Bersalaman Setelah Salam

Bersalaman Setelah Salam

Bersalaman-salaman setelah shalat wajib terkadang menjadi kebiasaan bagi sebagian kaum muslimin. Bolehkah kita melakukan kebiasaan ini? Bagaimana keterangan dari para ulama dalam permasalahan ini? Kita simak penjelasan mereka dibawah ini.

BOLEH BERSALAM-SALAMAN SETELAH SHALAT

Imam An-Nawawi rahimahumullah, beliau berkata,

وَتُسَنُّ الْمُصَافَحَةُ عِنْدَ كُلِّ لِقَاءٍ وَأَمَّا مَا اعْتَادَهُ الْنَاسُ مِنَ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَلَا أَصْلَ لَهُ فِي الشَّرْعِ عَلَي هَذَا الْوَجْهِ وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهِ فَإِنَّ أَصْلَ الْمُصَافَحَةِ سُنَّةٌ وَكَوْنُهُمْ خَصُّوْهَا بِبَعْضِ الْأَحْوَالِ وَفَرَطُوْا فِيْ أَكْثَرِهَا لَا يَخْرُجُ ذَلِكَ الْبَعْضُ عَنْ كَوْنِهِ مَشْرُوْعَةٌ فِيْهِ.

Disunnahkan bersalam-salam dalam setiap kali pertemuan. Apa yang menjadi kebiasaan orang-orang saling bersalam-salaman setelah shalat subuh dan shalat ashar itu tidak ada dasarnya dari syariat, ditinjau dari satu sisi. Namun perbuatan ini tidak mengapa dilakukan. Karena pada dasarnya bersalam-salaman itu sunnah dan keadaan mereka yang mengkhususkan bersalam-salaman pada sebagian waktu dan menambahnya pada kesempatan-kesempatan tertentu, ini tidak keluar dari hukum sunnahnya bersalam-salaman yang pada dasarnya amalan tersebut telah disyariatkan. Ia merupakan bid’ah mubahah. (Al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Abu Zakaria Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain an-Nawawi ad-Dimasyqiy, 4/633-634).

Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahawi al-Hanafi menjelaskan,

وَكَذَا تُطْلَبُ الْمُصَافَحَةُ فَهِيَ سُنَّةٌ عَقِبَ الصَّلَاةِ كُلِّهَا وَعِنْدَ كُلِّ لَقِيٍّ

Dan begitu pula bersalam-salaman setelah semua shalat (wajib/sunnah) dan setiap bertemu adalah sunnah. (Hasyiyah ‘Ala Maraqi al-Falah syarh Nuril Idhoh, Ahmad bin Muhammad bin Ismail ath-Thahawi al-Hanafi, 1/345)

TIDAK BOLEH BERSALAM-SALAMAN SETELAH SHALAT

Ibnu Taimiyah al-Hambali ketika ditanya hukum bersalam-salaman setelah shalat, beliau menjawab,

الحَمْدُ لله الْمُصَافَحَةُ عَقِيْبَ الصَّلَاةِ لَيْسَتْ مَسْنُوْنَةٌ بَلْ هِيَ بِدْعَةٌ وَالله أَعْلَمُ

Segala puji hanya milik Allah, bersalam-salaman setelah shalat bukan termasuk amalan yang disunnahkan, bahkan amalan tersebut adalah amalan yang baru, tidak ada contoh dari Nabi Muhammad ﷺ. Wallahu a’lam. (Al-Fatawa al-Kabir, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harani, 2/305)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya mengenai bersalam-salaman setelah shalat, beliau menjawab:

هَذِهِ الْمُصَافَحَةُ لَا أَعْلَمُ لَهَا أَصْلاً مِنَ السُّنَّةِ أَوْ مِنْ فِعْلِ الصَّحَابَةِ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ – وَلَكِنِ الْإِنْسَانُ إِذَا فَعَلَهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا عَلَى سَبِيْلِ أَنَّهَا مَشْرُوْعَةٌ، وَلَكِنْ عَلَى سَبِيْلِ التَّأْلِيْفِ وَالْمَوَدَّةِ، فَأَرْجُوْ أَنْ لَا يَكُوْنَ بِهَذَا بَأْسٌ، لِأَنَّ النَّاسَ اعْتَادُوْا ذَلِكَ. أَمَّا مَنْ فَعَلَهَا مُعْتَقِداً بِأَنَّهَا سُنَّةٌ فَهَذَا لَا يَنْبَغِيْ وَلَا يَجُوْزُ لَهُ، حَتَّى يَثْبُتَ أَنَّهَا سُنَّةٌ، وَلَا أَعْلَمُ أَنَّهَا سُنَّةٌ.

Bersalam-salaman yang demikian (rutin setelah shalat) tidak kami ketahui asalnya dari sunnah atau pun dari praktek para sahabat Nabi. Namun seseorang jika bersalaman setelah shalat bukan dalam rangka menganggap hal itu disyariatkan (setelah shalat), yaitu dalam rangka mempererat persaudaraan atau menumbuhkan rasa cinta, maka saya harap itu tidak mengapa. Karena memang orang-orang sudah biasa bersalaman untuk tujuan itu. Adapun bagi orang yang melakukannya karena anggapan bahwa hal itu dianjurkan (setelah shalat) maka hendaknya tidak dilakukan, dan amalan seperti ini tidak boleh dilakukan sampai terdapat dalil yang mengesahkan bahwa hal itu sunnah. Dan saya tidak mengetahui bahwa hal itu disunnahkan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 13/287).

Syaikh abdullah bin Baz menjelaskan,

أَمَّا مَا يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنَ الْمُبَادَرَةِ بِالْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الْفَرِيْضَةِ مِنْ حِيْنِ يَسْلِمُ التَّسْلِيْمَةَ الثَّانِيَةَ فَلَا أَعْلَمُ لَهُ أَصْلًا بَلِ الْأَظْهَرُ كَرَاهَةُ ذَلِكَ لِعَدَمِ الدَّلِيْلِ عَلَيْهِ. وَلِأَنَّ الْمُصَلِّيَ مَشْرُوْعٌ لَهُ فِيْ هَذِهِ الْحَالِ أَنْ يُّبَادِرَ بِالْأَذْكَارِ الشَّرْعِيَّةِ الَتِيْ كَانَ يَفْعَلُهَا النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ السَّلَامِ مِنْ صَلَاةِ الْفَرِيْضَةِ. وَأَمَّا صَلَاةُ النَّافِلَةِ فَيُشْرَعُ الْمُصَافَحَةُ بَعْدَ السَّلَامِ مِنْهَا إِذَا لَمْ يَتَصَافَحَا قَبْلَ الدُّخُوْلِ فِيْهَا. فَإِنْ تَصَافَحَا قَبْلَ ذَلِكَ كَفَى.

Adapun yang dilakukan sebagian orang yang segera bersalam-salaman setelah selesai shalat fardhu yaitu setelah salam yang kedua, maka saya tidak mengetahui asal dari perbuatan ini. Bahkan yang tepat, ini hukumnya makruh karena tidak ada dalilnya. Karena yang disyariatkan bagi orang yang shalat dalam kondisi ini adalah segera membaca dzikir-dzikir sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ setiap selesai shalat fardhu. Adapun shalat sunnah, juga disyariatkan untuk bersalaman setelah salam jika memang belum sempat bersalam ketika sebelum shalat. Jika sudah salaman sebelum shalat maka sudah cukup (tidak perlu salaman lagi). (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 11/ 200) Wallahua’lam. [ ]

%d bloggers like this: