Haji Badal, Bolehkah?

Haji Badal, Bolehkah?

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ خَثْعَمَ اسْتَفْتَتْ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ وَالْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ رَدِيفُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ

Sesungguhnya seorang wanita dari daerah Khats’am bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika haji wada’, sedangkan al-Fadhl bin Abbas dibelakang membonceng Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Wanita tadi berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hamba-Nya di dalam perkara haji telah di dapati oleh bapakku yang dalam keadaan sangat tua, beliau tidak sanggup untuk duduk di atas kendaraan, bolehkah aku menghajikan atas namanya?”, beliau menjawab, “iya” (hajikanlah atasnya). (HR. Bukhari)

Ibadah haji adalah salah satu kewajiban seorang muslim yang harus dikerjakan sekali dalam hidupnya, bagi yang mampu untuk mengerjakannya. Namun ada sebagian kaum muslimin yang tidak sanggup melaksanakan ibadah tersebut lantaran sakit yang belum sembuh-sembuh, kondisi badan yang lemah, usia yang sudah renta. Maka dalam kesempatan kali ini kita akan membahas tentang hukum badal haji.

HUKUM HAJI BADAL

Pengertian haji badal adalah ibadah haji yang dilaksanakan oleh seseorang atas nama orang lain yang telah memiliki kewajiban  untuk menunaikan ibadah haji, namun karena orang tersebut udzur (berhalangan)

sehingga tidak dapat melaksanakannya sendiri, maka pelaksanaan ibadah tersebut didelegasikan kepada orang lain.

Hukum haji badal masih menjadi perdebatan diantara ahli ilmu fikih. Perbedaan pendapat tersebut yaitu,

Pendapat pertama, diperbolehkan melasanakan badal haji baik yang masih hidup atau sudah meninggal. Ini merupakan pendapat mayoritas ahli fikih, yaitu ahli fikih dari madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Pendapat mereka disandarkan kepada hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Beliau Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya seorang wanita dari daerah Khats’am bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika haji wada’, sedangkan al-Fadhl bin Abbas dibelakang membonceng Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Wanita tadi berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kewajiban Allah atas hambaNya di dalam perkara haji telah di dapati oleh bapakku yang dalam keadaan sangat tua, beliau tidak sanggup untuk duduk di atas kendaraan, bolehkah aku menghajikan atas namanya?”, beliau menjawab, “iya” (hajikanlah atasnya). (HR. Bukhori)

Pendapat kedua, haji badal tidak diperbolehkan, baik haji badal untuk orang yang masih hidup atau sudah meninggal. Ini adalah pendapat yang diakui oleh ulama madzhab Maliki.
(Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 17/ 72)

KETENTUAN-KETENTUAN DALAM HAJI BADAL

Beberapa orang dari kaum muslimin ada yang  menggampangkan haji badal. Padahal dalam pelaksanaan badal haji terdapat ketentuan-ketentuan yang harus ditetapi. Adapun ketentuan-ketentuan tersebut di antaranya:

1. Tidak sah haji badal untuk haji fardhu bagi orang yang mampu secara fisik. Ibnu Qudamah ra berkata, Tidak dibolehkan melakukan haji wajib untuk menggantikan orang yang mampu melaksanakan haji sendiri berdasarkan ijma. (Al-Mughni, Abu Muhammad Abdullah Bin Ahmad Bin Muhammad Ibnu Qudamah al-Hambali al-Almaqdisi, 3/ 185)

2. Haji badal (hanya) untuk orang sakit yang tidak ada harapan sembuh atau yang lemah fisiknya atau untuk orang yang meninggal dunia. Bukan untuk orang fakir, lemah dan karena kondisi politik atau keamanan. An-Nawawi ra berkata, Mayoritas (ulama) mengatakan bahwa mengghajikan orang lain itu dibolehkan untuk orang yang telah meninggal dunia dan orang lemah (sakit) yang tidak ada harapan sembuh. (Syarh An-Nawawi ‘Ala Shahihi al-Muslim, Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi, 8/ 27)

Al-Hafidz Ibnu Hajar ra berkata, «Orang yang membolehkan menghajikan orang lain bersepakat, tidak diterima haji wajib kecuali untuk orang meninggal dunia atau lumpuh. Maka orang sakit tidak termasuk yang dibolehkan, karena ada harapan sembuh. Tidak juga orang gila, karena ada harapan normal. Tidak juga orang yang dipenjara, karena ada harapan bebas. Tidak juga orang fakir karena ungkin dia menjadi kaya. (Fathu al-Bari Syarh Shahih al-Bukhori, Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar, 6/ 79)

baca juga: Berhaji Dengan Harta Haram, sahkah?

Di dalam fatawa Lajnah ad-Daimah juga dijelaskan, Seorang muslim yang telah menunaikan haji wajib untuk dirinya dibolehkan menghajikan orang lain, jika orang yang dihajikan tersebut tidak mampu melaksanakan haji sendiri karena sudah tua renta atau sakit yang tidak ada harapan sembuh atau karena telah meninggalkan dunia. Berdasarkan hadits-hadits shahih yang menunjukkan hal itu. Akan tetapi kalau orang yang akan dihajikan tidak mampu haji karena masalah sementara yang mungkin dapat hilang seperti sakit yang ada harapan sembuh, alasan politik dan tidak aman diperjalanan atau semisal itu, maka tidak sah menghajikan untuknya. (Fatawa al-Lajnah AdDaimah, 11/ 51)

3. Haji badal bukan untuk orang yang lemah dari sisi finansial. Karena kewajiban haji gugur bagi orang fakir. Sesungguhnya haji badal hanya untuk orang yang lemah fisiknya. Sebagaimana yang dijelaskan di dalam fatawa Lajnah ad-Daimah. (Fatawa al-Lajnah Ad-Daimah, 11/ 52)

4. Seseorang tidak dibolehkan menghajikan orang lain kecuali dirinya telah melaksanakan haji, kalau dia (menghajikan orang lain padahal dia belum haji) maka, hajinya untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas h, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam mendengar seorang lakilaki berkata, Labbaika ‹an Syubrumah (Aku memenuhi panggilanMu atas nama Syubrumah, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bertanya: «Siapa Syubrumah?, laki-laki itu menjawab, Saudaraku atau kerabatku, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sudah berhajikah kamu?, lakilaki menjawab, Belum, Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda: «Berhajilah atas dirimu kemudian hajikan atas Syubrumah. (HR. Abu Daud). (Fatawa al-Lajnah Ad-Daimah, 11/ 50)

5. Seorang wanita dibolehkan menghajikan untuk laki-laki. Sebagaimana laki-laki dibolehkan menghajikan untuk wanita. (Fatawa al-Lajnah Ad-Daimah, 11/ 52)

6. Seseorang tidak dibolehkan menghajikan untuk dua orang atau lebih pada satu kali pelaksanaan haji. Para ulama AL-Lajnah Ad-Daimah mengatakan, Dibolehkan menghajikan untuk orang yang telah  meninggal dunia dan orang yang masih hidup apabila tidak mampu (melaksanakan haji secara fisik). Seseorang tidak dibolehkan melakukan sekali haji untuk dua orang. Maka haji tidak diterima kecuali hanya untuk satu orang saja, begitu juga umrah. (Fatawa alLajnah Ad-Daimah, 11/ 58)

7. Seseorang tidak dibolehkan menghajikan orang lain dengan maksud agar mendapatkan uang. Akan tetapi, niatnya adalah haji, agar dapat sampai ke tempat suci dan berbuat baik kepada saudaranya dengan menghajikannya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih bin Muhammad al-Utsaimin, 21/ 151)

8. Kalau seorang muslim meninggal dunia dan belum menunaikan kewajiban haji, sedangkan ketika masih hidup dia telah memiliki semua syarat wajib haji. Maka dia harus dihajikan dari harta yang ditinggalkannya. Baik dia berwasiat akan hal itu atau tidak. (Fatawa al-Lajnah AdDaimah, 11/100)

9. Yang lebih utama adalah manakala seorang anak menghajikan untuk kedua orang tuanya, atau  kerabat untuk kerabatnya. Tapi kalau dia menyewa orang selain keluarganya juga dibolehkan.

Syekh Abdul Aziz bin Baz ra ketika ditanya persoalan ini beliau menjawab, «Kalau anda sendiri yang menghajikan untuk keduanya dengan cara yang lebih sempurna sesuai agama, maka itu yang lebih utama. Kalau anda menyewa orang yang agamanya baik dan amanah untuk menghajikan keduanya juga tidak apa-apa. Yang lebih utama, anda menunaikan haji dan umrah untuk keduanya. Begitu juga bagi orang yang menggantikannya anda dapat menyuruhnya menghajikan dan mengumrohkan untuk keduanya. Hal ini termasuk bakti dan berbuat baik anda untuk keduanya. Semoga Allah menerima amal kita semua. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 16/ 407)

Wallahu’alam bishowab . []

%d bloggers like this: