Berpikiran Kotor Membatalkan Shalat?

Berpikiran Kotor Membatalkan Shalat?

Shalat merupakan tiang agama. Di antara rukunnya adalah thuma’ninah. Mengerjakan gerakan shalat dengan benar-benar sempurna, tidak tergesa-gesa dan tenang.

Nabi SAW  bersabda,

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

“Sejahat-jahat pencuri adalah yang mencuri dari shalatnya”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dari shalat?”. Rasulullah berkata, “Dia tidak sempurnakan ruku’ dan sujudnya” (HR. Ahmad no 11532, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 986)

Thuma’ninah terkait dengan ketenangan fisik. Berbeda dengan khusyu’. Khusyu’ berhubungan dengan ketenangan hati dan konsentrasi. Di dalam shalat, setan senantiasa menggoda manusia agar shalatnya tidak berpahala.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Jika adzan shalat dikumandangkan, setan mundur dengan terkentut-kentut sehingga dia tidak mendengar adzan. Jika adzan selesai, dia datang lagi. Jika diiqamati dia mundur lagi. Jika selesai iqamah, dia datang lagi sehingga mengganggu antara manusia dengan dirinya. Setan berkata, “Ingat ini ingat itu.” Sampai dia (manusia) tidak ingat hingga berapa rakaat dia shalat. Jika seseorang mendapatkan seperti itu, maka hendaklah dia sujud dua kali pada saat dia dalam keadaan duduk,” (HR Bukhari dan Muslim).

BERPIKIRAN KOTOR = TIDAK KHUSYU’

Di antara indikasi tidak khusyu’ adalah tidak kosentrasi dalam shalat. Kita memikirkan sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan bacaan atau gerakan shalat. Sekedar mengingat sesuatu yang mubah saja tergolong mengurangi kekhusyu’an apalagi berpikiran kotor.

Berpikiran kotor berarti memikirkan atau membayangkan pornografi dan atau pornoaksi dalam shalat. Proses membayangkan ini kita sebut dengan pikiran kotor.

PEBDAPAT

KHAWARIJ; BERPIKIRAN KOTOR MEMBATALKAN SHALAT

Sekte khawarij menganggap bahwa thaharah harus disertai dengan kesucian jiwa & pikiran. Ketika pikiran kotor, thaharahnya batal, sehingga batal pula shalatnya. (http://nunuyzane.blogspot.co.id/2013/04/pengaruh-golongan-politik-terhadap.html) Benarkah demikian?

Ini pendapat syadz (nyleneh) yang menyelisihi ijma’ ulama. Para ulama menegaskan bahwa khusyu’ adalah sunnah bukan rukun shalat. Imam Nawawi mengatakan:

“Dianjurkan untuk khusyu’, tunduk, dan merenungi bacaan al-Quran serta dzikir yang dibaca ketika shalat. Dan berusaha berpaling dari lintasan pikiran yang tidak ada hubungannya dengan shalat. Memikirkan yang lain ketika shalat dan banyak lintasan pikiran, tidak membatalkan shalat, namun statusnya makruh. Baik yang dipikirkan masalah yang mubah atau masalah yang haram, seperti minum khamr…. dan terdapat keterangan adanya ijma’ ulama bahwa lintasan semacam ini tidak membatalkan shalat. Sedangkan hukumnya makruh, ini disepakati ulama. (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/102)

SHALAT SAH TAPI PAHALA AKAN SIRNA                              ‘

Berpikiran kotor bukti hilangnya kosentrasi. Kondisi seperti ini terhitung tidak khusyu’. Hal ini menyebabkan pahala shalat berkurang bahkan bisa jadi sirna semua.

Shalat dianggap sah walaupun tidak khusyu’. Kekhusyuan bukan sesuatu yang membatalkan shalat atau rukun yang wajib dipenuhi agar shalat sah.  Akan tetapi, Allah SWT mengaitkan khusyu’ dengan pahala,

“Sungguh mendapat kemenangan orang-orang yang beriman, dimana dalam shalat mereka dalam keadaan khusyu’” (QS. Al-Mukminun : 1-2)

Berpikiran kotor merupakan proses dalam benak atau pikiran. Belum diucapkan atau dilaksanakan. Hal ini tidak mempengaruhi batal tidak nya wudhu seseorang. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA , Rasulullah SAW bersabda,

«إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا، مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ

Sesungguhnya Allah SWT memaafkan bagi umatku apa-apa yang dibisik oleh jiwanya selama tidak dilaksanakan atau diucapkan”. (HR. Bukhari)

Adapun kurangnya khusyu’ tidak membatalkan shalat sebagaimana ijma’ para ulama’ (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 4/102). Di antara yang dijadikan pijakan: Kekhusyuan Rasulullah SAW pernah terganggu. Tapi, beliau tidak mengulangi shalat.

Dari A’isyah RA , beliau menceritakan, bahwa Nabi SAW pernah shalat dengan memakai baju bergaris. Di tengah shalat, beliau melihat corak garis itu. Setelah salam, beliau bersabda,

“Berikan bajuku ini ke Abu Jahm, dan bawakan aku baju Ambijaniyah. Karena barusan, baju ini telah mengganggu kekhusyuanku ketika shalat.” (HR. Bukhari 373 & Muslim 556)

Baaca Juga:

Pendapat Nyeleneh Seputar Niat

Sholat Di Kubran?

 

KESIMPULAN

Tidak thuma’ninah membatalkan shalat sedang kekhusyu’an tidak memengaruhi sah tidaknya shalat. Berpikiran kotor masuk dalam kategori tidak khusyu’. Jadi, tidak perlu mengulang shalat. Namun demikian, apa kita mau shalat tapi sama sekali tidak mendapat pahala?

Wallahu ‘alam. []

 

%d bloggers like this: