Hadist Dhaif Yang Populer Seputar Ramadhan

Hadist Dhaif Yang Populer Seputar Ramadhan

 DOA BERTEMU BULAN RAMADHAN

َانَضَمَا رَنْغِّلَبَ، وَانَبْعَشَب، وَجَي رِا فَنَ لْكِارَ بَّمُهَّالل “

Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukan kami kepada bulan Ramadhan.”

Hadits ini diriwayatkan Bazzar dari Anas, di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Za’idah bin Abu Riqad. Menurut Bukhari, haditsnya munkar. (Lihat hadits kelima dari kitab Tabyin Al-‘Ajab bi Ma warada fi Fadhl Rajab)

TIDUR BERPAHALA

نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ

”Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah ,diamnya adalah tasbih ,do‘anya dikabulkan ,dan amalannya pun akan dilipatgandakan pahalanya “.[HR. Al-Baihaqi di Syu’abul Iman (3/1437)] Lihat: Silsilah Adh Dha’ifah Al Albani (4696).

LIMA PEMBATAL PUASA

خمس تفطر الصائم ، وتنقض الوضوء : الكذب ، والغيبة ، والنميمة ، والنظر بالشهوة ، واليمين الفاجرة

”Lima hal yang membatalkan puasa dan membatalkan wudhu :berbohong, ghibah ,namimah ,melihat lawan jenis dengan syahwat ,dan bersumpah palsu“. HR Al Jauraqani di Al Abathil (1/351). Hadits ini adalah hadits palsu, sebagaimana dijelaskan Ibnul Jauzi di Al Maudhu’at (1131), Al Albani dalam Silsilah Adh Dhaifah (1708).

SETAHUN BERPUASA KARENA SENGAJA BATAL

ِهِزْجُ يْمَ لٍرْذُ عِرْيَ غْنِ مَانَضَمَ رْنِا مًمْوَ يَرَطْف أ ا ْنَم ُهَامَ صْوَلَ وُهُّلُ كِرْهَّ الدُامَيِص

“Siapa yang buka satu hari saja di bulan Ramadhan tanpa ada alasan syar’i, niscaya tidak bisa digantikan dengan puasa sekalipun setahun lamanya.” Hadits ini disebut Bukhari secara ta’liq juga diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya.
Ibnu Hajar menjelaskan kedhaifannya dalam Fath Al-Bari: IV/ 161.

DOA BERBUKA YANG DHAIF

َّمُهَّ، اللِهَّ اللِمْسِ: بَالَ قَرَطْا اأف َإذِ ا َانَ كn َّيِبَّ النَّاأن َكَّإنِي ا ِّنِ مْلَّبَقَ، تُتْرَطْ اأف َكِقْزِى رَلَعَ، وُتْمُ صَكَل ُيمِلَعْ الُيعِمَّ السَتْاأن

“Biasanya Rasulullah SAW ketika berbuka membaca doa: Bismillah, Allahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu taqabbal minni, innaka antas samii’ul ‘aliim.” HR. Abu Daud dalam Sunan-nya (2358). Ibnu Hajar Al Asqalani berkata di Al Futuhat Ar Rabbaniyyah (4/341) : “Hadits ini gharib, dan sanadnya lemah sekali

RAMADHAN DIBAGI TIGA FASE; AWAL TENGAH DAN AKHIR

(وفي رواية : ُهُطَسْاأوَ وٌةَمْحَ رَانَضَمَ رِرْهَ شُلَّاأو ِارَّ النَنِ مٌقْتِ عُهُرِخٓاَ وٌةَرِفْغَ) مُهُطَسَوو

“Awal bulan Ramadhân itu adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah (ampunan) dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka”. [HR Ibnu Abi Dunya, Ibnu Asâkir] Silahkan lihat kitab Dha’if Jâmi’is Shagîr, no. 2134 dan Faidhul Qadîr, no. 2815

“BERPUASALAH, KALIAN AKAN SEHAT.”

اْوُنْغَتْسَا تْوُرِافَسَا وْوُّحِصَا تْوُمْوُصَا وْوُمَنْغَا تْوُزْاغ

Berperanglah (berjihad) niscaya kalian akan mendapatkan ghanimah, puasalah niscaya kalian akan sehat dan bersafarlah niscaya kalian akan berkecukupan”  [HR Ath Thabrani di Al Ausath (2/225). Lihat Silsilah Adh Dha’ifah (253)]

RAMADHAN ADALAH NAMA ALLAH ِ

اللهِاءَمْ اأس ْنِ مٌمْ اسَانَضَمَ رَّإنِاَ، فُانَضَمَا: رْوُلْوُقَ تَلا .َانَضَمَ رُرْهَا: شْوُلْوُ قْنِلكَتعالى، و

“Janganlah kalian mengucapkan Ramadhan, karena Ramadhan itu merupakan salah satu nama dari Nama-nama Allah Ta’ala, akan tetapi ucapkanlah Bulan Ramadhan”

Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan, “Hadits ini dhaif diriwayatkan Abu Ma’syar najih Al-Madani dari Sa’id Al-Maghbari dari Abu Hurairah secara marfu’. Setelah menyebut hadits ini, Ibnu Hajar menyatakan, hadits ini diriwayatkan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil dan ia dhaifkan karena adanya Abu Ma’syar.” (Fathul Bari 4/113)

HARAPAN AGAR RAMADAN SETAHUN PENUH

عَنِ اْبنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُوْلُ وَقَدْ أَهَلَّ رَمَضَانُ : لَوْ يَعْلَمِ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ ، لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَانَ السَنَّةَ كُلَّهَا ْ

“Dari Ibnu Mas’ud, bahwasanya ia mendengar nabi SAW. bersabda ketika Ramadhan tiba: Jika saja hamba-hamba (Allah) mengetahui (keutamaan) yang terdapat di bulan Ramadan, maka niscaya umatku pasti berharap agar Ramadan berlangsung selama setahun” HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya (vol. I, no. 1032),  Lihat Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (vol. II, no. 1119).

baca juga: Shiyam Ramadhan Dan Dharuriyah Khamsah

PAHALA I’TIKAF SEPERTI PAHALA UMRAH DAN HAJI

رُوِيَ عَنْ عَلِي بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ أَبِيْهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مَنْ اِعْتَكَفَ عَشْرًا فِي رَمَضَانَ كَانَ كُحَجَّتَيْنِ وَعُمْرَتَيْنِ

“Diriwayatkan dari Ali bin Husain dari ayahnya g , ia berkata. Rasulullah SAW. bersabda: Barang siapa yang beri’tikaf pada sepuluh hari di bulan Ramadan, maka (pahalanya) seperti haji dua kali dan umrah dua kali”
HR Tabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (vol. III, no. 2888) lihat al-Silsilah al-Dhaifah (vol. 2, hal. 95) hadis ini telah dinyatakan sebagai hadis yang maudhu’ (palsu). []

%d bloggers like this: