Fikih Hambali oleh Fakih Masakini

fikih Hambali Oleh Fikih Masa Kin

Kitab :  Fiqhu ad-Dalil Syarhu at-Tashil

Karya : Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan

Fiqhu ad-Dalil Syarhu at-Tas-hil fi alFiqhi ‘ala Mazhabi al-Imam Ahmad bin Hanbal, adalah salah satu kitab yang akan mengantarkan para thalibul ilmi pada mazhab Imam Ahmad bin Hanbal. Sebagaimana judulnya, kitab Fiqhu ad-Dalil ini adalah syarah dari kitab at-Tas-hil yang ditulis oleh al-‘Alamah alImam al-Ba’li al-Hanbali (778 H). Yaitu sebuah kitab kecil yang tidak lebih dari 160 halaman, sebab pada dasarnya kitab at-Tashil adalah salah satu matan ilmu fikih yang akan mengantarkan pada mazhab Hanbali.

Kitab at-Tas-hil banyak mendapat sanjungan di kalangan para ulama, karena kalimat-kalimat yang disampaikan dalam kitab ini sangat mudah untuk difahami dan dicerna. Bahkan dalam beberapa istilah dan pengungkapannya, kitab ini lebih baik dari pada kitab-kitab mazhab Hanbali pada umumnya. Imam al-Ba’li mengumpulkan beberapa bab yang saling berkaitan dalam satu pembahasan, contohnya pembahasan tentang seorang ayah bertanggung jawab atas penyusuan anaknya, maka dalam kitab ini diletakkan pada pembahasan hazhanah (penyusuan) yang pada kebanyakan kitab mazhab Hanbali diletakkan pada pembahasan nafaqah, dan banyak sekali faidah-faidah yang di dapatkan dalam kitab ini di mana tidak didapatkan pada kitab-kitab yang lebih besar.

Banyak para ulama setelah Imam al-Ba’li mengambil manfaat dari kitab ini, seperti Abu al-Hasan Abu Sulaimanal-Mardawi dalam kitabnya al-Inshaf, Muhammad bin Ahmad al-Futuhi yang terkenal dengan Ibnu an-Najar dalam kitabnya Ma’unatu Auli an-Nahyi Syarhu alMuntaha, dan beberapa ulama lainnya.

BACA JUGA: Ahkamul Ahillah Wal Atsar Al-Mutarattabatu Alaiha

Kemudian Syaikh al-Fauzan mensyarah kitab kecil ini dan diberi judul dengan Fiqhu ad-Dalil ‘ala Syarhi at-Tas-hil. Salah satu alasan beliau memberi judul dengan Fiqhu ad-Dalil karena berharap agar para thalibul ilmi tidak fanatik terhadap pendapat atau mazhab tertentu hanya karena berbeda dalil. Sebab para imam mazhab menganjurkan kepada pengikutnya untuk berpegang teguh pada al-Qur’an dan as-Sunnah, ucapan atau pendapat siapapun yang menyelisihi alQur’an dan as-Sunnah maka pendapat tersebut tidak diterima.
Disebutkan bahwa di antara upaya yang dilakukan oleh Syaikh al-Fauzan dalam mensyarah kitab ini adalah:

Pertama, menjelaskan kalimat-kalimat dalam kitab at-Tas-hil dengan ungkapan yang sesuai, tidak terlalu panjang dan membosankan namun tidak juga terlalu singkat. Beliau menyertakan dalil-dalil dalam setiap hukum yang ada dan memberi penjelasan pada dalil tersebut.

Kedua, mentakhrij hadits-hadits yang telah beliau sebutkan dalam syarah kitab ini, terutama hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Selain yang diriwayatkan oleh mereka berdua, Syaikh al-Fauzan mentakhrij haditshadits tersebut dalam salah satu kitab as-Sunan, beliau memilih kitab Sunan Imam Ahmad. Apabila tidak didapati pada tiga kitab tersebut, baru kemudian beliau mentakhrij dalam kitab lainnya. Tujuannya adalah untuk meringkas takhrij hadits sehingga tidak terlalu banyak keterangan yang membingungkan pembaca. Dan dalam sebagian pembahasan beliau menyandarkannya pada salah satu kitab beliau, Minhatu al-‘Alam fi Syarhi Bulughi al-Maram.

Ketiga, menyebutkan pendapatpendapat yang dinilai shahih dan rajih sesuai dengan kuat dan lemahnya dalil menurut para ulama. Sehingga pembaca akan sangat terbantu dengan keterangan ini.

Keempat, dalam banyak pembahasannya sengaja tidak beliau rujukkan pada sumber-sumber induk, agar tidak memperpanjang pembahasan dan memberatkan keterangan bagi pembaca. Beliau hanya membatasi pada pembahasan-pembahasan yang diperlukan saja.

Kitab Fiqhu ad-Dalil Syarhu at-Tashil dicetak dalam enam jilid, setelah dilakukan beberapa revisi maka cetakan kedua dan seterusnya berubah menjadi lima jilid. Tentunya apa yang dituliskan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan dalam kitab ini mengikuti apa yang ada dalam dalam kitab at-Tas-hil.

Jilid pertama diawali dari bab thaharah, kemudian shalat dengan segala perinciaannya. Diteruskan pada jilid ke dua dengan pembahasan tentang shlalat yang masih tersisa di jilid pertama, kemudian seputar jenazah, zakat dan puasa. Pada jilid ke tiga membahas tentang haji dan umrah, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan jual beli. Pada jilid ke empat mencangkup pembahasan tentang ghashab, wasiat, pembagian harta waris, pembebasan budak dan seputar pernikahan. Adapun jilid terakhir membahas tentang nafaqah, jinayat, hudud, seputar makanan dan minuman, jihad, peradilan, kesaksian, dan diakhiri dengan pembahasan pengakuan. Jumlah halaman dalam satu jilid kuranglebih 500 halaman. Wallahu a’lam. []

 

(Dinukil dari mukaddimah kitab Fiqhu ad-Dalil Syarhu at-Tas-hil fi al-Fiqhi ‘ala Mazhabi al-Imam Ahmad bin Hanbal, Syaikh Shalih al-Fauzan, juz. 1, hal. 1-17, Maktabah ar-Rusyd, dengan perubahan dan tambahan)

 

oleh: Alif Hidayat

%d bloggers like this: