Bisnis Juga Butuh Etika

Bisnis Juga Butuh Etika

Bermula dari tugas kuliah, TW (19 th) seorang Mahasiswi asal Depok, Jawa Barat membuat produk berlabel “Mi Bikini”. Dari namanya saja kesan tidak sopan sudah bisa dirasakan. Tagline “remas aku” yang digunakan lebih menegaskan lagi kesan yang menjurus ke hal-hal berbau tidak etis. Hal yang lebih mempertegas adalah gambar wanita dengan bikini yang tercetak dalam kemasan snack mi berbahan dasar bihun itu. Meskipun hanya berupa gambar anime atau kartun, tapi tetap tidak menutupi maksud dari ilustrasi sebenarnya.

“Mi Bikini” yang merupakan kependekan dari “Mi Bihun Kekinian” akhirnya dilaporkan dan diperiksa oleh pihak kepolisian. Sebelumnya, Mi Bikini dijual secara online melalui instagram dan telah terjual kurang lebih 6000 pcs selama 3 bulan. Mi Bikini dituduh melanggar tiga undang-undang sekaligus; Undang-undang pornografi, UU perlindungan Anak dan UU ITE. Selain itu, label halal yang disematkan di produk juga dipermasalahkan karena tidak resmi dari MUI.

Hal yang menarik adalah alasan produsen menanggapi tuduhan berupa kesan porno pada nama, tagline dan ilustrasi pada produknya. Untuk nama Bikini, menurut Tw, hal itu spontan karena memang singkatan dari Bihun Kekinian. “Desain tidak ada sedikitpun terpikir kalau itu termasuk pornografi karena saya dan teman-teman berpikir bikini itu nama baju renang. Jadi tidak menyangka kalau namanya dipikir tidak senonoh,” ujarnya.
Adapun untuk gambar, lanjut dia, karena namanya bikini terpikir gambar dan desain yang pas sesuai dengan namanya. Dalam gambar kemasan produknya itu, Tw dan sejumlah rekannya tetap memasukan gambar mi yang sedang dipegang oleh sosok wanita dengan tambahan slogan “remas aku”.

BACA JUGA: Jual-Beli Barang Hoki dan Fenomena Harga Tak Wajar

“Slogan diberikan oleh guru (dosen) saya yang juga mengajarkan materi untuk marketing dan idenya. Kata remas aku juga bukan dimasudkan untuk meremas dada yang ada di gambar tersebut yang orangorang mengartikan seperti itu,” ujar Tw dalam tulisannya.

“Kata remas aku pun dimaksudkan meremas isi kemasan tersebut sebelum dimakan. Kata remas aku itu digambarkan ke arah snack  yang dipegang oleh gambar di kemasan,” Tw menambahkan. Awal produksinya, lanjut Tw,  saat masih menjalankan project berlokasi di salah satu indekos kelompoknya, di daerah Geger Kalong, Bandung, Jawa Barat. Saat project berlangsung pun bikini hanya keluar sekitar 2.100 buah. Rata-rata orang yang membelinya karena penasaran dengan bihun goreng. Tanggapan ini dilansir viva.co.id pada 7 agustus 2016.

Untuk ukuran mahasiswi, tanggapan semacam itu jelas terlihat lugu dan dibuatbuat. Coba saja renungkan; “Bikini”, “remas aku” dan gambarnya dada wanita menggunakan bikini, tapi katanya tidak dimaksudkan porno dan tak mengira akan dinilai tidak pantas? Sebenarnya apa standar ketidakpantasan orang jaman sekarang?

Wajar saja bila Komosi Perlindungan Anak turut buka suara dan menyatakan produk tersebut melanggar etika. Memang sasaran produk mungkin bukan anak-anak, tapi kategori snack dan dipasarkan secara online jelas akan dapat dengan mudah diakses oleh anak. Untunglah pihak berwajib segera menangani kasus ini. MUI Jawa Barat juga telah memanggil baik-baik pemilik produk mi Bikini beberapa waktu Silam namun sampai tulisan ini dibuat belum ada tanggapan.

Hampir bersamaan dengan itu, muncul Kopi Jessica. Haris Bastian, penggagas sekaligus produsen kopi ini mengaku terinspirasi dari kasus pembunuhan Mirna. Mirna dibunuh dengan kopi bersianida. Pembunuhan misterius ini menyeret Jessica Kumala, teman Mirna, sebagai salah satu terduga pelakunya. Tak hanya nama, bahkan Bastian juga menggunakan foto asli dari Jesica pada kemasan produknya.

Adapun soal Mirna dan Jessica itu siapa,  artiskah, pejabatkah, tokohkah atau sekadar temannya artis, Wallahua’lam. Barangkali hanya bahan berita awak media semata.

Bastian mengaku terinspirasi dari berita pembunuhan Mirna dengan kopi bersiannida saat ngopi di warung kopi. Desakan kebutuhan membuatnya berinisiatif membuat kopi Jessica dan menjualnya seharag 15.000/150 g. Kopi Jessica dia pasarkan melalui facebook.

Bastian sendiri mengaku bahwa nama dan foto yang dipasang di label produknya belum mendapat ijin dari yang bersangkutan. Tak heran jika akhirnya pengacara Jessica pun menuntut Bastian dan menyeretnya ke jalur hukum.

Logo halal yang tidak resmi juga menjadi masalah tersendiri. Pencantuman logo halal pada suatu produk komersial telah diatur oleh undang-undang no.23 tahun 2014 mengenai Jaminan Produk halal. Mencantumkan label halal berarti memberi jaminan bahwa produk tersebut halal. Ini bukan perkara yang bisa dianggap enteng karena jaminan tersebut harus benar-benar bisa dibuktikan.
Sebagai konsumen, sebaiknya kita juga harus waspada terhadap produk yang tak berijin. Selain tidak ada jaminan mutu dan kehalalan produk, kita juga tidak bisa komplain jika terjadi apa-apa. Apalagi mencoba ikut mengedarkan. Produk tak berijin rawan bermasalah meski diedarkan secara online.

Kreativ itu bukan asal nyleneh, beda dan aneh tanpa mengindahkan peraturan. Kreativ itu mampu menciptakan manfaat, meski terbatas peraturan, mampu menarik perhatian tanpa mengabaikan etika dan mampu menghadirkan solusi meski dihadang masalah. Bisnis kreativ pun demikian, bukan sekedar membuat produk yang asal nyleneh, kontroversial tapi melanggar norma dan etika. Produk kreativ justru harus menjunjung norma dan etika tapi tetap menarik, di luar dugaan, dan solutif. Wallahua’lam. []

%d bloggers like this: