Haji Dimata Orientalis

Haji Dimata Orientalis

Tiap muslim pasti ingin menunaikan ibadah Haji. Dengan mengerahkan segenap kemampuan. Guna menjalankan perintah Allah dan RasulNya. Namun ternyata, ada berbagai upaya buruk yang dilakukan lewat ibadah yang mulia ini, untuk menyesatkan pemikiran umat pada khususnya dan umat manusia pada umumnya.

 

ORIENTALIS BERBICARA HAJI

Berbagai cara diupayakan para orientalis, guna membangun stigma negatif terhadap ajaran Islam. Di antaranya adalah dengan melontarkan pernyataan yang menyesatkan tentang ibadah Haji.

Snouck Hurgronje dalam bukunya “alHajj ila makka”, menyatakan bahwa ibadah Haji adalah sisa-sisa dari paganisme. Buku yang berisi pemikiran sesat ini justeru kemudian banyak menjadi rujukan para orientalis setelahnya. (Najib Al-Aqiqi, AlMustasyriqun, (Mesir: Darul Ma’rifah, Cet3, 1964), 2/666 dan Abdurahman Badawi, Mausu’ah Al-mustasyriqin, (), 353-355)

Di sisi lain, A. J. Wensinck menyatakan bahwa perhatian Nabi terhadap dakwah sangat sedikit, di antaranya adalah masalah Haji. Pada surat-surat yang awal turun juga tidak disebutkan. Di tambah lagi tidak ada sumber-sumber yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad mengambil batas-batas tertentu dari kebiasaan paganisme ini. (E.J. Brill, First Encyclopaedia of Islam, (Leiden, New Edition, 1987), 3/33)

Ignaz Goldziher mengatakan bahwa di antara rukun Islam adalah Haji. Yaitu bepergian ke tempat ibadah pribumi lama di Makkah, baitullah. Rukun yang terakhir ini dipertahankan oleh Muhammad dari paganisme, dan menjadikannya sesuai dengan tauhid serta mengarahkannya kepada ajaran Ibrahim. (Ignaz Glodziher, Al-aqidah wa Asy-syariah fil Islam, (Mesir: Darul Kitab al-Qurbi, Cet-2, TT), 24)

Lebih rinci lagi apa yang diungkapkan oleh FR. Buhl, ketika membicarakan salah satu dari rangkaian ibadah Haji. Dia menyatakan bahwa thawaf merupakan bentuk asli paganisme, karena terdapat hajar aswad di sana, yang tidak lain merupakan salah satu berhala.

Dia mengatakan, “Kabah dikelilingi karena di dalamnya terdapat hajar aswad, sebuah batu yang disucikan dari zaman dahulu. Lalu Muhammad menjadikan adat kebiasaan ini ketika meletakkan syiarsyiar agamanya, dan menjadikan ka’bah sebagai poros dari syiar ini”. (E.J. Brill, First Encyclopaedia of Islam, (Leiden, New Edition, 1987), 7/702) HAL 30

Dari beberapa statemen di atas, nampak dengan jelas bagaimana upaya para orientalis dalam mendiskreditkan Islam. Dengan memberikan pernyataan yang seolah-olah benar tentang ibadah Haji. Namun apakah benar demikian? Pemikiran ngawur ini perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kerancuan.

(baca juga: Joseph Schacht Bicara Zakat)

 

MELURUSKAN PEMAHAMAN

Apa yang diungkapkan para orientalis, bahwa ibadah Haji merupakan adopsi dari kebiasaan paganisme, menunjukkan kebodohan mereka terhadap Islam. Sebab dengan jelas termaktub dalam alQuran, bahwa ibadah Haji ini jawaban dari doa Nabi Ibrahim p. Dan Allah SWT memerintahkannya untuk memuliakan Baitullah al-Haram serta menunaikan ibadah Haji. Sebagaimana termaktub dalam surat al-Hajj ayat 26-27.

Syaikh as-Sa’di mengatakan bahwa ibadah Haji adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Kemudian hadirlah Nabi Muhammad sebagai keturunan dari Nabi Ibrahim. Beliau menyeru umatnya kepada Islam dan millah Ibrahim. (Syaikh as-Sa’di, Tafsir asSa’di, Tahqiq: Abdurahman bin Ma’la alLuwaihiq, (Beirut: Muassasah Risalah, Cet1, 1420 H), 427) Artinya, apa yang beliau lakukan, dengan mempertahankan ibadah Haji adalah perintah dari Allah SWT.

Ibadah Haji bukanlah ritual yang diadakan oleh orang musyrik. Justeru, yang dilakukan oleh orang-orang musyrik itu adalah menambah dan menguranginya. Yang pertama melakukannya adalah Amru bin Rabi’ah bin Lu’ai. Dia menempatkan patung dan menyembahnya di sekitar ka’bah. Dengan tetap melakukan rangkaian manasik yang diwariskan Nabi Ibrahim p. (Abu Mundzir al-Kalbi, Kitab al-Ashnam, Tahqiq: Ahmad Zaki Basya, (Kairo: Darul Kutub al-Mishriyah, Cet-3, 1995), 24)

Selanjutnya terkait dengan thawaf yang dilakukan di sekitar ka’bah. Perlu diketahui bahwa, pemuliaan orang-orang musyrik terhadap ka’bah dengan hajar aswad di dalamnya, bukan dalam rangka menyembah ka’bah atau hajar aswad. Mereka tidak menyembah dan tidak mengakui ke-rububiyah-an ka’bah dan hajar aswad.

Di antara buktinya adalah, mereka tidak menamai anaknya dengan ‘abdul ka’bah’ atau ‘abdul hajar aswad’ atau ‘abdul maqam ibrahim’. Sebab yang mereka sembah adalah berhala. Sehingga nama yang mereka berikan kepada anaknya dinisbatkan kepada sesembahannya, seperi abdul Uzza, Abdul Manath dan semisalnya. (Muhammad Suhail Thuqqusy, Tarikh al-Arab Qabla al-Islam, (Beirut: Dar an-Nafais, Cet-1, 1430 H), 246-247)

Sedangkan thawaf yang dilakukan kaum muslimin adalah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan RasulNya, bukan menyembahnya. Sebab ka’bah maupun hajar aswad, tidak memiliki kekuatan yang memberikan kenikmatan atau bahaya. (Imam an-Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Araby, Cet-2, 1392 H), 9/16). Wallahu A’lam. []

%d bloggers like this: