Bermaqashid Harus dengan Dalil

barmaqashid harus dengan dalil

Syari’at Islam adalah milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, Allah turunkan kepada seluruh hambaNya sebagai rahmat bagi mereka. Di setiap syari’at yang Allah turunkan pasti ada tujuan (maqashiduha) dan hikmahnya (hikmatuha), apabila syari’at itu milik Allah maka tujuan dan hikmahnya juga milik Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Berbicara tentang maqashid syari’ah sama seperti halnya berbicara tentang hukum-hukum Allah. Maka dari itu, tidak boleh bermaqashid tanpa berdasarkan dalil syar’i sebagaimana tidak boleh berbicara soal hukum Allah jika tidak berdasarkan dalil syar’i.

Allah telah menegaskan dalam banyak ayat al-Qur’an tentang larangan berkata tanpa ilmu, Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. AlIsra’: 36)

Maqashid syari’ah bukan suatu ilmu dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak ada, pada hakekatnya maqashid syari’ah ada sejak pertama kali Allah menurunkan syari’at kepada hamba-Nya. Ibarat dua pasang yang selalu bersama, ilmu maqashid selalu berdekatan dengan dalil-dalil syar’i.

Siapapun orangnya tidak boleh mengkaji ilmu maqashid jika tidak berdasarkan dalil syar’i, karena tanpa dalil syar’i maqashid tidak dapat disimpulkan dan ditegakkan, tidak memandang apakah dia seorang yang fakih, ahli ushul, mufassir, atau muhaddits.

BACA JUGA: CARA MENGETAHUI MAQASHID SYARIAT

Perlu dipahami, untuk sampai pada kesimpulan maqashid syari’ah tidak cukup hanya dengan satu dalil tertentu, hanya dengan al-Qur’an saja misalnya, karena selain al-Qur’an ada dalil syar’i yang lain, seperti as-Sunnah, Ijmak, Qiyas, dan lain sebagainya. Fungsinya adalah melengkapi antara satu dengan yang lain, dan setiap masing-masing dalil memiliki peran serta kekuatan untuk menjadi hujjah yang benar.

Para salaf mengkaji dalil syar’i –yang nantinya akan sampai pada kesimpulan maqashid— tidak hanya dengan satu atau dua metode saja, mereka mengkaji dalil dari sisi tata bahasanya, nilai syar’inya, nalar akal secara umum, dan bahkan mengkaji dari sisi kecenderungan tabi’at. Namun demikian, mereka senantiasa menjaga kelurusan dalil tersebut dan tidak keluar dari kaidahkaidah syar’i yang ada. Untuk benar dalam bermaqashid syari’ah bukan dengan akal semata, bukan pula dengan hawa nafsu dan syahwat, apalagi dengan mengira-ngira atau mengandai-andai.

Secara garis besar ada dua petunjuk dalam mengkaji maqashid syari’ah agar sampai pada kesimpulan bahwa maqashid syari’at tidak dapat ditetapkan melainkan dengan ilmu dan dalil. Dua petunjuk itu adalah:

PERTAMA, BAHASA ARAB ADALAH PENJELAS UNTUK MENGETAHUI MAQASHID SYARI’AH

Pertama kali yang harus ditempuh untuk mengkaji maqashid syari’ah adalah memahami bahasa Arab dengan baik dan benar. Karena sumber segala dalil adalah alQur’an dan as-Sunnah, al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab dan Rasul yang diutus hidup di tengah-tengah bangsa Arab.

Imam asy-Syathibi, ketika menjelaskan metode penetapan maqashid beliau menuturkan bahwa, “Barangsiapa ingin memahami maqashid maka cara yang paling utama adalah memahaminya dari sisi bahasa Arab, tidak ada cara lain selain itu.”

KEDUA, MENJELASKAN ILLAT DALILDALIL SYAR’I

Yaitu mengambil istinbath dari illat-illat dalil syar’i seperti yang telah diajarkan oleh para ulama ushul, atau mengamalkan Qiyas. Dari sini sesorang akan mampu menganalisa persoalan-persoalan yang tidak disebut secara sharih dalam al-Qur’an, as-Sunnah maupun Ijmak.

Secara global ada tiga hal yang perlu diperhatikan saat mengkaji illat dalil-dalil syar’i, yaitu:
Melihat apakah ada Ijmak para ulama terkait illat sebuah dalil atau hukum tertentu, sebab dalam sebagian hal para ulama berijmak terhadap illat sebuah hukum, sehingga Ijmak tersebut dapat menjadi dasar penetapan kaidah-kaidah maqashid syari’ah.

Melihat adanya illat sharih pada nash syar’i. Contohnya adalah firman Allah tentang illat pembagian harta ghanimah yang artinya, “Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.” (QS. Al-Hasyr: 7). Dan melihat adanya illat yang secara tidak sharih disampaikan dalam nash syar’i.

Melihat sisi kecocokannya (al-Munasibah) sebuah hukum dengan sesuatu yang zahir; yang dapat diterima oleh akal. Seperti hukum tentang pengharaman sesuatu yang di dalamnya benar-benar ada maafsadatnya atau sebaliknya kewajiban terhadap sesuatu yang maslahatnya benar-benar tampak dan dapat dinalar oleh semua orang. Dari sini dapat disimpulkan bahwa maslahat maupun mafsadat tersebut adalah illat daripada hukum yang terkait, meskipun secara sharih hal itu tidak disebutkan dalam nash.

Itu sebagian metode untuk mengatarkan pada ilmu maqashid dan masih banyak metode-metode yang lain, yang perlu dikaji lebih dalam lagi. Wallahu a’lam. []

Disadur dari kitab al-Fikru al-Maqashidi Qawaiduhu wa Fawaiduhu karya Ahmad arRaisuny, hal. 58-67, dengan perubahan.

%d bloggers like this: