Fardhu Wudhu

Fardhu Wudhu

فَصْلٌ (فِيْ فُرُوْضِ الْوُضُوْءِ وَ سُنَنِهِ): وَفُرُوْضُ الْوُضُوْءِ سِتَّةُ أَشْيَاءَ، النِّيَّةُ عِنْدَ غَسْلِ الْوَجْهِ، وَغَسْلُ الْوَجْهِ…

“Pasal, fardhu wudhu dan sunnah-sunnahnya: Fardhu wudhu ada enam, yaitu: niat ketika mencuci wajah, mencuci wajah,…”

Al-Wudhu’ (berwudhu), dengan mendhamahkan huruf waw, artinya adalah menggunakan air untuk membasuh anggota tubuh yang telah ditentukan. Sedangkan kata al-Wadhu’, memfathahkan huruf waw artinya adalah air yang digunakan untuk berwudhu.

Adapun secara syar’i, artinya adalah suatu amalan yang dikhususkan yang diawali dengan niat. Ada ulama yang berpendapat bahwa wudhu adalah amalan yang bersifat ta’abbudi. Sebab, pengertiannya tidak bisa dinalar, karena dalam wudhu ada bagian-bagian yang cukup dibasuh bukan dibersihkan. Namun, pendapat ini lemah, karena ibadah shalat adalah sarana untuk menghadap dan mendekatkan diri kepada Allah, oleh karena itulah diperintahkan untuk bersuci. Adapun masalah membasuh kepala maka itu merupakan bagian yang dikhususkan, karena pada umumnya kepala adalah bagian yang tertutupi. (Syamsuddin Muhammad asy-Syarbini, al-Iqna’, hal. 117).

Wudhu disyari’atkan sejak awal mula turunnya Islam bersamaan dengan diwajibkannya shalat di Mekah jauh sebelum beliau diisra’kan ke langit. Kewajiban wudhu didasarkan pada nash al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’ para ulama.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (QS. al-Maidah: 6).

Di dalam haditsnya, Rasulullah bersabda, “Tidak ada (tidak sah) shalat kecuali dengan wudhu.” (HR. Ahmad). Dan para ulama seluruhnya telah berijma’ bahwa wudhu disyariatkan bagi orang yang akan mengerjakan shalat.

Hukum wudhu ada yang wajib dan ada yang sunnah. Para ulama telah membuat batasan dan klasifikasi hukum wudhu tersebut. Di antara hukum wudhu yang wajib adalah sebelum melakukan shalat dan sebelum melakukan thawaf. Sedangkan hukum wudhu yang sunnah, ketika seseorang ingin mengulangi shalatnya, ketika hendak tidur, ketika marah, sebelum adzan atau iqamah, dan lain sebagainya.

Adapun fardhu wudhu ada enam, yaitu niat ketika mencuci wajah, mencuci wajah, mencuci kedua tangan sampai kedua sikunya, mengusap sebagian kepala, mencuci kedua kaki sampai kedua mata kakinya, dan tertib sebagaimana yang telah disebutkan dari awal.

Tidak Sah Tanpa Niat

Bersuci dari hadats dengan berwudhu, mandi, dan tayamum tidak sah kecuali dengan niat. Berdasarkan sabda Rasulullah, “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.” Niat yang wajib adalah niat dalam hati, tidak wajib mengucapkannya dengan lisan. Meskipun sebagian ulama berpendapat wajibnya melafalkan niat dalam wudhu sebagaimana wajibnya melafalkan dalam shalat. Namun pendapat ini dilemahkan oleh Imam An-Nawâwi rahimahullah.

Berkenaan dengan waktu niat wudhu, dalam kitab al-Majmu’ (1/360) disebutkan bahwa lebih afdhal berniat di awal wudhu dan menjaganya sampai selesai wudhu. Akan tetapi, juga diperbolehkan berniat saat mencuci wajah. Jika berniat saat mencuci telapak tangan, kemudian berkumur-kumur, istinsyaq, dan setelah itu niatnya hilang sebelum mencuci wajah maka dalam hal ini para ulama berselisih pendapat. Jumhur ulama berpendapat bahwa wudhunya tidak sah.

Niat bersuci untuk melaksanakan shalat atau bersuci untuk menghilangkan hadats. Dalam kitab at-Tanbih disebutkan bahwa sendainya niat bersuci dan tidak diniatkankan untuk menghilangkan hadats, maka itu tidak diperbolehkan. Alasannya, karena bersuci itu adakalanya dari hadats atau najis. Jadi harus diperjelas, bersuci untuk hadats atau najis. Menurut pendapat yang shahih dan telah di-tahqiq (dikaji ulang) bahwa diperbolehkan jika seseorang hanya niat berwudhu saja tanpa dikhususkan untuk ini dan dan itu. (Taqiyuddin al-Hushni, Kifayatul Ahyar, hlm. 36).

baca juga: Sunnah Wudhu

Menurut pendapat yang shahih, niat diwajibkan ketika seseorang ingin bersuci dari hadats dan tidak diwajibkan ketika ingin bersuci dari najis. Sebab, membersihkan najis cukup dengan dicuci. Berbeda dengan hadats, membersihkannya adalah suatu ibadah, dan membutuhkan niat. (Taqiyuddin al-Hushni, Kifayatul Ahyar, hlm. 35-36).

Membasuh Muka

Adapun fardhu kedua adalah membasuh muka. Berdasarkan firman Allah, “Maka basuhlah mukamu.” (QS. al-Maidah: 6).

Batas muka yaitu tempat yang memanjang dari tumbuhnya rambut sampai dagu. Semuanya harus terkena air, termasuk ujung lubang hidung dan ujung kedua mata. Bagi orang yang memiliki kumis atau jenggot tebal sehingga tidak kelihatan kulitnya maka disunnahkan untuk menyela-nyela dengan tangan yang dibasahi dengan air hingga basah. Apabila jenggotnya tipis maka wajib dibasuh dengan air sampai kena kulitnya. (Abu Abdillah al-Ghazi, Fathu al-Qarib, hlm. 23).

%d bloggers like this: