Etika Utang Piutang

Etika Utang Piutang

Kebutuhan setiap insan beraneka ragam. Terkadang dan bahkan tidak jarang, uluran tangan dari sesamanya diperlukan. Diantaranya adalah berupa hutang. Hal seperti ini dalam fikih islam disebut dengan al-qardhu.

DEFINISI AL-QARDH

Al-qardhu secara etimologi adalah pecahan dari kata kerja qa-ra-dha yang bermakna al-Qath’u, yang berarti potongan. Maksudnya adalah harta yang diserahkan kepada al-Muqtaridh (kepada orang yang berhutang), sebab merupakan potongan dari harta al-Muqrid (orang yang memberikan hutang) (Abul Husain ar-Razi, Mu’jam Maqayis Lughah, tahqiq: Abdussalam Muhammad Harun, (Dar Fikr, 1399 H), 5/71).

Sedangkan secara terminologis, ulama empat madzhab memberi makna yang tidak jauh berbeda. Maknanya adalah suatu transaksi khusus dengan menyerahkan harta sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya, dan akan dikembalikan (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya (Ibnu Najar al-Hambali, Muntaha al-Iradat, tahqiq: Abdullah at-Turki, (Muassasah Risalah, cet-1, 1419 H), 2/379)

Sebagai ilustrasi, yaitu dengan memberikan sesuatu yang menjadi hak milik al-Muqridh kepada al-Muqtaridh yang dikembalikan di kemudian hari dengan jumlah yang sama. Jika peminjam diberi pinjaman Rp. 2.000.000 (dua juta rupiah) maka al-muqtaridh akan mengembalikan uang sejumlah dua juta juga.

Jumhur ulama selain madzhab Hanafi, berpendapat bolehnya transaksi alqardh pada barang atau uang. Dan tidak diperbolehkan al-qardh pada manfaat kecuali menurut Ibnu Taimiyah. Seperti menempati rumah, membantu panen di sawah dan semisalnya. Sebab akan sulit mengukur kadar manfaat yang harus dilakukan sebagai bentuk pengembalian. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi al-Fiqh al-Islami, (Damaskus: Dar al-Fikr, Cet-2, 1427 H), 2/113)

HUKUM AL-QARDH

Hukum al-Qardh adalah Sunnah bagi pihak al-Muqridh dan mubah bagi alMuqtaridh. Berdasarkan al-Quran, Sunnah dan Ijma. Disebutkan dalam firman Allah SWT yang artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (Al-Baqarah: 245) Dan ayat-ayat lainnya yang semisal.

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa siapapun yang meminjamkan hartanya untuk kebaikan di jalan Allah maka Allah SWT akan memberikan balasan yang berlipat ganda. Hal ini menunjukkan disyariatkannya al-Qardh (Dari tulisan Dr. Shalah Abdul Majid berjudul al-Qardh al-Hasan wa Tadahwuru alQimah, yang dimuat Majalah al-Ilmiyah, alAzhar, Kairo Tahun 2007/2008).

Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat dari Abu Rafi’ bahwasanya Rasulullah SAW memerintahkannya untuk membayar unta muda yang dipinjamnya dari seorang laki-laki. Lalu Abu Rafi’ kembali karena tidak mendapatkan unta muda kecuali unta yang sudah dewasa, maka Nabi SAW bersabda

أَعْطِهِ إِيَّاهُ، إِنَّ خِيَارَ النَّاسِ أَحْسَنُهُمْ قَضَاءً

“Beliau bersabda: “Berikanlah kepadanya, sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutang.” (HR. Muslim, No: 1600)

Beliau n juga bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً

“Setiap muslim yang memberikan pinjaman kepada sesamanya dua kali, maka dia itu seperti orang yang bersedekah satu kali.” (HR. Ibnu Majah, No: 2430).

Sementara dari Ijma’, para ulama kaum muslimin telah berijma’ tentang disyariatkannya al-Qardh (Abul Hasan Ibnu al-Qathan, al-Iqna’ fi Masail al-Ijma’, Tahqiq: Hasan Fauzi ash-Sha’idi, (Al-Faruq al-Haditsah, cet-1, 1424 H), 2/196).

Berpotensi Riba

Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amr, Rasulullah SAW melarang menggabungkan antara jual beli dan hutang. Sebab diantara perkara yang berpotensi menimbulkan riba adalah menggabungkan jual beli dan hutang (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, Tahqiq: Abdurahman bin Muhammad, (Majma’ al-Mulk, 1416 H), 28/73). Sabda tersebut berbunyi,

لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ

Tidak halal menggabungkan utang dengan jual beli” (HR. Ahmad 6671, Abu Daud 3506, Turmudzi 1279).

Disisi lain terdapat suatu kaidah yang berbunyi,

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Setiap pinjaman yang menghasilkan manfaat adalah riba.” (Majmu’ Fatawa, 29/533)

Kaidah di atas berasal dari hadits yang lemah sanadnya. Namun, para ulama bersepakat menerimanya karena sesuai dengan kandungan ayat dan hadits-hadits larangan yang bermakna adanya tambahan pada pinjaman (Abdullah bin Muhammad al-Umrani, Al-Manfa’ah fil Qardhi, (Majmuah Syar’iyah Bi Masyraf ar-Rajihi, Cet-2, 1431 H), 114)

Dari pemaparan hadits dan kaidah di atas tampak bahwa transaksi al-qardh ini berpotensi menimbulkan riba. Ketika ada manfaat tambahan yang didapat oleh alMuqrid. Maka perlu kiranya memperhatikan rambu-rambu tertentu agar tidak terjatuh ke dalam riba.

RAMBU-RAMBU DALAM AL-QARDH

Di antara rambu-rambu yang perlu diperhatikan adalah, pertama, terkait naik turunnya mata uang. Hendaknya al-muqridh siap menerima resiko penurunan nilai mata uang. Sebab ulama sepakat, bahwa yang berhak diminta untuk dikembalikan adalah sebesar yang diberikan, tanpa memperhatikan kondisi penurunan nilai mata uang.

Dalam hal ini para ulama menyatakan bahwa al-muqtaridh wajib mengembalikan yang semisal, untuk barang yang memiliki padanan. Baik harganya turun maupun naik atau sesuai keadaan awal. Dan ini menjadi ijma para ulama. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, (versi Syamela), 2/244, 4/244 dan al-Iqna’ fi Masail al-Ijma’, 2/196)).

Kedua, boleh mengembalikan al-Qardh dalam bentuk yang lain, misal uang rupiah dikembalikan dalam bentuk dollar, atau semacamnya dengan syarat tidak disepakati sejak awal, sebab akan terjadi riba nasiah. Selanjutnya standar harga yang digunakan adalah di saat pengembalian, bukan di saat awal transaksi al-Qardh dilakukan.

Hal ini telah disepakati oleh Majma’ fiqih Islami, berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar RA. Beliau menjual unta di Baqi’ dengan dinar, dan mengambil pembayarannya dengan dirham. Kemudian ia menyampaikan itu kepada Nabi SAW, dan jawab beliau,

لَا بَأْسَ أَنْ تَأْخُذَ بِسِعْرِ يَوْمِهَا مَا لَمْ تَفْتَرِقَا، وَبَيْنَكُمَا شَيْءٌ

Tidak masalah kamu mengambil dengan harga hari pembayaran, selama kalian tidak berpisah, sementara masih ada urusan jual beli yang belum selesai.” (HR. Nasai, No: 4589). (Majalah Majma’ Fiqh Islami, Vol. 8, Hal 1744)

Ketiga, boleh memberikan pemberian berupa hadiah. Dengan ketentuan, tidak disyaratkan dan disepakati sejak awal, tidak dijanjikan dan tidak menjadi kebiasan masyarakat setempat. Kecuali hal tersebut telah menjadi kebiasaan antara al-Muqrid dan al-Muqtaridh. (al-Wajiz, 114).

baca juga: Kompensasi Pembayaran Pelunasan Hutang Bolehkah?

 

Diantara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah Sabda Nabi SAW,

قوله صلى الله عليه وسلم: «إِذَا أَقْرَضَ أَحَدُكُمْ قَرْضًا ، فَأُهْدِيَ إِلَيْهِ طَبَقًا فَلا يَقْبَلْهُ ، أَوْ حَمَلَهُ عَلَى دَابَّةٍ فَلا يَرْكَبْهَا إِلا أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ قَبْلَ ذَلِكَ

Jika diantara kalian ada yang menghutangkan kepada orang lain, lalu yang berhutang memberinya hadiah atau layanan gratis berupa naik kendaraan, janganlah menaiki dan menerimanya, kecuali hal itu sudah biasa dilakukan sebelumnya.” (HR. Ibnu Majah 2432).

Wallahu A’lam Bishhowab.

 

%d bloggers like this: