Bunga Pinjaman Produktif Bukan Riba, Benarkah?

Bunga Pinjaman Produktif Bukan Riba, Benarkah?

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa bank-bank konvensional membangun aktifitas ekonominya di atas pondasi bunga bank (interest).

Dari sekian banyak jenis layanan yang diberikan pihak bank, layanan yang paling menonjol adalah layanan kredit dan deposito. Meminjam uang dari bank dan mendepositokan uang di bank adalah dua transaksi ekonomi dewasa ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari di tengah umat Islam.

Oleh karenanya, kedua transaksi yang melibatkan bunga tersebut menjadi bahan kajian utama para ulama Fikih dan pakar ekonomi Islam kontemporer selama beberapa puluh tahun terakhir.

SEBUAH PENDAPAT: BUNGA BANK BUKAN RIBA

Segelintir ulama kontemporer berpendapat bunga bank bukanlah riba. Di antara mereka adalah Syaikh Abdul Wahhab Khalaf, Mahmud Syaltut, Ma’ruf Ad-Dawalibi, Syauqi Al-Fanjari, dan Sayid Ath-Thanthawi.
Argumentasi mereka adalah bunga yang diharamkan adalah bunga yang diambil dari pinjaman konsumtif, yaitu pinjaman oleh kaum miskin yang hidupnya kesusahan.

BACA JUGA: Apa iya, Riba Sedikit Itu Boleh?

Adapun bunga yang diambil dari pinjaman yang dipergunakan orang kaya untuk modal usaha atau kegiatan produksi, tidaklah haram. Bunga tersebut seperti bagi hasil laba (mudharabah) antara bank sebagai pemilik modal dan kreditor sebagai pemilik usaha.

ULAMA SEPAKAT: BUNGA BANK ADALAH RIBA

Mayoritas ulama Fikih, lembaga fikih internasional, lembaga fikih nasional, dan pakar ekonomi Islam berpendapat bahwa bunga bank adalah riba. Sehingga, hukumnya haram.

   Argumentasi mereka adalah:

Pertama. Pada layanan kredit, besarnya bunga sebagai laba bank sudah ditetapkan sejak awal transaksi dibuat. Sementara modal yang dipinjamkan pihak bank akan tetap utuh, terjamin, dan tidak berkurang sedikit pun. Baik pinjaman tersebut dikonsumsi atau tidak; diputar untuk kegiatan usaha yang menghasilkan laba atau justru mengalami kerugian. Apapun kondisi peminjam, pihak bank mempersyaratkan adanya laba.

Hal ini bahkan lebih “Jahiliyah” daripada Riba Jahiliyah. Sebab dalam Riba Jahiliyah, pemberi pinjaman baru memberikan denda atau meminta bunga setelah peminjam tidak mampu melunasi pinjaman pada saat jatuh tempo pelunasannya.

Kedua. Pada layanan deposito, pihak bank sejak awal transaksi telah menetapkan besarnya bunga (laba) yang akan diperoleh nasabah. Sama saja apakah investasi bank akan mendapatkan keuntungan maupun kerugian.

Secara istilah, tabungan di bank disebut wadi’ah atau simpanan. Namun secara hakikat, ia adalah qardh atau pinjaman. Sebab, pinjaman adalah menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain untuk dipergunakan. Pinjaman tidak boleh disertai bunga. Sebab, bunga dari pinjaman adalah riba. Kaedah fikih menegaskan:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبَا

Setiap pinjaman yang mendatangkan laba bagi si pemberi pinjaman adalah riba.”

Ketiga. Pada zaman Jahiliyah dan zaman sahabat, memberikan pinjaman kepada orang kaya sebagai tambahan modal usaha sudah biasa terjadi. Meski demikian, ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi n tegas mengharamkan bunga dari pinjaman tersebut.

Abdullah bin Zubair z meriwayatkan bahwa banyak orang menitipkan uang mereka kepada seorang sahabat jutawan, Zubair bin Awwam. Khawatir harta titipan yang banyak tersebut akan berkurang, tidak terurus, atau hilang; maka Zubair mengubah akad titipan menjadi akad pinjaman. Zubair berkata, “Tidak. Saya hanya akan menerima uang kalian sebagai pinjaman, sebab aku khawatir uang kalian akan hilang.” (HR. Bukhari no. 3129)

Ath-Thabari dalam Tarikhul Umam wal Muluk dan Malik dalam Al-Mudawwanah meriwayatkan bahwa pada zaman khalifah Umar bin Khathab, Hindun binti Utbah pernah meminjam uang sebesar 4000 dinar dari Baitul Mal untuk modal berdagang.

Imam Malik dalam al-Muwatha’ dan asySyafi’i dalam al-Umm meriwayatkan bahwa Abu Musa al-Asy’ari memberikan pinjaman kepada Abdullah bin Umar dan Ubaidullah bin Umar untuk modal dagang.
Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dalam al-Amwal menyebutkan bahwa pada zaman salaf sudah biasa terjadi seseorang meminjam uang untuk membiayai kebutuhan (konsumsi) keluarganya atau menggarap lahan pertaniannya.

Abu Ubaid juga meriwayatkan salah satu kebijakan khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah memberikan pinjaman modal kepada orang kafir dzimmi yang miskin untuk menggarap lahan pertaniannya. KAJIAN PENDAPAT Hakikat riba adalah menarik manfaat tambahan dari modal pokok, yang dipinjamkan kepada orang lain, baik untuk kepentingan konsumtif maupun produfktif.

Allah dan Rasul-Nya hanya memperbolehkan pemberi pinjaman menarik kembali harta pinjamannya, tanpa memperbolehkan menarik keuntungan dan kelebihan apapun. Sebagaimana firmanNya, “Maka bagi kalian menarik kembali pokok harta (modal) kalian, tanpa kalian melakukan kezaliman dan tanpa kalian dizalimi.” (QS. AlBaqarah [2]: 280)

Bunga bank tidak bisa dianalogikan dengan transaksi mudharabah (bagi hasil). Sebab transaksi bank konvensional mensyaratkan modal pokok (deposito maupun kredit) tetap utuh dan terjamin, tidak mengalami pengurangan dan resiko kerugian apapun.

Selain itu bunganya ditetapkan dengan prosentase yang pasti di awal transaksi, tanpa memandang apakah usaha bank atau usaha peminjam mendapatkan keuntungan maupun mengalami kerugian.
Dari sini bisa disimpulkan bahwa secara tinjauan bahasa, istilah, maupun realita, bunga bank adalah riba. Bahkan ia lebih kejam daripada Riba Jahiliyah di zaman Jahiliyah.

IJMA’ ULAMA KONTEMPORER

Pendapat yang menegaskan bahwa bunga bank adalah riba yang hukumnya haram, adalah pendapat semua lembaga fikih, lembaga fatwa, dan pakar ekonomi Islam dalam taraf Internasional maupun Nasional.
Di antara lembaga fikih dan ekonomi Islam tingkat internasional yang memfatwakan keharaman dan ke-riba-an bunga bank adalah:

• Pada bulan Muharram 1385 H / Mei 1965 M dalam Muktamar Internasional Kajian Islam ke-2 di Kairo, yang dihadiri oleh 150 ulama dari 35 negara muslim, telah sepakat memutuskan bahwa bunga bank adalah riba dan hukumnya haram.

• Pada tahun 1976 dalam Muktamar Internasional Ekonomi Islam di Makkah, yang dihadiri oleh lebih dari 300 ulama dan pakar ekonomi Islam dari seluruh dunia.

• Muktamar Internasional Bank Islam di Dubai pada 25 Jumadi Tsaniyah 1399 H/22 Mei 1979 M.

• Majma’ Al-Fiqh Al-Islami negara-negara OKI dalam muktamar di Jeddah pada 22 Desember 1985 M.

• Majma’ Fiqh dalam Rabithah Al-’Alam AlIslami, dalam sidangnya di Makkah, 12-19 Rajab 1406 H.

• Adapun di antara lembaga nasional yang memfatwakan hal itu adalah:

• Fatwa Dewan Syari’ah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 2000 M. • Keputusan Sidang Lajnah Tarjih Muhammadiyah tahun 1968 di Sidoarjo.

• Keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU tahun 1992 di Bandar Lampung.

• Keputusan Rapat Komisi Fatwa MUI, tanggal 3, 17, dan 24 Januari 2004 M.

Dari sini, banyak pakar ekonomi Islam (di antaranya Prof Dr. Moh. Umar Chapra dan Prof Dr. Akram Khan) dan ulama fikih Islam (di antaranya Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Muhammad Ali Ash-Shabuni) menegaskan bahwa status ke-riba-an bunga bank sudah menjadi ijma’ ulama kontemporer. Pendapat yang menyelisihinya adalah pendapat yang syadz (keliru dan nyeleneh). Wallahu a’lam bish-shawab. []

REFERENSI:

Ali Ahmad As-Salus, Mausu’atu Al-Qadhaya Al-Fiqhiyyah Al-Mu’ashirah wa Al-Iqtishad Al-Islami, Doha: Dar Ats-Tsaqafah, cet. 7, 1423 H.

Rafiq Yunus Al-Mishri, Al-Jami’ fi Ushul Ar-Riba, Damaskus: Darul Qalam, cet. 1, 1412 H.

Kamal bin As-Sayyid Salim Al-Mishri, Kasyful Akinnah ‘an Buhuts lam Tudzkar fi Shahih Fiqh As-Sunnah, Kairo: Al-Maktabah At-Tauqifiyah, cet. 1, 1434 H.

Muhammad Utsman Syabir, Al-Mu’amalat Al-Maliyah Al-Mu’ashirah fi Al-Fiqh Al-Islami, Amman: Dar An-Nafais, cet. 6, 1428 H.

Yusuf Al-Qaradhawi, Fawaidul Bunuk Hiya Ar-Riba Al-Haram, Manshurah: Darul Wafa’, cet. 3, 1415 H.

%d bloggers like this: