Berudhiyah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Berudhiyah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Berangkat dari rasa kasih sayang seorang muslim kepada anggota keluarganya, ada di antara kaum muslimin yang memiliki keinginan untuk berudhiyah atas nama salah satu dari keluarganya yang sudah meninggal.

Hal ini dilakukan bukan karena wasiat atau nadzar yang pernah diucapkan. Akan tetapi, hal itu dilakukan sebagai bentuk sedekah kepada keluarganya yang telah meninggal tersebut. Apakah amalan ini boleh kita kerjakan? Bagaimakah para ulama mengomentari persoalan ini? Maka dalam edisi ini, kami akan mencantumkan beberapa komentar dari para ahli ilmu dalam persoalan ini.

 

YANG MEMBOLEHKAN

Abul Hasan al-’Abbadiy asy-Syafi’i (w 496 H), salah satu ulama madzbah Syafi’i yang membolehkah berudhiyah untuk orang yang sudah meninggal, sebagiamana yang dijelaskan oleh imam an-Nawawi,

وَأَمَّا التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

Adapun berudhiyah atas nama orang yang sudah meninggal, maka Abul Hasan Al-Abbadiy (wafat 495 H, lihat Thabaqat As-Syafi’iyah al-Kubra 5/364-365) membolehkan secara mutlak. Karena berkorban atas nama orang yang sudah meninggal adalah salah satu bentuk dari bersedekah. Bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal hukumnya sah dan bermanfaat bagi sang mayit dan pahalanya sampai kepadanya berdasarkan ijma’ ulama. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain AnNawawi Ad-Dimasyqi, 8/ 299)

Ibnu Taimiyyah (661-728 H) berkata,

وَتَجُوزُ الْأُضْحِيَّةُ عَنْ الْمَيِّتِ كَمَا يَجُوزُ الْحَجُّ عَنْهُ وَالصَّدَقَةُ عَنْهُ وَيُضَحَّى عَنْهُ فِي الْبَيْتِ وَلَا يُذْبَحُ عِنْدَ الْقَبْرِ أُضْحِيَّةً وَلَا غَيْرَهَا .

“Diperbolehkan menyembelih hewan kurban bagi orang yang sudah meninggal sebagaimana diperbolehkan haji dan shadaqah untuk orang yang sudah meninggal. Menyembelih hewan kurbannya di rumah. Namun hewan kurban dan yang lainnya tidak  boleh disembelih di kuburan.”

(Majmu Al-Fatawa, Taqiyuddin Ahmad bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah alHarrani, 26/306) Dalam Mausu’ah al-Fiqhiyah alKuwatiyah disebutkan,

أَمَّا إِذَا لَمْ يُوصِ بِهَافَأَرَادَ الْوَارِثُ أَوْ غَيْرُهُ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْهُ مِنْ مَال نَفْسِهِ، فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالْمَالِكِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ إِلَى جَوَازِ التَّضْحِيَةِ عَنْهُ، إِلاَّ أَنَّ الْمَالِكِيَّةَ أَجَازُوا ذَلِكَ مَعَ الْكَرَاهَةِ. وَإِنَّمَا أَجَازُوهُ لِأَنَّ الْمَوْتَ لاَ يَمْنَعُ التَّقَرُّبَ عَنِ الْمَيِّتِ كَمَا فِي الصَّدَقَةِ وَالْحَجِّ .

“Adapun jika (orang yang telah meninggal dunia) belum pernah berwasiat untuk dikurbani kemudian ahli waris atau orang lain mengurbani orang yang telah meninggal dunia tersebut dari hartanya sendiri maka madzhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali memperbolehkannya. Hanya saja menurut madzhab maliki boleh tetapi makruh. Alasan mereka yang memperbolehkan adalah karena kematian tidak menghalangi orang yang meninggal dunia untuk ber-taqarrub kepada Allah sebagaimana dalam sedekah dan ibadah haji.” (Mausu’ah al-Fiqhiyyah alKuwatiyyah, Wizarah al-Awqaf wa asy-Syu`un al-Islamiyyah-Kuwait, 5/ 106-107)

YANG MELARANG

Imam an-Nawawi (631-676 H) berkata,

لَا تَضْحِيَةَ عَنِ الْغَيْرِ بِغَيْرِ إذْنِهِ وَلَا عَنْ مَيِّتٍ إنْ لَمْ يُوصِ بِهَا .

“Tidak sah berkurban untuk orang lain (yang masih hidup) dengan tanpa seizinnya, dan tidak juga untuk orang yang telah meninggal dunia apabila ia tidak berwasiat untuk dikurbani.” (Minhaj ath-Thalibin, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqi, 321)

Al-Hathab al-Maliki (902-954 H) berkata,

إنَّمَا كَرِهَ أَنْ يُضَحِّيَ عَنْ الْمَيِّتِ  لِأَنَّهُ لَمْ يَرِدْ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ السَّلَفِ

Sesunggunya makruh hukumnya menyembelih hewan kurban diniatkan untuk orang yang sudah meninggal. Karena tidak terdapat contoh dari Nabi n dan tidak pula dari salah satu salaf yang melakukan hal itu.(Mawahibu al-Jalil, abu Adullah bin Muhammad bin Abdurrahman al-Maliki Al-Maghribi, 4/ 377)

baca juga: Udhiyah Yang Sampai Kepada Allah

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:

الْأَصْلُ فِيْ الْأُضْحِيَّةِ أَنَّهَا مَشْرُوْعَةٌ فِيْ حَقِّ الْأَحْيَاءِ كَمَا كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ يُضَحُّوْنَ عَنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَهْلِيْهِمْ وَأَمَّا مَا يَظُنُّهُ بَعْضُ الْعَامَّةُ مِنْ اِخْتِصَاصِ الْأُضْحِيَّةِ بِالْأَمْوَاتِ فَلَا أَصْلَ لَهُ .

“Hukum asal berkurban adalah disyari’atkan bagi mereka yang masih hidup, sebagaimana Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat beliau berkurban atas nama diri mereka dan keluarga mereka, sedangkan apa yang menjadi perkiraan orang-orang awam bahwa kurban khusus bagi orang yang sudah meninggal dunia, tidak ada dasarnya.  (Ahkamu al-Udhiyah wa adz-Dzakah, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 3)

Wallahua’lam.

 

Luthfi Fathany

%d bloggers like this: