Daur Ulang Air Najis

Daur Ulang Air Najis

Air merupakan kebutuhan utama manusia. Di jaman penjajahan Belanda, faktor utama agar sebuah daerah dapat ditetapkan sebagai pemukiman dan cikal bakal kota adalah ketersediaan air. Pada tahun 1800-1900, pemerintah Hindia Belanda membuat bendungan dan terusan sejauh 12 km untuk megalirkan sungai Elo ke pusat kota Magelang. Pengelolaan air minum sudah ada sejak jaman Belanda dengan nama perusahaan “Waterleiding”.

Di jaman dahulu, ketersediaan air bersih masih sangat mencukupi karena sungai dan sumur masih bersih.  Tapi di jaman ini, bahkan sumur pun banyak yang tercemar. Peningkatan jumlah penduduk dan industri mengakibatkan peningkatan kuantitas sampah dan pencemaran air. Ditambah ketidaksiplinan dalam membuang sampah menjadikan sumber-sumber tercemar.

Sebagai akibat dari menurunnya jumlah sumber air bersih, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagai distributor air bersih tidak bisa mengandalkan sumber mata air bersih saja. PDAM harus harus mendaur ulang air sungai sebagai sumber air. Di Surakarta misalnya, selain mengambil dari sumber mata air jernih dari Cokro Tulung, Klaten dan beberapa sumur, PDAM surakarta memanfaatkan air sungai Bengawan Solo untuk didaur ulang atau dibersihkan kembali. Dan seperti diketahui bahwa air sungai mengandung banyak limbah termasuk di dalamnya unsur-unsur najis.

Hanya saja, kita tidak perlu khawatir bahwa air daur ulang dari PDAM ini mengandung najis karena air tersebut sudah dibersihkan. Dalam Islam, cara membersihkan air yang terkena najis dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Pertama, dengan cara nazh, yaitu dengan menguras air yang terkena najis hingga tersisa air yang tidak najis. Cara mengidentifikasi bahwa air telah bersih dari najis dan zat lain hingga berstatus menyucikan adalah hilangnya warna, aroma, dan rasa dari najis dan benda-benda yang mempengaruhi kesucian air.

Kedua, cara mukatsarah, yaitu dengan menambah jumlah air telah berubah sifat aslinya (mutaghayir) atau yang najis (mutanajjis) dengan air suci hingga unsur najis hilang dan mencapai minimal dua qullah. Dua qullah menurut keterangan MUI yang didasarkan pada kajian DR. Wahbah Zuhaili, adalah 270 liter.

Dua qullah adalah syarat volume minimal air agar tetap disebut suci meski terkena najis atau tercampur zat lain. Syaratnya, najis atau zat lain tersebut tidak memengaruhi sifat asli dari air berupa bau, aroma dan rasa. Artinya, jika ada air yang volumenya kurang dari dua qullah lalu terkena najis, air itu menjadi najis meskipun warna, aroma, dan rasanya tidak berubah. Akan tetapi, jika lebih dari dua qullah dan terkena najis, air tetap berstatus suci dan mensucikan asalkan sifat asli air belum berubah; warna, aroma, dan rasa.

Contohnya, jika ada bak mandi yang hanya berisikan 50 liter air. Apabila air tersebut terkena percikan air kencing, setetes atau dua lima tetes, maka air itu menjadi najis meskipun najis tidak memberikan pengaruh apa pun pada warna, aroma, dan rasa. Akan tetapi, jika ada bak mandi berisikan 300 liter air lalu kemasukan air najis, air dalam bak mandi itu tetap suci selagi najis tidak mempengaruhi warna, rasa dan bau.

Rasulullah SAW bersabda, dari Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila air itu telah mencapai dua qullah, maka air itu tidak kotor (najis).” Dalam riwayat disebutkan dengan lafal, “Tidak dapat ternajiskan.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al-Hakim, dan Ibnu Hibban).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang air yang silih berganti binatang dan binatang buas berdatangan meminumnya? Jawab beliau, ”Apabila air itu telah mencapai dua qullah, maka tidak najis.” (HR. Abu Daud dan at-Tirmidzi)

Namun, Imam al Ghazali menyatakan, “Aku berharap madzhab Imam Syafi’i seperti madzhab Maliki, bahwasanya air -meskipun sedikit- tidak menjadi najis kecuali salah satu sifatnya berubah. Sebab, jika harus dua qullah atau lebih agar tidak menjadi najis, padahal air merupakan kebutuhan pokok, maka akan sangat memberatkan. Di samping itu, akan menimbulkan was-was.” (Ihya’, 1/113).

Ketiga, taghyir, yaitu dengan mengubah air yang terkontaminasi najis atau zat lain dengan alat bantu yangdapat mengembalikan sifat dasar air hingga menjadi suci dan mensucikan. Syaratnya, volume air lebih dari dua qullah dan alat bantu yang digunakan suci.

Dalam rilis fatwa MUI no. 02 tahun 2010 dinyatakan bahwa air daur ulang dari PDAM hukumnya suci dan mensucikan. Umat tak perlu khawatir karena unsur najis telah hilang. Adapun penambahan suatu zat pada air yang dapat menghilangkan warna, aroma, dan rasa najis seperti kapur atau debu, menurut beberapa mazhab dibolehkan dan tetap mensucikan. Beda halnya, jika hanya ditambah wewangian yang hanya mendominasi bau tapi tidak menghilangkannya, maka hukumnya tetap najis.

baca juga: Kesehatan di Balik Kesucian dan Kebersihan Air

Kita pun bisa melakukan penyaringan dan daur ulang air kotor agar menjadi suci dan mensucikan. Prinsipnya adalah hilang rasa, bau, dan warna dari zat-zat yang mengontaminasi air.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

%d bloggers like this: