Fikih Hambali Masa Kini

SYARHUL MUMTI’ ‘ALA ZADIL MUSTAQNI’

Kitab :  SYARHUL MUMTI’ ‘ALA    ZADIL MUSTAQNI’

Karya :  Syaikh Shalih bin Utsaimin

Sebuah kitab ulama muta’akhir yang cukup terkenal di kalangan penuntut ilmu, Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’. Karya seorang ulama tersohor Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama yang diakui keilmuannya dan karya telah banyak diterbitkan serta menjadi rujukan umat Islam sampai saat ini. Kitab Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ adalah salah satu karya Syaikh Utsaimin dalam bidang fikih, kendati kitab ini adalah bentuk pengembangan dari kitab ulama lain, namun tetap mendapat sambutan hangat di kalangan ulama dan penuntut ilmu.

Sedikit mengulas asal-usul kitab ini, bermula dari Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah menyusun sebuah kitab berjudul al-Muqni’ fi Fiqhi al-Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani. Ibnu Qudamah menyusun kitab ini secara ringkas berdasarkan mazhab Hanbali, beliau menertibkan serta menyajikan dengan sederhana, tidak terlalu ringkas namun tidak juga terlalu panjang. Selain itu beliau menyertakan dalil-dalil pada pendapat yang ada beserta illatnya, sehingga kitab ini diberi judul dengan al-Muqni’ yang artinya memuaskan, dalam cetakan maktabah as-Suwadi Jeddah tahun 2000 M. kitab alMuqni’ dicetak dalam 1 jilid 541 halaman.

Kemudian kitab al-Muqni’ diringkas oleh Syaikh Abu an-Naja al-Hijawi dan diberi judul Mukhtashar al-Muqni’ atau Zadul Mustaqni’ fi Ikhtishari al-Muqni’. Syaikh Utsaimin mengomentari bahwa Zadul Mustaqni’ adalah kitab yang sedikit lafalnya namun banyak artinya. Dalam kitab ini hanya disebutkan pendapat paling rajih menurut mazhab Hanbali dan pendapat-pendapat yang masyhur, kendatipun disebutkan pendapat yang tidak rajih namun hanya sedikit saja. Kitab ini cukup disenangi oleh para penuntut ilmu khususnya mereka yang bermazhab Hanbali, bahkan mereka menghafalkannya. Dalam cetakan Dar alWathan li an-Nasyr kitab ini dicetak dalam 1 jilid 303 halaman.

Setelah itu Syaikh Utsaimin banyak mengambil manfaat dari kitab Zadul Mustaqni’ dengan mengajarkan kepada murid-muridnya, mengurai lafal demi lafal, menjabarkan makna yang terkandung dalam lafal tersebut, menyebutkan pendapat yang rajih beserta dalilnya. Para murid yang hadir berupaya menjaga apa yang beliau sampaikan dengan cara merekam atau mencatat apa yang beliau sampaikan, dari sinilah rekaman dan tulisan tentang kajian beliau pada kitab Zadul Mustaqni’ menyebar luas di kalangan masyarakat. Kemudian atas bantuan dua Syaikh, yaitu Dr. Sulaiman bin Abdullah Abu al-Khail dan Dr. Khalid bin Ali al-Musyaiqih, tersusunlah kitab Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’ dari rekaman dan catatan tersebut. Dua Syaikh ini mentakhrij hadits-hadits yang disampaikan oleh Syaikh Utsaimin, memberi nomor pada ayat-ayatnya, serta memberi beberapa penjelasan yang kiranya menurut mereka lebih baik dan sempurna, kemudian Syaikh Utsaimin menyetujui upaya mereka dengan beberapa tambahan dan pengurangan.

Kitab ini merupakan salah satu rujukan kitab fikih bermadzhab Hambali yang sangat masyhur dan populer di kalangan umat Islam khususnya para penuntut ilmu dan menjadi salah satu rujukan dalam kitab fikih mereka. Seperti pada kitab fikih lainnya, pada jilid pertama membahas tentang kitab thaharah yang meliputi pembahasan tentang air, bejana, istinja’, siwak, wudhu, tayammum, menghilangkan najis, mandi dan haidh. Jilid kedua membahas tentang kitab shalat yang meliputi pembahasan kewajiban shalat, adzan dan iqamah, serta syarat-syarat shalat. Jilid ketiga membahas tentang kitab shalat yang meliputi pembahasan sifat shalat dan sujud sahwi. Jilid keempat membahas tentang kitab shalat yang meliputi pembahasan shalat tathawwu’, waktu-waktu larangan shalat, shalat berjama’ah, dan seterusnya sampai jilid ke lima belas yang ditutup dengan pembahasan pengakuan.

Abu Humam Al-Barqawi menjelaskan, bahwa dalam beberapa pembahasan Syaikh Utsaimin tidak sependapat dengan ushul mazhab Hanbali dan memilih pendapat yang dinilai rajih menurut beliau.
Salah satu murid beliau bernama Murdhi bin Masyuh al-Unzi mengatakan, Syarhul Mumti’ bukan sekedar sajian kitab fikih yang dirumitkan dengan perbedaan pendapat dan dalil, namun di tengah-tengah pemaparan dalil dan perbedaan pendapat Syaikh menyampaikan banyak nasehat dan faidah-faidah yang bersifat pendidikan, sehingga siapa saja yang membaca dan menela’ah kitab tersebut akan merasakan nuansa fikih dan mendapatkan karakter pendidikan.

Metode penulisan kitab ini adalah dengan meletakkan lafal matan Zadul Mustaqni’ di bagian atas halaman kemudian syarah dan penjelasannya berada di bawahnya, sehingga pembaca dapat membedaan mana lafal matan dan mana lafal syarahnya. Selain itu disampaikan dengan bahasa dan istilah yang mudah difahami. Dalam cetakan Dar Ibnu Jauzi kitab Syarhul Mumti’ dicetak dalam 15 jilid dan setiap jilid sekitar 300 – 500 halaman. Wallahu a’lam. []

baca juga: Referensi Terlengkap Mazhab Maliki

Referensi:

Shalih bin Utsaimin, Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’, 1/5-6, Dar Ibnu Jauzi.

Murdhi bin Mansyuh, al-Fawa’id at-Tarbawiyyah min asy-Syarhi al-Mumti’, hal. 2, dalam bentuk makalah.

%d bloggers like this: