlah kalian saling mencela dan janganlah kalian saling memanggil dengan panggilan yang buruk”. (QS. Al-Hujurat: 11)

  1. Tidak berprasangka buruk, tidak mencari-cari kesalahan orang lain. Abu Hurairah z pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang artinya:

“Jauhilah oleh kalian persangkaan yang buruk (zhan) karena dhon itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad (dengki, iri hati), saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan….” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Semoga umat Islam bersatu sebagaimana bersatunya orang-orang yang malaksanakan haji di baitullah. Akhirnya kita akhiri khutbah siang ini dengan doa.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتَ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ .والحمد لله رب العالمين

 

 

 

 Muslih Abdurrahman

 

 

 

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: