Di Mana Ada Kesullitan di Situ Ada Kemudahan

Di Mana Ada Kesullitan di Situ Ada Kemudahan

إِذَا ضَاقَ الْأَمْرُ اتَّسَعَ وَإِذَا اتَّسَعَ ضَاقَ

Segala sesuatu, jika sempit maka menjadi luas, dan jika (kembali) luas maka menjadi sempit

Judul di atas barangkali tidak asing lagi di telinga kita. Biasanya kita mendengarnya ketika menyimak tema yang berkaitan dengan motivasi. Lantaran itulah, tidak mengherankan jika kesan pertama kita saat mendengarnya spontan mengarah ke sana. Suatu yang jarang kita sadari adalah bahwa kalimat tersebut memiliki makna yang luas, termasuk mencakup makna kaidah fikih.

MAKNA KAIDAH

Sebagaimana dimaklumi, Islam datang sebagai rahmat bagi umat manusia. Salah satu bentuk rahmat Islam tersebut adalah adanya keringanan (rukhshah) jika seorang hamba mengalami suatu kesulitan. Akan tetapi, karena kondisi kesulitan merupakan suatu pengecualian dan tidak terjadi terus menerus, ketika kesulitan tersebut hilang maka hukumnya kembali pada hukum asal. Inilah makna umum kaidah di atas.

Maksud Dhaqa (sempit) pada kaidah di atas memikili arti yang sama dengan masyaqqah (kesulitan). Adapun arti ittasa’a juga memiliki arti yang mirip dengan taisir (kemudahan) dan rukhshah (keringanan). Atas dasar inilah barangkali yang menyebabkan Syihabuddin al-Hamawi (Ghamzu ‘Uyunil Bashair, 1/273) dan as-Subki (al-Asybah wan Nazhair, 1/49) berpendapat bahwa kaidah ini semakna dengan kaidah al-Masyaqqatu Tajlibut Taisir.

DALIL KAIDAH

Sebagaimana lainnya, kaidah fikih di atas merupakan hasil kesimpulan fuqaha dari analisa dan perenungan mereka dalam berusaha memahami nash al-Qur`an dan Sunnah. Diantara dalil kaidah tersebut adalah firman Allah f,

Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qashar shalat, jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan lain yang belum shalat, lalu mereka shalat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan kerena hujan atau kerena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sunnguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.

Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu kamu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu meresa telah aman, maka lakasanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 101-103)

Dr. Muhammad Shidqi al-Burnu menjelaskan bahwa dua ayat pertama dari tiga ayat surat an-Nisa` di atas merupakan dalil dari kaidah idza dhaqal amru ittasa’a. Allah f memberikan keringanan pada dua ayat tersebut bagi orang beriman dalam kondisi takut yang mencekam, dengan membolehkan mereka untuk mengqashar shalat dan mengubah tata cara pelaksanaannya. Sementara pada ayat ketiga merupakan dalil dari kaidah berikutnya, wa idza ittasa’a dhaqa, yaitu Allah f memerintahkan untuk kembali melaksanakan shalat dengan tata cara dan pada waktu yang telah diajarkan pada kondisi normal (Al-Wajiz fi Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, 231).

Adapun dalil dari Sunnah yaitu hadits Ummul Mukminin ‘Aisyah x bahwa pada awal pensyariatan udhiyah Rasulullah n melarang para sahabat untuk menyimpan daging udhiyah lebih dari tiga hari. Beberapa tahun berselang, beberapa sahabat melapor kepada Rasulullah n bahwa banyak kaum muslimin yang menyimpan daging udhiyah lebih dari tiga hari. Rasulullah n lalu bersabda,

إِنَّمَا نَهَيْتُكُمْ مِنْ أَجْلِ الدَّافَّةِ الَّتِي دَفَّتْ، فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّقُوا

Saya dahulu melarang kalian (menyimpannya lebih dari tiga hari) karena Daffah (Arab Badui miskin yang memerlukan bekal) yang datang. Namun (sekarang) makan, simpan dan sedekahkanlah (daging udhiyah kalian)” (HR. Muslim, no. 1971).

Fuqaha menjelaskan bahwa alasan dilarang menyimpan daging udhiyah lebih dari tiga adalah karena banyaknya Arab Badui miskin membutuhkan bekal yang datang ke Madinah saat itu, sementara yang berudhiyah jumlahnya sangat sedikit. Namun ketika yang berudhiyah semakin banyak sehingga tercukupi bekal Arab Badui maka larangan tersebut dicabut kembali (lihat Syarh Ma’aniyil Atsar karya Abu Ja’far ath-Thahawi, 4/188)

Hadits tersebut juga menunjukkan bolehnya mengekang hak segelintir orang demi kemaslahatan orang yang lebih banyak (Al-Wajiz fi Idhahi Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, 232).

APLIKASI KAIDAH

  • Orang berhutang yang kesulitan melunasi hutangnya sementara tidak ada orang yang mau menjaminnya, maka ia diberikan masa tangguh dalam melunasi hutangnya. Demikian juga jika ia tidak bisa melunasi hutangnya sekaligus, maka ia diberikan keringanan untuk membayarnya dengan mencicil.
  • Seorang wanita yang kehilangan walinya saat melakukan safar –seperti hilang atau meninggal dunia-diperbolehkan untuk menyerahkan perwaliannya pada orang lain.
  • Diperbolehkan menerima kesaksian orang yang mendekati syarat saksi yang diterima –yaitu ‘adalah (kompeten)- ketika seorang saksi yang ‘adil sulit didapatkan atau jarang ditemukan. Ini karena tetap teguh perpegang pada ‘adalah seorang saksi dengan keberadaannya yang langka di tengah masyarakat akan menyebabkan kesulitan.
  • Diterimanya persaksian wanita atau anak-anak saat memberikan persaksian suatu peristiwa di tempat yang tidak dimasuki oleh laki-laki atau tempat yang hanya dikhususkan untuk wanita, seperti pemandian umum khusus wanita. Meski pada dasarnya persaksian wanita dan anak-anak tidak bisa diterima, namun dalam kondisi seperti itu, demi melindungi agar beberapa hak tidak diambil secara tidak benar, maka persaksian mereka diterima.
  • Diterimanya persaksian tenaga medis wanita (dokter atau bidan) yang berkaitan dengan proses atau peristiwa kelahiran seorang anak. Hal itu demi menjaga status anak tersebut dan nasab keturunannya.
  • Diperbolehkan bagi seorang istri yang ditinggal mati oleh suaminya untuk keluar mencari nafkah karena desakan ekonomi selama masa iddahnya.
  • Diperbolehkan membela diri atas orang yang ingin menikam, mencuri, atau merampok untuk menghindarkan diri dari kejahatan mereka, dan bukan dengan niat untuk membunuhnya. Jika hal itu tidak diperbolehkan maka akan menimbulkan kesulitan kesulitan yang sangat besar dan keadaan yang sangat sulit, serta menyebabkan penyerahan diri dan tunduk kepada kezaliman.

baca juga: Mensikapi “Kesulitan” Dalam Syari’at

REFERRENSI

Al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad. 1404 H/ 1983 M. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

Az-Zarqa, Ahmad bin Muhammad. 1409H/1989M. Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah. Damaskus: Darul Qalam.

Zaidan, Abdul Karim. 1422H/2001M. Al-Wajiz fi Syarhil Qawa’id al-Fiqhiyyah fisy Syari’ah al-Islamiyah. Beirut: Muassasah ar-Risalah.

 

 

Ali Shodiqin

%d bloggers like this: