Doa Dalam Sujud

Doa Dalam Sujud

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia
sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim)

TATACARA TURUN UNTUK BERSUJUD

Dalam permasalahan ini, para ahli fikih berbeda pendpat. Mereka terbagi menjadi dua pendapat. Pendapat mereka yaitu,

DOA DALAM SUJUD

Pendapat pertama, meletakkan kedua lutut terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangan, kemudian kening kemudian hidung. Ini adalah pendapat mayoritas ahlul ilmi, diantaranya ahlu ilmi dari madzhab Hanafi, Syafi’I dan Hambali , salah satu riwayat madzab Maliki, An-Nakha’I, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq, Muslim, Ibnu Mundzir, dll. Mereka berpendapat dianjurkan untuk mendahulukan kedua lutut dari kedua tangannya. Dalil-dalil yang mereka gunakan diantaranya:

 

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ

“Aku pernah melihat Nabi n ketika sujud meletakkan kedua lutut beliau sebelum kedua tangannya.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, at-Tirmidzi, dan beliau menyatakannya hasan)

كُنَّا نَضَعُ الْيَدَيْنِ قَبْلَ الرُّكْبَتَيْنِ، فَأُمِرْنَا بِالرُّكْبَتَيْنِ قَبْلَ الْيَدَيْنِ

“Kami meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, kemudian kami diperintahkan untuk mendahulukan kedua lutut sebelum (meletakkan) kedua tangan”. (HR. Huzaimah dan Baihaqi)

Pendapat kedua, meletakkan kedua telapak tangan terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua lutut. Ini adalah pendapat madzhab Maliki, Imam Al-Auza’i dan salah satu riwayat dai Imam Ahmad. Diantara dalil yang mendasari pendapat ini adalah hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْبَعِيرُ، وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian sujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, akan tetapi hendaknya ia meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’I dan ad-Darimi)

Atsar dari salah satu sahabat, Nafi’ berkata, “bahwasanya Ibnu ‘Umar meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya”. (HR. Bukhari)

(lihat: al-Muasu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 24/ 205-206, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 1/ 112)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Shalat dengan mendahulukan dua lutut terlebih dahulu atau dua telapak tangan (ketika turun sujud), semuanya diperbolehkan menurut kesepakatan ulama. Seseorang boleh meletakkan kedua lututnya terlebih dahulu sebelum kedua tangannya, atau juga boleh meletakkan kedua telapak tangannya, baru kedua lututnya. Shalatnya tetap sah dalam dua keadaan yang disebutkan menurut kesepakatan ulama. (Majmu’ Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harrani, 22/ 449)

Syaikh Utsaimin berpendapat bahwa yang benar adalah lutut terlebih dahulu dan kedua tangan dilarang mendahului lutut. Namun, beliau menyatakan tidak suka apabila masalah seperti ini menjadi ajang perdebatan, permusuhan, kebencian, menyesatkan pihak lain, dan yang semisalnya, karena ini adalah masalah ijtihadi yang seseorang diberi uzur dengannya. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 13/179)

 

MEMANJANGKAN SUJUD UNTUK BERDOA

Tidak diragunakan lagi, bahwa salah tempat yang mustajab untuk berdoa adalah ketika sujud dalam shalat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW :

 

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah do’a ketika itu.” (HR. Muslim)

Maka seyogyanya kita memperbanyak doa dalam sujud ketika shalat. Hal ini sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya,

أَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظَّمُوا فِيْهِ الرَّبَّ وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَلَكُمْ

“Adapun rukuk maka agungkanlah Rabb-mu, sedangkan ketika sujud bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a, niscaya segera dikabulkan untuk kalian”. (HR. Muslim)

Adapun orang yang memperpanjang sujud untuk berdoa hanya di sujud terakhir, maka hal ini tidak ada contoh dari Nabi SAW . syaikh Muhammad bin Utsaimin menjelaskan, “Memperpanjang sujud terakhir ketika shalat bukanlah termasuk sunnah. Karena yang disunnahkan adalah seseorang melakukan shalat antara ruku’, bangkit dari ruku’ (i’tidal), sujud dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam hadits Baro’ bin ‘Azib, ia berkata, “Aku pernah shalat bersama Nabi SAW. Aku mendapati bahwa berdiri, ruku’, sujud, duduk beliau sebelum salam dan berpaling, semuanya hampir sama (lamanya). ” Inilah yang afdhol. Akan tetapi ada tempat doa selain sujud yaitu setelah tasyahud (sebelum salam). Nabi SAW ketika mengajarkan ‘Abdullah bin Mas’ud tasyahud, beliau bersabda, “Kemudian setelah tasyahud, terserah padamu berdo’a dengan doa apa saja”. Maka berdo’alah ketika itu sedikit atau pun lama setelah tasyahud akhir sebelum salam. (Fatawa Nur ‘ala adDarbi, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 19/ 75. (Maktabah syamilah))

Berdoa di dalam sujud dengan bacaan al-Qur’an

Seperti telah kita pahami bersama bahwa Rasulullah SAW melarang kita membaca Al Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Diantara dalilnya,

Hadits Ibnu ‘Abbas , Rasulullah SAW bersabda,

وَإِنِّى نُهِيتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا فَأَمَّا الرُّكُوعُ فَعَظِّمُوا فِيهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ وَأَمَّا السُّجُودُ فَاجْتَهِدُوا فِى الدُّعَاءِ فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ

“Sesungguhnya aku dilarang untuk membaca al-Qur’an dalam keadaan ruku’ atau sujud. Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb Azza wa Jalla, sedangkan sujud, maka berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa, sehingga layak dikabulkan untukmu.” (HR. Muslim)

‘Ali bin Abi Tholib R.A mengatakan, “Rasulullah SAW melarangku untuk membaca (ayat Al Qur’an) ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, diperbolehkan bagi kita berdoa dengan doa yang bersumber dari Al Qur’an. Alasannya karena niatan ketika itu adalah bukan untuk tilawah Al Qur’an, namun untuk berdoa.

Salah seorang ulama Syafi’iyah, Az Zarkasyi R.M  menjelaskan, “yang dilarang adalah jika tujuannya adalah tilawah Al Qur’an (ketika sujud). Namun jika tujuannya adalah do’a dan sanjungan pada Allah maka hal itu tidaklah mengapa, sebagaimana pula seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al Qur’an.” (Hawasyi ‘Ala Tuhfatul Muhtaj bi Syarhi al-Minhaj, Abdul Hamid asy-Syarwani dan Ahmad bin Qosim al-‘Ubadi, 2/ 61)

baca juga: Berdoa, Sesudah Dzikir, Selepas Shalat.

Para ulama yang duduk di Al Lajnah Ad Daimah, juga pernah ditanya dengan pertanyaan hukum berdoa dengan doa yang terdapat di dalam al-Qur’an. Mereka menjawab, “Seperti itu tidaklah mengapa jika ayat tersebut dibaca untuk tujuan berdoa, bukan bertujuan untuk membaca Al Qur’an.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah lil Buhutsi al-‘Ilmiyah wa Ifta’, 6/441)

Wallahu A’lam bishowab.

 

Luthfi Fathoni

 

# Doa Dalam Sujud # Doa Dalam Sujud # Doa Dalam Sujud #

%d bloggers like this: