Darurat Vaksin Meningitis Bagi Jamaah Haji

Darurat Vaksin Meningitis Bagi Jamaah Haji

Selain kemampuan finansial, faktor kesehatan fisik merupakan syarat yang harus dimiliki oleh calon jamaah haji. Selama ini pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon haji disuntik vaksin meningitis. Tujuannya untuk melindungi diri dari resiko tertular penyakit meningococcal meningitis. Ia adalah penyakit radang selaput otak dan selaput sumsum tulang yang terjadi secara akut dan cepat menular. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria meningitidis.

Gejala klinis penyakit ini adalah demam mendadak, nyeri kepala, mual, muntah, kaku kuduk, ketahanan fisik melemah, dan kemerahan di kulit. Pada keadaan lanjut, kesadaran menurun sampai koma serta terjadi perdarahan echymosis. Penyakit ini dinyatakan menular melalui batuk, bersin, serta nafas mulut.

 

PRO KONTRA VAKSIN MENINGITIS

Vaksin meningitis meningococcus tetravalen digunakan bagi jamaah haji dan umroh Indonesia sejak tahun 2002. Vaksin ini diproduksi oleh Amerika Serikat, Perancis, dan Belgia. Setelah diteliti MUI, pada kenyataannya vaksin meningitis yang diproduksi perusahaan Farmasi Belgia, Glaxo dari polisakarida (PS) dan membran protein bagian luar (outer membran protein, OMP ) dari bakteri Neisseria meningitidis dibuat dengan enzim tripsin babi yang dipakai sebagai katalisator dalam pembuatan vaksin. Begitu pula dengan jaringan ginjal kera, ginjal babi, dan janin hasil aborsi yang juga dimanfaatkan dalam pembuatan vaksin ini.

Anggota Majlis Pertimbangan Kesehatan dan Syara’ Departemen Kesehatan (MPKS Depkes RI), Prof Jurnalis Udin, membenarkan hampir semua produsen vaksin menggunakan enzim babi dalam proses pembuatannya. Apalagi, vaksin meningitis untuk jamaah haji dan umroh itu diproduksi oleh Eropa dan Amerika. Bagi industri Eropa dan Amerika, tidak ada istilah halal-haram dalam membuat vaksin.

HARAM MENJADI MUBAH KARENA DARURAT

Sejak 1994, MUI sudah berfatwa bahwa haram hukumnya memanfaatkan babi dan semua unsur atau bagiannya. Dasarnya adalah Allah mengharamkan daging babi dalam surat al-Baqarah: 173, al-Ma’idah: 3, al-An’am: 145, dan an-Nahl: 115.

Diperkuat dengan hadits dari Jabir ra bahwa Rasulullah SAW berwasiat, “Allah mengharamkan penjualan (dan pembelian) minuman keras, bangkai, babi, dan patung.” Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana dengan lemak babi? Lemak bagi dapat digunakan untuk mengecat perahu, menghaluskan kulit, dan sebagai minyak lampu?” Nabi menegaskan, “Tidak, ia tetap haram.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Pada Kamis, 16 Juli 2009, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa terkait penggunaan vaksin meningitis bagi jamaah haji Indonesia:

  1. Vaksin meningitis produksi Belgia yang digunakan oleh Departemen Kesehatan untuk jamaah haji Indonesia adalah haram karena mengandung enzim babi.
  2. Namun, karena pemerintah Arab Saudi mewajibkan setiap calon jamaah haji untuk disuntik vaksin meningitis, maka MUI memperbolehkan dengan hukum darurat bagi yang berhaji wajib atau pertama kali melakukan haji.
  3. Hukum darurat ini tidak berlaku bagi yang berhaji yang kedua dan seterusnya.
  4. Fatwa MUI ini sifatnya sementara sampai ditemukan vaksin yang halal atau sampai kebijakan pemerintah Arab Saudi yang mengharuskan vaksin meningitis ini dicabut.
  5. MUI merekomendasikan paling lambat tahun 2010, pemerintah RI sudah harus memperoleh vaksin yang halal atau memproduksi sendiri vaksin yang halal.

BATAS WAKTU DARURAT

Sebagaimana fatwa dan rekomendasi MUI sendiri, kebolehan vaksin meningitis dengan alasan darurat untuk saat ini perlu ditinjau ulang. Ada tiga alasan yang mendasarinya.

Pertama, kondisi darurat itu berlaku sementara, tidak boleh terus-menerus. Ada indikasi kuat pemerintah tidak serius mengupayakan alternatif yang halal. Direktur LPPOM MUI, Nadratuzzaman Hosen, pada Juni 2013 membenarkan bahwa kasus vaksin meningitis yang mengandung enzim babi ini kasus lama yang didiamkan pemerintah.

Kedua, alternatif vaksin meningitis yang halal telah ditemukan. Enzim tripsin babi dapat diganti dengan enzim sapi yang jelas kehalalannya. Saat ini Malaysia telah memberikan vaksin meningitis dari enzim sapi kepada jamaah hajinya. Harga tripsin sapi memang sedikit lebih mahal dibanding tripsin babi. Wakil Presiden perusahaan produk bio asal China Al-Amin Biotech, Ayub Su mengatakan, harga tripsin sapi 3000 dollar AS per kilo gram. Sedangkan tripsin babi lima persen lebih murah.

baca juga: Riba Dalam Dana Talangan Haji

Ketiga, efektifitas vaksin meningitis juga layak dipertanyakan. Vaksin ini hanya mengurangi resiko penyakit yang disebabkan oleh Serogroup A, C, Y dan W 135. Penerima suntikan masih berpeluang terkena penyakit sebanyak 30 persen pada seluruh kelompok usia.

Vaksin meningitis efektif hanya untuk 3 sampai 5 tahun. Ia mengandung temirosal (air raksa) sebagai bahan pengawet. Padahal bahan ini salah satu pemicu kanker (karsinogen) dan gangguan syaraf yang berdampak buruk pada sel-sel otak dan organ manusia. Wallahu a’lam bish-shawab. []

 

Fikih nazilah: aslam

%d bloggers like this: