Fikih Mengeluarkan Zakat Fithri

PENGERTIAN ZAKAT FITHRIZakat secara bahasa memiliki arti berkembang, tumbuh, bertambah, dan mensucikan. (Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap,

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ، أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ، وَالذَّكَرِ وَالأُنْثَى، وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan Zakat Fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari umat Islam. Dan beliau memerintahkan untuk mengeluarkannya sebelum orang-orang keluar untuk shalat Id.” (HR. Al-Bukhari No. 1503; Muslim No. 984)

 

Pengertian Zakat Fithri

Zakat secara bahasa memiliki arti berkembang, tumbuh, bertambah, dan mensucikan. (Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia Terlengkap, Ahmad Warson Munawwir, 577; Fiqhu an-Nawazil fi Zakat, Khalid al-Masyaiqih, 1) Sedangkan Fithri berasal dari kata afthara-yufthiru-ifthaaran yang secara bahasa berarti berbuka. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 335/23)

Secara istilah Zakat Fithri adalah sedekah yang diwajibkan karena telah ifthar (berbuka) dari bulan Ramadhan. (Shahih Fikih Sunah, Abu Malik Kamal Bin as-Sayyid Salim, 2/79)

 

Hukum Zakat Fithri

Zakat Fithri menurut mayotitas ulama hukumnya wajib bagi setiap muslim yang merdeka, baik laki-laki atau perempuan, dewasa atau anak-anak, dan mampu mengeluarkannya. Pendapat ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar.

Dia berkata, “Rasulullah ﷺ mewajibkan Zakat Fithri satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum kepada hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak kecil dan orang dewasa dari umat Islam. Dan beliau memerintahkan untuk mengeluarkannya sebelum orang-orang keluar untuk shalat Id.” (HR. Al-Bukhari No. 1503; Muslim No. 984)

Berdasarkan hadits di atas dan beberapa hadits lain yang semakna, mayoritas ulama yaitu mazhab Hanafi, Syafi’I dan Hambali berpendapat bahwa mengeluarkan Zakat Fithri hukumnya wajib. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, 2/902-904)

Para ulama mazhab Maliki memiliki pendapat yang berbeda dengan pendapat mayoritas ulama. Mereka berpendapat bahwa Zakat Fithri hukumnya adalah sunah.  (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 23/336)

 

Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri

Waktu untuk mengeluarkan Zakat Fithri ada tiga tingkatan yaitu,

Pertama, waktu wajib mengeluarkan zakat. Mazhab Syafi’i, Hambali dan salah satu pendapat mazhab Maliki berpendapat, zakat wajib dikeluarkan mulai sejak matahari terbenam pada hari terakhir bulan Ramadhan hingga sebelum shalat Id dikerjakan.

Sedangkan mazhab Hanafi dan salah satu pendapat mazhab Maliki menyatakan zakat wajib dikeluarkan mulai sejak matahari terbit di hari Id hingga sebelum shalat Id dikerjakan.

Sebagai contoh kasus, misal ada seorang muslim—sudah terbebani wajib zakat—yang meninggal setelah matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan. Dalam kondisi demikian, menurut pendapat yang pertama, Zakat Fithri wajib dikeluarkan darinya, karena dia masih dalam keadaan hidup sebelum waktu wajib zakat berakhir. Sedangkan menurut pendapat yang kedua, Zakat Fithri tidak dikeluarkan darinya. (Shahih Fikih Sunah, Abu Malik Kamal Bin as-Sayyid Salim, 2/83-84)

 

Baca Juga: Potensi Zakat dan Sedekah di Indonesia

 

Kedua, waktu haram. yaitu setelah shalat id. tidak boleh mengakhirkan pengeluaran Zakat Fithri tanpa uzur hingga shalat Id telah dikerjakan. Barang siapa yang mengeluarkan Zakat Fithri setelah shalat Id maka Zakat Fithri tersebut dihitung sebagai sedekah. Dan orang yang mengeluarkan Zakat Fithri setelah shalat Id tanpa uzur, maka mendapat dosa.

Ketiga, waktu jawaz (boleh). Yaitu sejak masuk bulan Ramadhan. Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i. Sedangkan menurut mazhab Hanafi dan Maliki hanya boleh satu atau dua hari sebelum Id dan tidak boleh lebih maju dari itu. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, Wahbah az-Zuhaili, 2/907-908)

 

Takaran Zakat Fithri

Para ulama berbeda pendapat mengenai takaran Zakat Fithri yang harus dikeluarkan.

Pendapat pertama, wajib mengeluarkan zakat sebanyak satu sha’ dari jenis makanan pokok apapun. Pendapat ini berdasarkan hadits Ibnu Umar, “Bahwa Nabi ﷺ mewajibkan Zakat Fithri satu sha’ kurma, satu sha’ gandum.” (HR. Al-Bukhari No. 1511; Muslim No. 984)

Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh mayoritas ulama.

Pendapat kedua, wajib mengeluarkan zakat sebanyak satu sha’ kecuali jewawut (sejenis gandum) hanya setengah sha’. Ini adalah pendapat Abu Hanifah dan para ulama Hanafi.

Ukuran satu sha’ jika diperkirakan dengan ukuran timbangan adalah sekitar 3 kg. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 14/146). Ulama lainnya mengatakan bahwa satu sha’ kira-kira 2,157 kg. (Shahih Fikih Sunah, Abu Malik Kamal Bin as-Sayyid Salim, 2/83)

Seorang muslim apabila mengeluarkan zakat seberat 2,5 kg maka dibolehkan menurut salah satu pendapat. Akan tetapi, apabila mengeluarkan zakat seberat 3 kg itu lebih baik, karena sikap ini diambil sebagai bentuk kehati-hatian.

 

Zakat Fithri Dengan Uang

Apakah Zakat Fithri harus dengan makanan pokok? Atau boleh diganti dengan uang yang senilai dengan bahan pokok yang dikeluarkan untuk Zakat Fithri?

Dalam permasalahan ini para ulama berbeda pendapat, yaitu:

Pendapat pertama, Zakat Fithri tidak boleh diganti dengan uang yang senilai. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama yaitu mazhab Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hal ini tidak dibolehkan karena tidak terdapat nash yang berkaitan dengan hal ini (mengeluarkan Zakat Fithri diganti dengan uang).

 

Baca Juga: Berapapun Harta Wajib Dizakati?

 

Di masa Nabi ﷺ tentunya sudah ada uang yang digunakan untuk transaksi, akan tetapi Nabi ﷺ memerintahkan para sahabatnya mengeluarkan Zakat Fithri dengan makan pokok. Hal ini menunjukkan bahwa tidak boleh mengeluarkan Zakat Fithri dengan uang yang senilai dengan Zakat Fithri tersebut. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 14/202)

Pendapat kedua, boleh menganti Zakat Fithri dengan uang yang senilai dengannya. Ini adalah pendapat mazhab Hanafi. Bahkan mereka berpendapat menganti Zakat Fithri dengan uang lebih utama. Hal ini memudahkan bagi para fakir membeli sesuatu yang diinginkan ketika hari Id. Karena terkadang seorang fakir pada waktu itu tidak membutuhkan makana pokok, tetapi baju atau daging, dll. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 23/344-345)

 

Pihak yang Berhak Menerima Zakat Fithri

Para ulama berbeda pendapat mengenai orang-orang yang berhak menerima Zakat Fithri.

Pertama, mayoritas ulama berpendapat boleh menyerahkan Zakat Fithri kepada 8 golongan sebagaimana yang disebutkan di dalam surat At-Taubah ayat 60. Yaitu Fakir (orang yang tidak memiliki harta), Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi), Riqab (hamba sahaya atau budak), Gharim (orang yang terlilit hutang), Mualaf (orang yang baru masuk Islam), Fi sabilillah (pejuang di jalan Allah), Ibnu Sabil (musyafir), Amil zakat (petugas zakat).

Kedua, orang yang berhak menerima Zakat Fithri adalah khusus hanya fakir dan miskin. Ini adalah pendapat mazhab Maliki, salah satu pendapat imam Ahmad dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah.

Ketiga, Zakat Fithri harus dibagikan ke 8 golongan di atas, atau salah satu dari 8 golongan di atas yang ditemui. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 23/344-345) Wallahua’lam. [Luthfi Fathoni]

%d bloggers like this: