Booming Sertifikasi Halal Di Seluruh Dunia

Booming Sertifikasi Halal Di Seluruh Dunia

Bagi Umat islam, halal merupakan kebutuhan mutlak. Selain syarat ikhlas dan mengikuti sunnah, konsumsi halal merupkan syarat utama diterimanya ibadah. Hal ini dijelaskan dalam sabda Nabi tentang kisah seorang musafir yang telah berjalan jauh dan berdoa kepada Allah dengan cara terbaik. Namun, karena konsumsinya haram, doanya tertolak.

Meningkatnya populasi muslim di seluruh dunia memengaruhi kesadaran masyarakat dunia dalam hal makanan halal. Secara global, populasi Muslim mencapai sekira 2 Miliar lebih penduduk pada 2014. Setiap tahunnya, populasi muslim meningkat hingga 1,8 %. Atau meningkat sekira 126 juta orang dari perkiraan total penduduk dunia sebesar 7 Miliar lebih penduduk pada tahun 2013 (http://www.muslimpopulation.com).

Engan populasi ini, produk halal tak hanya menjadi perhatian negara-negara muslim tapi juga negara dengan penduduk mayoritas non muslim. Jepang dan Prancis misalnya, menetapkan regulasi dan pelabelan halal pada beberapa produk. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya kebutuhan konsumsi halal para wisatawan muslim di negara-negara tersebut.

Dikutip dari alifmagz.com, diperkirakan omset dari wisatawan muslim global mencapai 126 Miliar dolar AS pada tahun 2013. Meski regulasi label halal ini karena faktor ekonomi dan bukan demi menegakkan syariat,  hal ini tetap memberi keuntungan bagi umat Islam. Mereka bisa dengan mudah menemukan produk halal di negara-negara mayoritas non muslim.

Di Jepang, geliat produk halal meningkat pesat. Salah satu lembaga pemberi sertifikasi yang mendapat pengakuan dari MUI (Majelis Ulam indonesia) adalah Japan Moslem Assosiation  (JMA). JMA diakui dalam kategori food processing dan flavour kategori. Sebelumnya MUI telah mencatatkan Islamic Culture Center Kyushu (ICCKyu) dalam daftar lembaga yang sudah diakui.

Malaysia Halal Corporation, salah satu lembaga pemberi sertifikasi yang berpusat di Tokyo, Jepang sudah memberikan sertifikasi untuk sekira enam hotel delapan restoran. Restoran yakiniku “Sumiyakiya” salah satu restoran di kawasan Roppongi, Minato, Tokyo telah memiliki sertifikat halal. Restoran ini menyediakan yakiniku khusus pengunjung Muslim. Mereka meletakkan daging di alat pendingin yang berbeda serta memisahkan piring dan gelas agar tidak tersentuh daging babi atau bahan makanan non- halal lain.

(BACA JUGA : Sejarah Sertifikat Halal)

Menurut wawancara Radio Fahima bersama DR. Hirofumi Oki, (Syari’ah Research Center, Japan Moslem Association/JMA), JMA lebih banyak mengeluarkan sertifikat untuk bahan-bahan makanan, bukan produk instan. Misalnya sertifikasi untuk pengawet dan emulsifier. Namun demikian, pihak JMA mengakui bahwa bagaimanapun sertifikasi halal di Jepang belumlah maju seperti di Indonesia. Kebanyakan perusahaan yang mengajukan sertifikasi hanya untuk keperluan pasar luar negeri (negeri muslim). Adapun untuk di jual di negeri sendiri, khususnya makanan instan, keinginan perusahaan atau produsen untuk sertifikasi belumlah sekuat di Indonesia.

Hikari Miso, fermentasi kacang kedelai di Jepang yang telah mendapat sertifikat Halal.

Di Australia, sertifikasi halal sudah cukup lama diterapkan. Badan pemberi sertifikat halal Australia, Halal Certification Council (HCC) telah diakui MUI. Pengakuan ini untuk kategori Cattle slaughtering, Food processing dan Flavor. Australia merupkan negara pengekspor daging terbesar yang mengekspor ribuan ton daging sapi dan kambing ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Stanbroke, salah satu pabrik pengolahan sapi terbesar di Queensland, Australia, sudah mendapatkan sertifikasi halal. Pabrik ini menerapkan cara penyembelihan secara Islam. Meskipun sapi terlebih dahulu dibuat pingsan dengan bius, lalu disembelih, namun mereka memastikan bahwa sapi mati karena sembelihan, bukan karena bius. Adapun jika sapi mati bukan karena faktor sembelihan, daging akan dilabeli non halal.

Beberapa jenis makanan instan juga telah mendapat label halal. Sayangnya, beberapa orang yang trgabung dalam halal choices justru menentang sertifikasi halal pada beberapa produk dan penyebelihan. Menurut mereka, sertifikasi halal hanyalah pemerasan dan penyembelihan cara islam sangatlah kejam. Mereka memboikot beberapa produk halal dan menyatakan, mndukung label halal sama saja membiarkan ekspansi Islam dan penerapan syariah di dunia. (diambil dari food.detik.com5/11/2014).

Di Eropa, produk bersiertifikat halal juga menggeliat. Beberapa perusahaan besar di Inggris, Prancis dan Jerman telah mengantongi sertifikat halal. Di Jerman, diberitakan telah ada 400 lebih perusahaan dengan ribuan produknya yang telah mengantongi sertifikat halal. Italia yang merupakan salah satu pusat kuliner eropa juga mulai menaruh perhatian besar terhadap produk halal.

Di Amerika ada IFANCA (The Islamic Food and Nutrition Council of America), badan yang memiliki wewenang memeriksa standar produksi dan bahan baku menurut hukum Islam di Amerika Serikat. Dalam situs resminya, ifanca.org menyatakan pihaknya telah mensetifikasi ribuan produk pangan, minuman dan farmasi. Di situs tersebut kita dapat langsung melihat list nama produk yang telah disertifikasi.

Alhamdulillah, semua ini merupakan kemudahan bagi setiap muslim dan harus didukung. Produk halal adlaah kebutuhan pokok bagi umat Islam. Dan sertifikasi halal merupakan salah satu cara untuk menyeleksi makanan yang hendak kita konsumsi. Semoga hal ini semakin berkembang di seluruh dunia.

 


 

%d bloggers like this: