Darah Haid di Luar Kebiasaan

Darah Haid di Luar Kebiasaan

Adakalanya seorang wanita mengalami peristiwa seputar darah haid yang tidak sesuai dengan kebiasaannya. Persoaalan inilah yang kerap menimbulkan kebingungan dan sering menjadi pertanyaan kaum hawa. Peristiwa-peistiwa seperti ini telah dibahas oleh para ulama baik salaf maupun khalaf. Diantaranya adalah:

        Haid Datang Tidak Teratur.

Seperti halnya seorang wanita yang terbiasa haid pada akhir bulan namun pada selanjutnya datang pada awal bulan. Sebagian ahlu ilmi berpendapat untuk menunggu sampai peristiwa itu terulang kembali sebanyak tiga kali, maka baru dapat disebut dengan darah haid. Namun jika tidak terulang kembali maka bukan darah haid.

Pendapat yang shahih adalah ia termasuk darah haid. Seperti wanita yang terbiasa haid di akhir bulan namun pada bulan kedua ia mendapati haid di awal bulan maka ia tidak boleh melaksanakan shalat dan puasa. Adapun sebaliknya, jika terbiasa haid di awal bulan namun ia mendapati haidnya di akhir bulan maka pendapat yang rajih adalah tetap dihitung haid.

Ahlu Ilmi berselisih pendapat tentang hal ini. Sebagian merajihkan bahwa kapan saja seorang wanita melihat darah haid maka ia sedang haid dan kapan ia melihat telah suci maka ia suci, baik melewati kebiasaan atau justru mendahuluinya. (Syaik Shaleh Utaimin, Syarhul Mumti’, 1/431).

        Warna Keruh dan Kuning Sebelum atau Setelah Haid.

Terkadang, seorang wanita mendapati warna kuning atau keruh selama satu sampai dua hari, setelah itu keluar darah haid. Atau mendapati warna keruh tersebut setelah darah haid berhenti. Dengan ini menimbulkan pertanyaan perihal warna tersebut, apakah dianggap sebagai haid atau bukan?

Persoalan warna kekuningan dan keruh sebelum haid, apabila terjadi pada waktu kebiasaannya, disertai dengan rasa nyeri seperti yang dirasakan ketika haid, kemudian disambung dengan keluarnya darah haid maka warna kekuningan dan keruh tersebut bagian dari darah haid. Seperti seorang wanita yang mendapati warna keruh satu atau dua hari, disertai dengan rasa nyeri haid, kemudian pada hari ketiga keluar darah haid maka tiga hari tersebut ia tengah haid. (http://islamqa.info).

Ini adalah pendapat yang paling rajih. Fukaha bermazhab Hanafi dan Hanbali mengatakan, “Kekuningan dan keruh yang didapati pada waktu kebiasaan haid termasuk dari haid.” Senada dengan fukaha bermazhab Maliki dan Syafi’i, mereka menuturkan, “Warna kekuningan dan keruh adalah haid secara mutlak.” Syaikh bin Bazz juga sependapat dengan ini, hanya saja beliau mensyaratkan al-ittashal (bersambungan) dan tidak mensyaratkan disertai rasa nyeri haid. Begitu pula merupakan pendapat Syaikh Utsaimin. (Syaikh Abu Umar Ad-Diyan, Mausu’ah Ahkamu Thaharah, 6/281-299).

(BACA JUGA : Darah Haid di Luar Kebiasaan (Bagian 2))

Perihal warna kekuningan dan keruh setelah keluarnya darah; sebelum suci, dijekaskan dalam sebuah riwayat Ummu ‘Alqamah, ia menuturkan, “Para wanita mengutus kepada ‘Aisyah dengan menunjukkan sepotong kapas yang terdapat warna kekuningan dari darah haid, mereka bertanya soal shalat. Maka ‘Aisyah berkata, ‘Janganlah kalian tergesa-gesa sampai kalian mendapati warna putih, yaitu suci dari haid seperti yang kalian inginkan’.” (Imam Malik, Al-Muwatha’, 130. Al-Albani, Irwa’ Al-Ghalil, 198).

Adapun warna kekuningan dan keruh setelah suci maka itu bukan bagian dari darah haid. Sebagaimana hadits Ummu ‘Athiyah, “Kami tidak menganggap warna keruh dan kekuningan setelah suci (dari haid).” (HR. Al-Bukhari: 320).

        Darah Haid Keluar Secara Teerputus-putus.

Peristiwa ini juga sering dialami oleh sebagian wanita, yaitu darah haid keluar secara terputus-putus. Sehari keluar dan hari selanjutnya tidak keluar. Dalam masalah ini ada dua keadaan, yaitu:

Pertama: jika kondisi seperti ini terjadi pada wanita setiap waktu maka darah itu adalah darah istihadhah. Berlaku baginya hukum mustahadhah.

Kedua: jika kondisi seperti ini tidak selalu terjadi pada wanita, namun terkadang datang dan ia masih mempunyai waktu suci yang tepat maka terkait hal ini para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kondisi ketika tidak keluar darah haid. Apakah termasuk masa suci atau haid?

Menurut mazhab Syafi’i, keadaan seperti di atas termasuk dalam hukum haid. Sebab dalam kondisi seperti itu tidak didapatkan lender putih, juga akan menyulitkan jika harus mandi dan lain sebagainya setiap dua hari. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah.

Berbeda dengan mazhab Hanbali, darah yang keluar adalah haid dan darah yang berhenti berarti suci. Kecuali jika jumlah masanya melampaui jumlah maksimal masa haid, maka darah yang melampaui itu adalah darah istihadhah.

Di dalam Al-Mughni dikatakan, “Jika berhentinya darah kurang dari sehari maka seyogyanya tidak dianggap sebagai keadaan suci.” Ini adalah pendapat yang rajih dan menengahi dua pendapat di atas. Yaitu, berhentinya darah yang kurang dari sehari bukan merupakan keadaan suci, kecuali jika didapati bukti yang menunjukkan kesuciannya. Seperti berhentinya darah pada kebiasaannya atau mendapatkan lender putih. (Syaikh Utsaimin, Darah Kebiasaan Wanita, 21-25).

 

 

%d bloggers like this: