Cuci Darah Membatalkan Wudhu?

Cuci Darah Membatalkan Wudhu?

PENGERTIAN CUCI DARAH

Hemodialisis atau cuci darah adalah proses pembersihan darah dari zat-zat sampah atau racun, melalui proses penyaringan di luar tubuh, karena ginjal tidak mampu lagi membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh. Hemodialisis dilakukan pada pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis dan penyakit ginjal akut dalam kondisi tertentu.

Pada tubuh pasien dibuat jalur keluar-masuk darah buatan di antara pembuluh arteri dan vena melalui pembedahan. Lalu dengan selang darah dari fistula, darah dialirkan dan dipompa ke dalam sebuah ginjal buatan berupa mesin dialisis di luar tubuh.

Untuk mencegah pembekuan darah selama proses pencucian, maka diberikan obat antibeku yaitu Heparin. Sebenarnya proses pencucian darah dilakukan oleh tabung di luar mesin yang bernama dialiser. Di dalam dialiser terjadi proses pencucian, mirip dengan yang berlangsung di dalam ginjal.

Setelah proses penyaringan darah dalam dialiser selesai, maka akan didapatkan darah yang bersih. Darah itu kemudian akan dialirkan kembali ke dalam tubuh pasien.

Satu kali proses hemodialisis memerlukan waktu antara 3-4 jam. Pasien gagal ginjal kronis terkadang harus menjalani 2 – 3 kali proses hemodialisis dalam sepekan, selama sisa hidupnya.

Apakah Cuci Darah Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan fiqih yang kemudian muncul adalah, apakah darah yang dikeluarkan dari tubuh pasien, kemudian “dicuci”, dan dimasukkan kembali ke dalam tubuhnya tersebut membatalkan wudhu?

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama, berdasar perbedaan pendapat mereka tentang hukum darah yang keluar dari tubuh seseorang. (Badai’u ash-Shanai’, 1/224-238, Bidayatul Mujtahid, 1/40-42, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 2/62-65, dan Al-Mughni, 1/247-249)

MADZHAB HANAFI

Imam Abu Hanifah berpendapat semua darah yang keluar dari dalam tubuh, baik melalui jalan yang biasa (darah haidh, darah nifas, darah istihadhah, darah mimisan dari hidung) maupun jalan yang tidak biasa (bekam, luka peperangan, kecelakaan kendaraan) adalah najis dan membatalkan wudhu’.

Beliau berdalil dengan hadits dari Abu Umamah Al-Bahili bahwa Nabi SAW bersabda:

إِنَّمَا عَلَيْنَا الْوُضُوءُ فِيمَا يَخْرُجُ، وَلَيْسَ عَلَيْنَا فِيمَا يَدْخُلُ

Kita hanya wajib berwudhu dari sesuatu yang keluar dari tubuh kita, bukan dari sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kita.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir)

Juga hadits dari Tamim Ad-Dari bahwa Nabi SAW bersabda:

الْوُضُوءُ مِنْ كُلِّ دَمٍ سَائِلٍ

Wajib berwudhu dari setiap darah yang mengalir.” (HR. Ad-Daraquthni dan Ibnu ‘Ady)

MADZHAB HAMBALI

Imam Ahmad berpendapat jika darah yang keluar dari tubuh dari selain dubur dan kemaluan berjumlah banyak, maka wudhunya batal. Adapun jika darah yang keluar tidak banyak, maka wudhunya tidak batal.

Beliau berdalil dengan hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda:

لَيْسَ فِى الْقَطْرَةِ وَالْقَطْرَتَيْنِ مِنَ الدَّمِ وُضُوءٌ حَتَّى يَكُونَ دَمًا سَائِلاً

Setetes dan dua tetes darah itu tidak mewajibkan wudhu, sampai ia menjadi darah yang mengalir.” (HR. Ad-Dararquthni)

MADZHAB MALIKI DAN SYAFI’I

Imam Malik dan Syafi’i berpendapat darah yang keluar dari selain dubur dan kemaluan tidak membatalkan wudhu, baik jumlahnya banyak maupun sedikit.

AI-Baghawi berkata, “Ini adalah pendapat mayoritas sahabat dan tabi’in.”

Keduanya berdalil dengan hadits dari Miswar bin Makhramah bahwasanya pada pagi hari setelah Umar bin Khathab ditusuk oleh Abu Lu’luah Al-Majusi:

جَاءَ ابْنُ عَبَّاسٍ إِلَى عُمَرَ رضى الله عنهما حِينَ طُعِنَ فَقَالَ الصَّلاَةَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَقَالَ عُمَرُ إِنَّهُ لاَ حَظَّ فِى الإِسْلاَمِ لأَحَدٍ أَضَاعَ الصَّلاَةَ فَصَلَّى عُمَرُ وَجُرْحُهُ يَثْعَبُ دَمًا

Ibnu Abbas mendatangi (dan membangunkan) Umar bin Khathab (dari pingsannya) saat ia ditusuk. Ibnu Abbas berkata, ‘Laksanakanlah shalat Subuh, wahai amirul mukminin!’. Maka Umar menjawab, ‘Betul. Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang menelantarkan shalat’. Lalu Umar melaksanakan shalat Subuh sedangkan luka-lukanya mengucurkan darah. (HR. Malik, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Sa’ad, Ad-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan Ibnu ‘Asakir)

Juga hadits Jabir bin Abdullah Al-Anshari tentang kepulangan pasukan Islam dari perang Dzatur Riqa’. Saat itu seorang sahabat muhajirin dan seorang sahabat Anshar mendapat giliran jaga malam. Sahabat muhajirin tidur lebih dahulu, sedangkan sahabat Anshar mendapat jatah jaga awal malam. Sahabat Anshar melaksanakan shalat, lalu seorang musyrik datang dan mengetahuinya sebagai penjaga malam bagi pasukan Islam. Maka laki-laki musyrik itu memanahnya hingga mengenai tubuhnya. Sahabat Anshar itu mencabut anak panah tersebut dan melanjutkan shalatnya. Orang musyrik itu memanahnya lagi dengan dua anak panah. Sahabat Anshar itu mencabut kedua anak panah yang mengenai tubuhnya dan melanjutkan shalatnya sampai salam.

Selesai shalat, ia membangunkan sahabat muhajirin yang mendapat giliran kedua jaga malam. Mengetahui kalau kedua penjaga malam itu akan memburunya, orang musyrik itu segera kabur.

Saat mengetahui banyaknya darah yang mengalir pada tubuh sahabat Anshar, sahabat muhajirin bertanya, ‘Subhanallah, kenapa engkau tidak membangunkanku saat pertama kali engkau dipanah?’ (HR. Abu Daud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Ad-Daraquthni, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Nabi SAW ikut dalam rombongan pasukan tersebut, namun beliau tidak mengingkari perbuatan sahabat Anshar tersebut.

Dalil lainnya adalah praktek di zaman sahabat dan tabi’in. Mereka tetap melaksanakan shalat dalam peperangan mereka, walau luka-luka mereka mengalirkan darah. Hasan al-Bashri berkata tentang generasi sahabat dan tabi’in, “Kaum muslimin tetap melaksanakan shalat dengan luka-luka yang mereka alami.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

 

KAJIAN PENDAPAT

Pendapat Abu Hanifah adalah pendapat yang lemah karena kedua hadits yang mendasarinya adalah hadits lemah. Hadits Ath-Thabarani lemah karena di dalam sanadnya terdapat dua perawi lemah bernama Ubaidullah bin Zahr dan Ali bin Yazid.

Hadits Ad-Daraquthni lemah karena di dalam sanadnya ada dua perawi yang majhul yaitu Yazid bin Khalid dan Yazid bin Muhammad. Selain itu, sanadnya terputus karena perawi Umar bin Abdul Aziz tidak pernah bertemu dan mendengar hadits dari Tamim Ad-Dari.

Demikian pula pendapat Ahmad adalah pendapat yang lemah, karena sanad hadits yang ia pegangi memuat tiga perawi yang lemah; Abu Sahl Sufyan bin Ziyad, Hajjaj bin Nushair, dan Muhammad bin Fadhl bin Athiyah.

baca juga: Air Madzi Tidak Membatalkan Wudhu

Maka pendapat yang lebih kuat adalah pendapat Malik dan Syafi’i karena didasarkan kepada hadits-hadits yang shahih dan hasan serta praktek generasi sahabat.

An-Nawawi dan Syu’aib Al-Arnauth menyatakan sanad hadits Jabir bin Abdullah adalah hasan.

Al-Albani menyatakan sanad hadits Miswar bin Makhramah adalah shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim. [] Wallahu a’lam.

By: Abu Ammar

 

Referensi:

Abu Bakr bin Mas’ud al-Kasani, Badai’u ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 2, 1424 H.

Ibnu Rusyd al-Andalusi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 3, 1424 H.   

Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Jeddah: Maktabah al-Irsyad, t.t.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, cet. 3, 1417 H.

Khalid bin Ali al-Musyaiqih, Fiqh an-Nawazil fil Ibadat, t.p, cet. 1, 1426 H.

 

# Cuci Darah Membatalkan Wudhu? # Cuci Darah Membatalkan Wudhu? # Cuci Darah Membatalkan Wudhu? # Cuci Darah Membatalkan Wudhu? #

%d bloggers like this: