Berdzikir Dengan Tasbih

Berdzikir Dengan Tasbih

Setelah kita selesai melaksanakan shalat, terkadang kita dapati ada di antara jamaah yang berdzikir dengan menggunakan tasbih. Bahkan ada di beberapa wilayah, banyak para jamaah yang berdzikir dengan menggunakan tasbih. Bagaimana penjelasan dari para alim ulama mengenai amalan ini? Bolehkah kita berdzikir dengan menggunakan tasbih?

Ibnu Hajar al-Haitami asy-Syafi’i (W.974 H) pernah ditanya:

هَلْ لِلسُّبْحَةِ أَصْلٌ فِي السُّنَّةِ أَوْ لَا؟

(فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ: نَعَمْ، وَقَدْ أَلَّفَ فِي ذَلِكَ الْحَافِظُ السُّيُوطِيّ؛ … وَجَاءَ التَّسْبِيحُ بِالْحَصَى وَالنَّوَى وَالْخَيْطِ الْمَعْقُودِ فِيهِ عُقَدٌ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَمَنْ بَعْدَهُمْ وَأَخْرَجَ الدَّيْلَمِيُّ مَرْفُوعًا: نِعْمَ الْمُذَكِّرُ السُّبْحَةُ.

Apakah berdzikir dengan menggunakan tasbih ada dasarnya dari sunnah atau tidak?

Iya, al-Hafidz as-Suyuti telah menulis permasalahan ini… dan telah datang dari sekelompok sahabat dan orang-orang setelah mereka berdzikir dengan menggunakan kerikil, biji-bijian dan benang yang terikat.  Ad-Dailami meriwayatkan hadits secara marfu’, “Sebaik-baik pengingat (untuk berzikir) adalah tasbih.” (Al-Fatawa al-fiqhiyah al-Kubra, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar al-Haitami as-Sa’di al-Anshari, 1/152)

BACA JUGA: BERDOA SESUDAH DZIKIR SELEPAS SHALAT

Ibnu Nujaim al-Hanafi menjelaskan hadits mengenai salah seorang istri Nabi yang berdzikir dengan biji-bijian atau kerikil,

فَلَمْ يَنْهَهَا عَنْ ذَلِكَ وَإِنَّمَا أَرْشَدَهَا إلَى مَا هُوَ أَيْسَرُ وَأَفْضَلُ وَلَوْ كَانَ مَكْرُوهًا لَبَيَّنَ لها ذلك ثُمَّ هذا الْحَدِيثُ وَنَحْوُهُ مِمَّا يَشْهَدُ بِأَنَّهُ لَا بَأْسَ بِاتِّخَاذِ السُّبْحَةِ الْمَعْرُوفَةِ لِإِحْصَاءِ عَدَدِ الْأَذْكَارِ إذْ لَا تَزِيدُ السُّبْحَةُ على مَضْمُونِ هذا الحديث إلَّا بِضَمِّ النَّوَى وَنَحْوِهِ في خَيْطٍ وَمِثْلُ هذا لَا يَظْهَرُ تَأْثِيرُهُ في الْمَنْعِ.

Rasulullah tidak melarangnya (salah seorang istri beliau yang berdzikir dengan menggunakan biji-bijian atau kerikil) dari perbuatan tersebut. Beliau hanya mengajari kalimat dzikir yang lebih mudah dan lebih utama. Kalau seandainya apa yang dilakukan oleh istrinya adalah perbuatan makruh niscaya beliau akan menjelaskan kepada istrinya. Kemudian hadits ini (Hadits dari Sa’ad bin Abi Waqash mengenai salah seorang istri Nabi yang berdzikir dengan biji-bijian atau kerikil) dan yang semisalnya menguatkan bahwa tidak mengapa menggunakan tasbih yang biasa digunakan untuk menghitung jumlah dzikir. Tidak ada keterangan tambahan dalam hadits ini kecuali tentang biji-bijian yang terangkai di dalam benang dan yang semisalnya. Tidak nampak (dalam hadits tersebut) yang kesannya melarang. (Al-Bahru ar-Raiq Syarhu Kanzi ad-Daqaiq, Zainuddin Ibnu Nujaim al-Hanafi, 2/31)

Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah al-Harani mejelaskan,

وَعَدُّ التَّسْبِيحِ بِالْأَصَابِعِ سُنَّةٌ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلنِّسَاءِ: {سَبِّحْنَ وَاعْقِدْنَ بِالْأَصَابِعِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ}. وَأَمَّا عَدُّهُ بِالنَّوَى وَالْحَصَى وَنَحْوُ ذَلِكَ فَحَسَنٌ وَكَانَ مِنْ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ وَقَدْ رَأَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تُسَبِّحُ بِالْحَصَى وَأَقَرَّهَا عَلَى ذَلِكَ وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يُسَبِّحُ بِهِ .وَأَمَّا التَّسْبِيحُ بِمَا يُجْعَلُ فِي نِظَامٍ مِنْ الْخَرَزِ وَنَحْوِهِ فَمِنْ النَّاسِ مَنْ كَرِهَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يَكْرَهْهُ وَإِذَا أُحْسِنَتْ فِيهِ النِّيَّةُ فَهُوَ حَسَنٌ غَيْرُ مَكْرُوهٍ.

Menghitung bacaan dzikir dengan jari-jemari adalah sunnah, sebagaimana sabda Nabi Muhammad ﷺ kepada para shahabiyah, “Berdzikirlah dan hitunglah dengan jari-jemari, karena jari-jemari tersebut akan ditanya dan akan berbicara.” Adapun menghitungnya dengan biji-bijian, kerikil dan yang semisalnya, maka hal itu adalah sesuatu yang baik. Dan di antara sahabat ada yang melakukan amalan seperti itu. Sungguh Nabi ﷺ pernah melihat umul Mukminin berdzikir menggunakan kerikil dan beliau menyetujui amalan tersebut. Dan telah diriwayatkan, bahwasanya Abu Hurairah berdzikir dengan menggunakan kerikil. Adapun tasbih yang dibuat dari manik-manik dan yang semisalnya, maka ada sebagian yang memakruhkannya dan ada pula yang tidak memakruhkannya. Apabila niatnya dalam hal ini (berdzikir dengan tasbih) adalah baik maka hal ini adalah sesuatu hal yang baik bukan makruh. (Majmu’ al-Fatawa, Ahmad bin Abdul Halim Ibnu Taimiyah al-Harani, 22/506)

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjawab pertanyaan berdzikir dengan tasbih,

التَّسْبِيْحُ بِالْمُسَبَّحَةِ تَرْكُهُ أَوْلَى وَلَيْسَ بِبِدْعَةٍ لِأَنَّ لَهُ أَصْلًا وَهُوَ تَسْبِيْحُ بَعْضِ الصَّحَابَةِ بِالْحَصَى، وَلَكِنَّ الرَّسُوْلَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْشَدَ إِلَى أَنَّ التَّسْبِيْحَ بِالْأَصَابِعِ أَفْضَلُ.

Berdzikir dengan menggunakan tasbih, meninggalkannya lebih utama dan bukan perkara bid’ah karena hal ini ada dasarnya, yaitu sebagian sahabat berdzikir dengan menggunakan kerikil. Akan tetapi, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa bertasbih dengan jari jemari itu lebih utama. (Silsilah Liqoat al-Bab al-Maftuh, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 3/34) Wallahu a’lam. []

 

Oleh: Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: