DHARAR Dicegah Sebelum Terjadi, Diminimalisir Setelah Terjadi

DHARAR Dicegah Sebelum Terjadi, Diminimalisir Setelah Terjadi

الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكاَن

“Suatu bahaya atau kerugian dicegah sebisa mungkin”

Kedukan Kaidah

Pada edisi sebelumnya, telah dibahas mengenai kaidah ‘la dharara wa la dhirara’ (tidak [boleh menimbulkan] bahaya dan tidak [boleh] membalas suatu bahaya dengan bahaya) yang merupakan kaidah induk mengenai usaha untuk mencegah atau menimalisir suatu bahaya atau kerugian. Kaidah yang dibahas pada kesempatan ini merupakan turunan dari kaidah sebelumnya, dan sekaligus penjelas dari kaidah tersebut.

Makna dan Penjelasan Kaidah

Syariat Islam tidak memberikan ruang untuk suatu hal yang berpotensi atau memiliki kemungkinan besar menimbulkan suatu bahaya atau kerugian. Oleh karena itu, Islam berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya suatu bahaya atau kerugian sebelum terjadi. Hal ini selaras dengan filosofi al-wiqayatu khairun minal ‘ilaj (mencegah lebih baik daripada mengobati).

Jika memungkinkan, Islam memerintahkan agar suatu hal yang berpotensi atau memiliki kemungkinan besar menimbulkan bahaya atau kerugian tersebut untuk dicegah secara total, tanpa menimbulkan bahaya atau kerugian apa pun setelahnya. Namun, jika tidak memungkinkan dicegah secara total, atau suatu bahaya atau kerugian tersebut telah terjadi, maka Islam memerintahkan untuk meminimalisir hal itu semaksimal mungkin, tanpa menimbulkan bahaya yang serupa, apalagi menimbulkan bahaya yang lebih besar.

Usaha meminimalisir tersebut dapat berupa mengganti  suatu barang dengan yang semisal, atau membayar harga barang yang dirusak atau dirugikan. Selain pada barang atau benda, usaha meminimalisir itu juga dapat diaplikasikan pada kerugian anggota tubuh atau nyawa manusia. Oleh karena itulah, terdapat syariat qishash bagi pelaku pembunuhan sengaja, atau pembayaran diyat kepada keluarga korban, jika mereka memberikan maaf kepada pelaku.

Contoh Aplikasi

  • Jihad disyariatkan dalam Islam bertujuan, di antaranya untuk mencegah kejahatan yang ditimbulkan oleh musuh Islam dan untuk memberikan perlawanan pada mereka, (Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah ma’a asy-Syarh al-Mujaz,31 dan Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah, hlm.80).
  • Tujuan syariat memberlakukan hudud, di antaranya adalah untuk menumpas berbagai bentuk kriminal dan agar memberikan efek jera bagi pelaku dan pelajaran bagi yang lain, serta memberikan rasa aman bagi masyarakat (ibid).
  • Diwajibkan mengembalikan barang milik orang lain yang diambil secara ghashab (tanpa izin, dengan kesewenang-wenangan, dan secara paksa dari pemiliknya), jika barang tadi masih dalam kondisi utuh dan tidak ada cacatnya. Jika barang tersebut sudah tidak utuh lagi, seperti telah habis dimakan atau telah disembelih, maka harus diganti dengan barang yang serupa, atau dibayar dengan harga (Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah, 207).
  • Disyariatkan untuk membekukan atau memblokir aset harta orang yang safih (bodoh) untuk mencegah timbulnya bahaya atau kerugian saat melakukan transaksi. (Al-Wajiz fi Idhah…, hlm.81).
  • Demikian juga disyariatkan untuk membekukan atau memblokir aset harta orang yang muflis (bangkrut atau kolaps) demi mencegah agar orang-orang yang memberikan hutang kepadanya tidak terlalu dirugikan.
  • Diperbolehkan untuk menahan atau memenjarakan seorang bapak yang tidak mau menafkahi anaknya yang mengalami keterbelakangan mental, demi mencegah bahaya yang akan menimpa si anak. (ibid).
  • Seorang pembeli yang menemukan cacat pada barang yang dibelinya, maka ia diperbolehkan untuk komplain kepada penjual untuk menukar barang yang cacat tersebut, atau meminta pengurangan harga karena cacat yang ada, jika kedua belah pihak rela. (Al-Wajiz fi Syarhil Qawa’idil Fiqhiyyah fisy-Syariah al-Islamiyyah,91).
  • Terlihatnya tempat yang sering digunakan orang wanita, seperti ruangan tengah, dapur, dan sumur, termasuk suatu yang sangat membahayakan. Untuk itu, seorang laki-laki tidak diperbolehkan membuat jendela atau membuat bangunan baru dengan jendela yang mengarah pada tempat yang sering digunakan oleh wanita tetangganya. Baik jendela tersebut menempel dengan tempat-tempat tersebut, maupun dipisahkan oleh sesuatu. (ibid).
  • Seseorang yang dalam keadaan sangat lapar dan haus, diperbolehkan untuk memakan buah-buahan atau makanan milik orang lain. Namun, ia harus mengganti atau membayar harga buah-buahan atau makanan tersebut. (Al-Wajiz fi Idhah…,82).

Syarat dan Pengecualian

Bolehnya mencegah atau meminimalisir suatu bahaya atau kerugian, tidak boleh menimbulkan bahaya yang serupa, apalagi mengakibatkan bahaya atau kerugian yang lebih besar. Oleh karena itulah, jika tindakan mencegahan atau meminimalisir tersebut mengakibatkan bahaya atau kerugian yang serupa atau lebih besar, maka syariat memerintahkan untuk membiarkan kondisi dharar tersebut.

Prinsip inilah yang kemudian dirumuskan oleh fuqaha menjadi kaidah:

الضَّرَرُ لاَ يُزَالُ بِمِثْلِهِ

Suatu dharar (bahaya/kerugian) tidak boleh dihilangkan dengan (dharar) yang serupa.”

Contohnya:

  • Seorang pembeli yang menemukan cacat pada barang yang dibelinya, sementara selama barang tersebut berada di tangannya juga mengalami cacat yang baru, maka pembeli tadi diperbolehkan untuk komplain kepada penjual untuk meminta pengurangan harga atas cacat yang lama. Namun, ia tidak diperbolehkan untuk mengembalikan barang tersebut kepada penjual dan meminta uangnya dikembalikan, karena adanya tambahan cacat baru pada barang tersebut dan mengembalikan uang pembeli secara utuh akan merugikan penjual. (Syarhul Qawa’id…,195).
  • Seseorang yang dalam keadaan terpaksa lantaran rasa lapar dan haus yang sangat, tidak diperbolehkan untuk memakan makanan atau bekal orang yang juga mengalami rasa lapar dan haus yang sangat. Sebab, dengan memakan makanan atau bekal orang tersebut, ia terhindar dari bahaya kematian namun menyebabkan orang lain meninggal dunia.
  • Jika seorang wanita mengalami kesulitan saat melahirkan, maka tidak boleh memprioritaskan janin dalam perutnya dengan mengorbankan nyawa ibunya. (ibid, 196).
  • Apabila dengan dibukanya suatu toko baru dan menyebabkan berkurangnya keuntungan toko lain disekitarnya, karena pembeli meninggalkan toko lama yang ada di sekitarnya, maka tidak diperbolehkan menutup toko baru tersebut, karena bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa. (Al-Wajiz fi Syarh…,90).
  • Jika sebuah apartemen runtuh atau dirobohkan, kemudian pemilik apartemen yang berada di tingkat atas ingin membangunnya kembali, sementara pemilik ditingkat bawahnya tidak mau, maka pemilik di tingkat bawah tidak boleh dipaksa untuk membangun apartemennya. Pemilik tingkat atas boleh mengeluarkan biaya untuk pembangunan tingkat bawah dan atas. Ia juga berhak melarang pemilik apartemen tingkat bawah untuk memanfaatkan bangunan tersebut hingga ia membayar biaya pembangunan tersebut, jika pembangunan tersebut atas izin darinya atau izin penguasa. (Syarhul Qawa’id…,195).
  • Seseorang yang dipaksa untuk membunuh orang lain dengan ancaman akan dibunuh jika tidak melakukannya, maka ia tidak diperbolehkan membunuh orang lain untuk menyelamatkan dirinya. (Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha, hlm.512)

Referensi:

Ad-Da’as, ‘Izzat ‘Ubaid. 1409H/1989M. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah ma’a asy-Syarh al-Mujaz. (Damaskus: Dar at-Tirmidzi).

Al-Burnu, Muhammad Shidqi bin Ahmad. Al-Wajiz fi Idhah Qawa’idil Fiqh al-Kulliyyah. (Beirut: Muassasah ar-Risalah).

As-Sadlan, Shalih bin Ghanim. 1417H. Al-Qawa’id al-Fiqhiyyah al-Kubra wa Ma Tafarra’a ‘Anha. (Riyadh: Dar Balansiyyah).

Az-Zarqa, Ahmad bin Muhammad. 1409H/1989M. Syarhul Qawa’id al-Fiqhiyyah. (Damaskus: Darul Qalam).

Zaidan, Abdul Karim. 1422H/2001M.Al-Wajiz fi Syarhil Qawa’idil Fiqhiyyah fisy-Syariah al-Islamiyyah. (Beirut: Muassasah ar-Risalah).

 

baca juga: MENAKAR KADAR DARURAT

Ali Shodiqin

%d bloggers like this: