Bersalaman Dengan Wanita Bukan Mahram

Bersalaman Dengan Wanita Bukan Mahram

Hari raya Idul Fitri biasa dirayakan oleh kaum muslimin di tanah air dengan saling berkunjung ke keluarga besar, kerabat, dan tetangga. Dalam acara tersebut laki-laki dan perempuan, tua dan muda, saling bersalaman dan saling memaafkan.

Masjid-masjid, sekolah-sekolah, dan kantor-kantor juga menggelar acara Halal bi Halal. Kegiatannya pun serupa; saling bersalaman dan saling memaafkan, antara laki-laki dan perempuan, murid dan guru, pimpinan dan karyawan.

Berjabat tangan dan bersalaman antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam acara-acara tersebut sudah menjadi pemandangan umum. Hal itu tidak hanya dilakukan oleh masyarakat awam. Banyak kyai, ustadz-ustadzah, dan mubaligh-mubalighah bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram mereka, seperti adik ipar, kakak ipar, dan saudara sepupu.

BACA JUGA: MENYENTUH WANITA MEMBATALKAN WUDHU

Tidak heran apabila masyarakat umum memandang hal itu sebagai perbuatan baik dan wajar. Bahkan, mereka memandang orang-orang yang tidak mau bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram sebagai orang yang fanatik, tidak sopan, dan tidak menghargai orang lain. Bagaimana sebenarnya hukum bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahram dalam pandangan ulama fikih?

MAZHAB HANAFI

Abul Hasan Ali bin Abu Bakr Al-Marghinani berkata, “Seorang laki-laki tidak diperbolehkan menyentuh wajah atau telapak tangan seorang wanita, walaupun ia merasa aman dari syahwat.” (Al-Hidayah Syarh Al-Bidayah, IV/83)

Pernyataan yang semakna ditegaskan oleh Ibnu Abidin dalam Hasyiyah Ibni Abidin, Az-Zaila’i dalam Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanz Ad-Daqaiq, Al-Kasani dalam Badai’u Ash-Shanai’ fi Tartib Asy-Syarai’, dan As-Samarqandi dalam Tuhfat Al-Fuqaha’.

MAZHAB MALIKI

Abul Walid Al-Baji berkata, “Maksud sabda Nabi ﷺ ‘Sesungguhnya aku tidak berjabatan tangan dengan kaum wanita’ adalah telapak tangan beliau tidak menyentuh telapak tangan mereka. Hal itu karena pembai’atan kaum laki-laki dilakukan dengan berjabatan tangan. Lalu Nabi ﷺ melarang berjabat tangan dengan kaum wanita (yang bukan mahram), karena adanya unsur persentuhan kulit di dalamnya.” (Al-Muntaqa Syarh Al-Muwatha’, 7/308)

Ibnu Al-Arabi Al-Maliki Al-Andalusi berkata, “Nabi ﷺ bersabda kepada kaum wanita ‘Perkataanku kepada seorang wanita adalah sama nilainya dengan perkataanku kepada seratus orang wanita’. Beliau tidak berjabatan tangan dengan mereka, karena syariat mengharamkan persentuhan kulit dengan kaum wanita kecuali wanita yang halal (yaitu istri yang sah).” (‘Arizhatu Al-Ahwadzi Syarh Sunan At-Tirmidzi, 7/95)

MAZHAB SYAFI’I

An-Nawawi berkata, “Setiap orang yang kita haram untuk memandang wajahnya, niscaya haram pula untuk menyentuh kulitnya, bahkan menyentuh itu lebih kuat larangannya. Sesungguhnya seorang laki-laki diperbolehkan memandang wanita yang bukan mahram jika ia ingin menikahinya, atau dalam kondisi berjual-beli, mengambil barang, memberikan barang, dan lain sebagainya. Namun tidak boleh menyentuh kulitnya dalam semua kondisi tersebut.” (Al-Adzkar An-Nawawiyah, hlm. 228)

Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Hadits Aisyah ini merupakan dalil bahwa boleh mendengar perkataan wanita, dan suara wanita bukanlah aurat, namun tidak boleh menyentuh kulitnya kecuali dalam kondisi darurat.”

Beliau juga menegaskan bahwa larangan untuk berjabat tangan dengan kaum wanita adalah bentuk pengecualian dari keumuman perintah berjabat tangan. (Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari, 13/294)

Larangan berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahram juga ditegaskan oleh An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, Al-Iraqi dalam Tharhu At-Tatsrib, dan Abu Bakar Al-Hishni dalam Kifayatul Akhsyar.

MAZHAB HANBALI

Muhammad bin Abdullah bin Mihram meriwayatkan bahwa Imam Ahmad dengan tegas melarang seorang laki-laki berjabatan tangan dengan seorang wanita yang bukan mahram, meskipun laki-laki itu mengenakan sarung tangan.

Ibnu Muflih mengatakan, “Seorang wanita bersalaman dengan seorang wanita. Seorang laki-laki boleh bersalaman dengan laki-laki dan wanita yang telah tua renta. Namun ia haram berjabat tangan dengan wanita muda, demikian ditegaskan dalam kitab Al-Fushul dan Ar-Ri’ayah.” (Al-Adab Asy-Syar’iyah, 2/257)

KESIMPULAN

Para ulama fikih madzhab yang empat melarang laki-laki berjabatan tangan dengan wanita yang bukan mahram. Terlebih jika keduanya atau salah satu di antara keduanya masih muda, bukan kakek dan nenek yang telah tua renta.

Hal itu berdasar hadits-hadits shahih. Di antaranya Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa tangan Nabi ﷺ sama sekali tidak pernah menyentuh tangan wanita yang bukan mahramnya. Beliau hanya membai’at kaum wanita muslimah dengan ucapan, bukan dengan jabatan tangan.

Hadits semakna diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah dari Umaimah binti Ruqayah x. Juga diriwayatkan oleh Ahmad dari Abdullah bin Amru bin Ash z.

Padahal Nabi ﷺ adalah orang yang terjaga dari dosa dan orang yang paling mampu mengendalikan syahwatnya. Wallahu a’lam [.]

 

 


Baca artikel menarik lainnya disini

 

 

dibuka peluang menjadi agen dikota anda, info dan pemesanan majalah fikih hujjah hubungi:

Tlp: 0821-4039-5077 (klik untuk chat)

facebook: @majalah.hujjah

Instagram: majalah_hujjah

%d bloggers like this: