Cara Mundur dari Syirkah

Cara Mundur dari Syirkah

Ustadz, bersama dengan beberapa orang kawan saya mendirikan sebuah usaha toko retail. Berjalan tiga tahun, alhamdulillah usaha kami tidak pernah merugi. Kini saya ingin undur diri dari syirkah tersebut dan membuka usaha sendiri yang tidak ada sangkut pautnya dengan usaha yang kami rintis. Sudah menjadi kesepakatan, setiap tahun kami membagi keuntungan dengan menyisihkan 20% keuntungan sebagai laba ditahan. Saat saya undur diri, berhakkah saya atas bagian dari laba yang ditahan tersebut? (Ahmad—Solo)

 

BACA JUGA: Mudharabah, Bentuk Lain Dari Syirkah

 

Ketika beberapa orang memulai sebuah usaha secara syirkah dimana masing-masing mengeluarkan modal yang sama, maka ketika modal itu diserahkan dan digunakan untuk kepentingan usaha tersebut, nilainya langsung berubah. Mungkin ada dipakai untuk menyewa tanah atau bangunan, ada yang dipakai untuk membeli peralatan yang dibutuhkan—semacam lemari, rak, alat ukur, alat timbang, dan lain sebagainya—dan ada pula yang dibelikan bahan baku atau barang-barang yang hendak diperjualbelikan.

Cara terbaik untuk mengidentifikasi kepemilikan harta dalam suatu usaha seperti tersebut di atas adalah dengan mewujudkannya sebagai saham sekian persen. Dan apabila salah seorang dari mereka yang bersyirkah mundur, ia bisa menjual sahamnya kepada teman-teman syirkahnya. Dia bisa menjualnya dengan harga yang lebih tinggi, lebih rendah, atau sama dengan nilai modal plus bagiannya dari laba yang ditahan. Bagaimanapun laba yang ditahan adalah haknya. Jika teman-teman syirkahnya tidak ada yang mau membelinya, barulah dia menjualnya ke pihak lain.

Jika cara tersebut tidak dapat ditempuh dan teman-teman syirkah justru memilih untuk mengembalikan modalnya berikut semua keuntungan—termasuk laba yang ditahan selama beberapa tahun, hal itu pun tidak mengapa. Yang pasti, tidak boleh ada yang dirugikan. Tidak boleh ada yang menzalimi saudaranya. Dan semua harus sama-sama rela. Kerelaan yang pertama adalah kerelaan untuk menyelesaikan segala urusan dengan cara Islam. Wallahu a’lam.

%d bloggers like this: