Dibalik Hukum dan Perbuatan Allah

Di balik Hukum Allah

Ada hikmah di balik semua ciptaan Allah, begitu pula hukum dan perbuatan Allah juga mempunyai tujuan-tujuan mulia. Hikmah dari semua itu mencakup dua hal. Pertama, hikmah yang kembali pada Allah yaitu berupa cinta dan keridhaan-Nya. Kedua, hikmah yang kembali pada hamba-Nya, berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh makhluk. Hikmah ini lahir dari perintah atau larangan Allah serta dari makhluk ciptaan-Nya. [Ibnu Taimiyyah, Majmu’ al-Fatawa, 35/8-36].

Mahasuci Allah, lagi Maha Bijaksana. Dia tidak berbuat sesuatu dengan sia-sia, juga tidak menciptakan sesuatu tanpa makna atau hikmah. Semua kehendak-Nya memiliki maksud serta tujuan, di balik perbuatan dan kehendak-Nya ada hikmah yang mulia. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya dalam persoalan ini sangatlah banyak, dan Ibnu Qayyim telah menyebutkan sebagiannya. [Ibnu Qayyim, Syifa’ al-Ghalil, 400-434].

Hanya saja, dalam persoalan “maksud dan tujuan perbuatan Allah” ada perbedaan di antara kelompok Mu’tazilah, Asya’irah, dan mazhab Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Pendapat Mu’tazilah

Kelompok Mu’tazilah meyakini bahwa perbuatan Allah dan kehendak-Nya memiliki maksud serta tujuan, namun mereka berlebih-lebihan. Akibatnya, dalam persoalan ini mereka hanya menggunakan akal untuk memahami dan mengamalkannya.

Abdullah Asy-Syuhri menyebutkan pokok keyakinan kelompok Mu’tazilah dalam persoalan ini, di antaranya: al-Hikmah menurut mereka bukanlah sifat dari sifat-sifat Allah yang ada. Hikmah dari perbuatan dan kehendak Allah itu diciptakan, dan hanya dapat dirasakan oleh makhluk. [Abdullah Asy-Syuhri, Al-Hikmah wa at-Ta’lil fi Af’alillah, 1/44-46].

baca juga: Hukum Asal, Mengukuhkan dan Pemberlakuannya

Pendapat Asya’irah

Kelompok ini meniadakan maksud dan hikmah dari perbuatan atau kehendak Allah. Menurut mereka, perbuatan Allah tidak mempunyai maksud dan tujuan. Allah berkehendak sesuatu murni karena keinginan saja, tanpa diikuti dengan tujuan dan maksud. Jika dengan kehendak Allah tersebut terwujud hikmahnya maka itu hanyalah akhibat dari perbuatan Allah. Dalil mereka adalah dalil-dalil ‘aqli (yang berasal dari akal), bukan dalil yang disandarkan pada nash dari kitab Allah maupun sunnah Rasul-Nya (naqli). [Khalid al-Qasim, Multaqa al-Hadits; al-Hikmah wa at-Ta’lil fi Af’alillah, http://www.ahlalhdeeth.com/].

Perbedaannya dengan paham Mu’tazilah terletak pada al-ghayah (tujuan), jika paham Mu’tazilah meyakini adanya tujuan dan hikmah kendati itu hanya dirasakan makhluk saja, dan menurut paham Asya’irah perbuatan dan kehendak Allah tidaklah memiliki maksud tertentu, terlebih untuk sebuah kemaslahatan.

Pendapat Ahlu Sunnah

Ahlu Sunnah sepakat meyakini bahwa kehendak dan perbuatan Allah memiliki hikmah dan tujuan yang mulia. Tidak sebagaimana paham Asya’irah yang meniadakan maksud dan tujuan perbuatan Allah serta beranggapan bahwa perbuatan Allah hanya didasari keinginan dan kehendak saja, tanpa didasari tujuan dan hikmah-Nya.

Ahlu Sunnah juga berpendapat bahwa al-Hikmah adalah sifat Allah Ta’ala. Dengannya Allah mencintai dan meridhai. Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa hikmah dari perbuatan dan kehendak Allah adakalanya kembali kepada Allah, adakalanya pula kembali pada makluk-Nya. Berbeda dengan paham Mu’tazilah, bahwa hikmah itu tercipta dan terpisah dari Allah, tidak bisa kembali pada Allah dan hanya dapat dirasakan atau dimanfaatkan makluk-Nya saja. [Al-Mudkhili, Al-Hikmah wa at-Ta’lil, 38].

Secara logika, seorang yang berbuat sesuatu dengan baik maka tidaklah perbuatan itu sia-sia tanpa tujuan, namun sudah pasti memiliki tujuan dan hikmah yang tidak menyelisihi akal yang lurus.

Disebutkan dalam al-Qur’an, nash yang menunjukkan hikmah dan maksud perbuatan Allah Ta’ala, yaitu firman Allah, “Allah menganugerahkan al-hikmah (kepahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. al-Baqarah: 269).

Dan firman Allah, “Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. an-Nisa’: 165).

Dua firman Allah di atas menjadi dalil bahwa perbuatan dan kehendak Allah memiliki tujuan dan hikmah. Tidak berlebih-lebihan seperti kelompok Mu’tazilah juga tidak meniadakan seperti kelompok Asya’irah, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: