Fatwa-Fatwa Ulama Berkenaan Dengan Handphone

Fatwa-Fatwa Ulama Berkenaan Dengan Handphone

Nada Dering Al-Qur’an

Syaikh Sholeh al-Fauzan pernah ditanya tentang masalah menggunakan suara bacaan al-Qur’an sebagai nada dering HP, beliau menjawab:

لَا يَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ الْأَذْكَارِ وَلَا سِيْمَا الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ فِيْ الْجَوَالَاتِ بَدَلاً عَنِ الْمُنَبِّهِ الَّذِيْ يَتَحَرَّكُ عِنْدَ الْمُكَالَمَةِ، فَيَضَعُ مُنَبَّهًا لَيْسَ فِيْهِ نُغْمَةُ مُوْسِيْقِى، وَإِنَّمَا هُوَ مُنَبِّهٌ عَادِي، كَمُنَبِّهِ السَّاعَةِ مَثَلاً، أَوِ الْجَرَسِ الْخَفِيْفِ، وَأَمَّا وَضْعُ الْأَذْكَارِ وَالْقُرْآنِ وَالْأَذَانِ مَحَلُّ ذَلِكَ، فَهَذَا مِنَ التَّنَطُّعِ، وَمِنَ الْاِسْتِهَانَةِ بِالْقُرْآنِ وَبِهَذِهِ الْأَذْكَارِ.

Tidak diperbolehkan menggunakan suara dzikir apalagi al-Qur’anul Karim sebagai pengganti nada panggil yang biasa berbunyi ketika hendak berbicara. Hendaknya menggunakan nada panggil yang bukan musik, tapi nada panggil biasa, seperti suara jam, atau suara bel yang pelan. Menggunakan suara dzikir, bacaan al-Qur’an, atau adzan sebagai nada panggil (nada dering) termasuk sikap berlebih-lebihan dan meremehkan al-Qur’an dan dzikir. (Mauqi’ul Islam; as-Su’al wal Jawab, Muhammad Shalih al-Munajjid, 7/ 153).

Nada Dering Musik

Lembaga Fatwa Saudi Arabia ditanya tentang hukum mengganti nada dering handphone dengan nada dering musik, kemudian mengeluarkan fatwa:

لَا يَجُوْزُ اسْتِعْمَالُ النَّغْمَاتِ الْمُوْسِيْقِيَّةِ فِيْ الْهَوَاتِفِ أَوْ غَيْرِهَا مِنْ الْأَجْهِزَةِ لِأَنَّ اسْتِمَاعَ الْآلَاتِ الْمُوْسِيْقِيَّةِ مُحَرَّمٌ كَمَا دَلَّتْ عَلَيْهِ الْأَدِلَّةُ الشَّرْعِيَّةُ وَيَسْتَغْنَى عَنْهَا بِاسْتِعْمَالِ الْجَرَسِ الْعَادِي.

Tidak diperbolehkan menggunakan nada dering musik dari handphone atau alat elektronik lainnya, karena mendengarkan alat-alat musik diharamkan berdasarkan dalil-dalil syar’i. Hendaknya menghindarinya dengan menggunakan bunyi bel biasa. (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyah wal Ifta’, 26/ 261).

Membawa HP ke Kamar Mandi

Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid ketika ditanya tentang hukum membawa HP yang didalamnya terdapat aplikasi al-Qur’an ke dalam kamar mandi, beliau menjawab:

لَا يُحْرَمُ إِدْخَالُ هَذِهِ الْجَوَّالَاتِ إِلى الْخَلَاءِ لِأَنَّهَا لَيْسَ لَهَا حُكْمُ الْمُصْحَفِ، وَلَوْ بَعْدَ تسجيلِ الْقُرْآنِ دَاخِلُهَا، لِأَنَّهُ صَوْتُ دَاخِلِيْ مُخَفِيٌّ وَلَيْسَ بِكِتَابَةِ ظَاهِرَةٌ.

Tidak diharamkan membawa masuk HP (yang di dalamnya terdapat aplikasi al-Qur’an) ke dalam kamar mandi, karena ia tidak dihukumi sebagai Mushaf, meskipun di dalamnya terdapat rekaman tilawan al-Qur’an, karena ia hanya suara yang tersimpan dalam HP (file MP3) dan tulisan al-Quran juga tidak nampak. (Mauqi’ul Islam; as-Su’al wal Jawab, Muhammad Shalih al-Munajjid, 3/ 292).

baca juga: Pentingnya Fatwa dan Kehati-hatian Dalam Berfatwa

Membatalkan Shalat untuk Mematikan HP

أَنَّهُ لَا يَجُوْزُ قَطْعُ الصَّلَاةِ الْمَفْرُوْضَةِ لِأَجْلِ إِغْلَاقِ الْهَاتِفِ الْمَحْمُوْلِ إِذْ يُمْكِنُ لِلْمُصَلِّي أَنْ يَغْلِقَ الْهَاتِفَ الْمَحْمَوْلَ أَوْ عَلَى أَقَلِّ تَقْدِيْرُ أَنْ يُسَكِّتَ رَنِيْنَ الْهَاتِفِ بِحَرَكَةٍ يَسِيْرَةٍ فِيْ أَثْنَاءِ الصَّلَاةِ، وَلَا يُؤْثِرُ ذَلِكَ فِيْ صِحَةِ الصَّلَاةِ. وَعَلَى أَصْحَابِ الْهَوَاتِفِ الْمَحْمُوْلَةِ أَنْ يَتَّقُوْا اللهَ وَيَحْرُصُوْا عَلَى إِغْلَاقِ هَوَاتِفِهِمْ قَبْلَ الدُّخُوْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ حَتَّى لَا يُؤْذُوْا إِخْوَانَهُمْ الْمُصَلِّيْنَ.

Tidak diperbolehkan memutus (membatalkan) shalat fardhu dengan tujuan mematikan HP, karena memungkinkan bagi orang yang shalat untuk mematikan HP atau minimal mematikan suara HP dengan gerakan ringan di dipertengahan shalat, hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Bagi pemilik HP, hendaknya bertakwa kepada Allah dan selalu mematikan HP sebelum masuk masjid sehingga tidak mengganggu shalat orang lain.  (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, Abdullah Fakih, 4/ 8740).

Menyuruh Makmum Mematikan HP

فَإِنَّ تَنْبِيْهَ الْمُصَلِّيْنَ عَلَى إِغْلَاقِ الْهَوَاتِفِ يُعْتَبَرُ مِنَ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالدَّلَالَةِ عَلَى الْخَيْرِ، وَهَذَا مِنْ وَظَائِفِ الْإِمَامِ.

Memperingatkan makmum untuk mematikan HP, merupakan bentuk amar ma’ruf dan mengajak kepada kebaikan, hal ini juga merupakan bagian dari tugas imam. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, Abdullah Fakih, 11/ 10136).

Membeli HP Curian.

فَإِذَا عَلِمْتَ يَقِيْناً أَوْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّكَ أَنَّ هَذِهِ الْأَجْهِزَةَ مَسْرُوْقَةٌ فَلَا يَجُوْزُ لَكَ شِرَاؤُهَا. أَمَا إِذَا لَمْ تَكُنْ مُتَيَقِّناً مِنْ ذَلِكَ أَوْ لَمْ يَغْلِبْ عَلَى ظَنِّكَ أَنَّهَا مَسْرُوْقَةٌ فَلَا مَانِعُ مِنْ شِرَائِهَا.

Jika Anda yakin atau menurut dugaan kuat Anda, barang tersebut adalah curian, maka Anda tidak boleh membelinya. Akan tetapi, jika Anda tidak yakin atau dugaan Anda tidak kuat, bahwa barang tersebut adalah barang curian, maka tidak dilarang untuk membelinya. (Fatawa asy-Syabakah al-Islamiyah, Abdullah Fakih, 8/ 2317).

 

Oleh: Luthfi Fathani

 

 

%d bloggers like this: