Darah Haid di Luar Kebiasaan Wanita

Darah Haid di Luar Kebiasaan Wanita

(Bagian-2, habis)

Seorang wanita yang mengeluarkan darah haid setelah hari-hari kebiasaannya, meskipun hanya sehari, maka darah tersebut dapat dianggap sebagai darah haid pada dua keadaan, yaitu:

Pertama, apabila jarak antara hari pertama seorang wanita haid hingga hari ia mengeluarkan darah yang baru setelah suci, tidak lebih dari lima belas hari, maka darah tersebut adalah darah haid. Namun ulama mazhab Hambali mengharuskan terulang hingga tiga kali, sebab disebut kebiasaan jika terjadi berulang-ulang. Berbeda dengan pendapat ulama mazhab Syafi’i, mereka menyatakan bahwa satu kali saja sudah dianggap kebiasaan. Oleh karena itulah, darah tersebut termasuk darah haid.

Kedua, apabila jarak antara masa suci dan darah yang baru, lima belas hari atau lebih, maka itu darah haid. Dengan catatan, keluarnya dua darah tersebut (haid pertama dan haid kedua) selama satu hari atau lebih, untuk meyakinkan bahwa itu adalah darah haid.

Contohnya, seorang wanita haid selama 7 hari, kemudian suci selama 15 hari, setelah itu keluar darah selama sehari semalam, maka itu adalah darah haid. Sebab ia keluar setelah batas minimal suci (yaitu 15 hari menurut jumhur ulama) dan darah haidnya keluar selama sehari semalam (yaitu batas minimal haid). [Ibnu Qudamah, al-Mughni, 1/224].

baca juga: Darah Haid di Luar Kebiasaan (bagian I)

Wanita Hamil yang Haid

Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat. Ada yang berpendapat bahwa orang yang hamil tidak haid, jika ia mendapati darah yang keluar maka itu adalah darah rusak (kotor). Ini adalah pendapat pendapat jumhur Tabi’in seperti Sa’id bin Musayyib, Atha’, al-Hasan dan lainnya. Sedangkan Imam Malik, asy-Safi’i dan al-Laits, berpendapat bahwa mungkin saja seorang yang hamil itu haid, jika bertepatan pada hari-hari kebiasaannya.

Pendapat pertama berdalil dengan firman Allah Ta’ala, Perempuan-perempuan yang hamil, masa iddah mereka adalah sampai mereka melahirkan kandungannya.” (QS. ath-Thalaq: 4). Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang hamil tidak haid. Jika wanita hamil itu haid maka ‘iddahnya tiga kali haid, padahal ‘iddah tiga kali haid hanya untuk wanita yang diceraikan. Adapun ‘iddah bagi wanita yang hamil adalah melahirkan. [Tafsir Ibnu Katsir, 4/381].

Pendapat kedua berdalil bahwa haid adalah sebuah penyakit, kapan pun seorang wanita mendapatinya maka ia terikat dengan hukumnya. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan, “Apabila wanita hamil mendapati darah yang ia kenali, yaitu darah haid, maka dikembalikan kepada hukum asalnya.” [Fatwa Ibnu Taimiyyah, 19/239].

Adapun pendapat yang rajih, apabila wanita hamil mendapati darah yang bersifat terus-menerus, datang pada waktu dan bulannya, maka itu adalah darah haid. Dengan demikian, ia tidak boleh melaksanakan shalat dan ibadah lainnya yang dilarang pada waktu haid, kecuali darah yang keluar itu berbeda dengan darah yang biasa keluar saat ia haid. Keadaan seperti ini tidak ada kaitannya dengan ‘iddah, karena sifat kehamilan lebih kuat daripada alasan ‘iddah. [Syarhu al-Mumti’, 1/405].

Keluar Darah Setelah Haid Karena Pil KB

Pil KB (penunda kehamilan) yang dikonsumsi oleh seorang wanita terkadang menimbulkan kekacauan dan perubahan siklus haid serta mengakibatkan keluarnya darah secara terus-menerus. Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat, apakah darah tersebut termasuk darah haid atau bukan.

Syaikh Utsaimin memilih pendapat bahwa darah tambahan setelah masa haid yang disebabkan oleh pil adalah darah haid. Beliau mengatakan, “Di antara akibat buruk pil KB adalah menimbulkan kekacauan siklus keluarnya darah (haid) yang menjadi kebiasaan wanita, sehingga mengakibatkan keraguan dan kebingungan apakah itu darah haid atau bukan. Oleh karena itu, jika kebiasaan wanita tersebut haid selama 5 hari kemudian bertambah karena mengkomsumsi pil KB maka tambahan tesebut mengikuti asalnya. Artinya tambahan tersebut adalah haid selama tidak lebih dari 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka itu adalah darah istihadhah (kotor). Kemudian setelah itu dikembalikan pada kebiasaan pertama, yaitu 5 hari.” [Syaikh Utsaimin, Fatawa Nur ‘Ala Darbi, 1/123].

Yang Keluar Bukan Darah

Seorang wanita terkadang melihat cairan yang keluar dari kemaluannya hanya berupa cairan saja (bukan darah haid). Jika kondisi demikian itu terjadi di tengah masa haidnya, atau terus bersambung pada masa bersihnya, maka itu adalah haid. Akan tetapi, jika kondisi tersebut terjadi setelah masa sucinya, maka itu bukan haid. Keadaan seperti ini dihukumi sama dengan cairan kering dan keruh. [Abu Ubaidah Usamah bin Muhammad al-Jamal, al-Mu’minant al-Baqiyat ash-Shalihat, hlm. 41].

%d bloggers like this: