Berdoa, Sesudah Dzikir, Selepas Shalat.

Berdoa Setelah Berdzikir Selepas Shalat

Berdoa adalah sebuah amalan yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Karena manusia adalah makhluk yang fakir serta lemah, sehingga manusia senantiasa membutuhkan Rabbnya. Rasulullah SAW pun telah memberikan contoh kepada kita bagaimana berdoa kepada Allah SWT. Di dalam doa, terkadang beliau mengangkat tangan dan terkadang tidak. Misalkan ketika berdoa untuk meminta hujan beliau mengankat tangan dan ketika berdoa dalam khatbah jum’at beliau tidak mengangkat tangan, melainkan hanya mengisyaratkan dengan telunjuk jarinya. Maka bagaimana ketarangan para ahli fikih mengenai mengangkat tangan ketika berdoa selepas dzikir setelah shalat fardhu? Bolehkah kita mengangkat tangan? bolehkah selesai berdoa kita usapkan kedua tangan ke wajah?

إِنَّ اللهَ حَيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِ أَنْ يَرْفَعَ الْعَبْدُ يَدَيْهِ فَيَرُدَّهُمَا صِفْرا

Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Mulia, Allah merasa malu tatkala seorang hamba mengangkat tangannya (untuk berdoa) kemudian kembali dalam keadaan kosong. (HR. Hakim)

BERDOA SETELAH SHALAT FARDHU SELEPAS DZIKIR DENGAN MENGANGKAT TANGAN

Dalam permasalahan ini para ahli fikih telah menjelaskan secara panjang lebar. Para ahli fikih dalam permasalah ini terbagi menjadi tiga pendapat.

  Pendapat pertama

berdoa setelah shalat fardhu selepas dzikir dengan mengangkat tangan tidak ada contoh dari Nabi SAW. Pendapat seperti ini adalah pendapat ahli fikih dari madzhab Maliki. (Al-Muasu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah, 45/ 267). Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa berdoa dengan mengankat tangan setelah salam tidaklah disyariatkan bukan dari sunnah. (Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah, Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, 2/ 268). Para ulama ma’ashir juga berpendapat bahwa mengangkat tangan untuk berdoa setelah shalat selepas dzikir tidak diperbolehkan karena tidak nash sharih yang menyatakan hal tersebut. Diantara ulama ma’ashir yang berpendapat demikian adalah Syaikh Ibnu Baz. Berliau berkata, “Tidak disyari’atkan untuk mengangkat kedua tangan (ketika berdo’a) pada kondisi yang kita tidak temukan di masa Nabi SAW  mengangkat tangan pada saat itu. Contohnya adalah berdo’a ketika selesai shalat lima waktu, ketika duduk di antara dua sujud, ketika berdo’a sebelum salam, ketika khutbah jum’at atau shalat ‘ied. Dalam kondisi seperti ini hendaknya kita tidak mengangkat tangan (ketika berdo’a) karena memang Nabi SAW tidak melakukan demikian, padahal beliau n adalah suri tauladan kita dalam hal ini. Namun ketika meminta hujan pada saat khutbah jum’at atau khutbah ‘ied, maka disyariatkan untuk mengangkat tangan sebagaimana dilakukan oleh Nabi SAW.” (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 11/ 181)

Beliau juga berkata, “Begitu pula berdoa sesudah shalat lima waktu setelah selesai berdzikir, maka tidak dilarang untuk berdoa ketika itu, karena terdapat hadits yang menunjukkannya. Namun perlu diperhatikan bahwa tidak perlu mengangkat tangan ketika itu. Alasannya, karena Nabi SAW tidak melakukan demikian. Wajib bagi setiap muslim senantiasa untuk berpedoman pada al-Kitab dan as-Sunnah dalam setiap keadaan dan berhati-hati dalam menyelisihi keduanya. Wallahu waliyyut taufik.” (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, 11/ 181)

  Pendapat kedua

dianjurkan berdoa setelah shalat fardhu selepas dzikir dengan mengangkat tangan. Ini adalah pendapat jumhur ahli fikih, mereka adalah ahli fikih dari madzhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i. (al-Muasu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah, 45/ 266-267)

Imam an-Nawawi menjelaskan dalam kitabnya al-Majmu’, bahwa dianjurkan mengangkat tangan ketika berdoa di luar shalat. Diantara salah satu dalil beliau adalah hadits dari Salman al-Farisi yang artinya “Sesungguhnya Allah Maha Pemalu lagi Mulia, Allah merasa malu tatkala seorang hamba mengangkat tangannya (untuk berdoa) kemudian kembali dalam keadaan kosong.” (HR. Hakim). (Al-Majmu’ Syarhu al-Muhadzdzab, Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, 3/ 506-507)

Al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa jumhur ulama yang berpendapat dianjurkan mengangkat tangan (ketika berdoa setelah shalat fardhu selepas dzikir) berargumen dengan; keumuman hadits mengangkat tangan ketika berdoa, disyariatkannya berdoa setelah shalat fardhu (selepas dzikir), mengangkat tangan merupakan adab dalam berdoa, sesungguhnya tidak ada larangan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat fardhu akan tetapi banyak hadits dhoif yang mensyariatkan. Setelah tetapnya perkara-perkara diatas dan tidak adanya larangan, maka mengangkat tangan ketika berdoa setelah shalat fardhu (selepas dzikir) bukanlah kebid’ahan yang tercela. Akan tetapi, hal ini boleh untuk dikerjakan. (Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim al-Mubarakfury, Tuhfatul Ahwadzy, 2/172)

MENGUSAP WAJAH SETELAH BERDOA

Mengusap wajah merupakan kebiasaan sebagian kaum muslimin tatkala selesai berdoa kepada Allah f. Akan tetapi, sebagaian yang lain mengingkari, bahkan ada yang beranggapan bahwa mengusap wajah setelah berdoa adalah perkara yang tidak ada contohnya dari Nabi SAW. Mengenai permasalah ini, para ahli fikih telah berselisih pendapat. Mereka terbagi menjadi tiga pendapat sebagaimana yang dijelaskan oleh syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam bukunya Syahru al-Mumti’. Ketiga pendapat tersebut yaitu:

  Pendapat pertama

Tidak disyariatkan mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa. Bahkan ketika dilakukan terus menerus maka termasuk perkara bid’ah. Ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas. Tatkala beliau ditanya tentang seorang yang mengusap wajah dengan kedua tangannya setelah berdoa, beliau mengingkari perbuatan tersebut dan berkata, “saya tidak mengetahui perbuatan semacam itu”. Beliau mengingkari amalan tersebut karena beliau berpendapat bahwa amalan tersebut adalah amalan baru yang tidak ada contoh dari Nabi SAW. (al-Bayan wa at-Tahshil wa asy-Syarhu wa at-Taujih wa at-Ta’lil li Masaili al-Mustakhrajah, Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusydi al-Qurtuby, 18/ 49)

Syaikul Islam Ibnu Taimiyah, beliau menyakatan bahwa mengusap wajah dengan kedua tangannya, maka tidaklah ada yang menunjukkan hal itu kecuali satu hadits atau dua hadits yang keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Sedangkan mengusap wajah merupakan rangkaian amalan ibadah setelah berdoa, adapun ketika hendak melaksanakan amalan ini maka harus mendatangkan hujjah yang shahih. (Al Fatawa Al Kubra, Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah al-Harany, 2/216, Majmu’ al-Fatawa, 22/519, Iqamatu ad-Dalil ‘Ala Ibthali at-Tahlil, 2/408)

Diantara ulama yang perpendapat seperti ini ialah Sufyan ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, al-Baihaqy, an-Nawawi, Izzuddin bin Abdissalam, syaikh Abdullah bin Baz pun juga merajihkan pendapat yang ini. (Majmu’ Fatawa, Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, 26/ 138)

  Pendapat kedua

dianjurkan mengusap wajah setelah selesai berdoa. Ini adalah pendapat yang benar dalam madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali, salah satu pendapat madzhab Maliki. (Al-Muasu’ah al-Fiqhiyah al-Quwaitiyah, 45/ 267). Mereka yang berpendapat dianjurkan mengusap wajah setelah berdoa berlandaskan dengan hadits-hadits yang dhoif yang jumlahnya banyak, yang mana tatkala hadits-hadits dhoif memiliki jalur yang banyak maka haditsnya dihukumi menjadi hadits hasan. (Bulughu al-Maram Min Adilati al-Ahkam, Ibnu Hajar al-Atsqalany, 1/ 299). Diantara haditsnya yaitu;

hadits dari Ibnu Umar,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ لَا يَرُدُّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Sesungguhnya apabila Nabi SAW mengangkat kedua tangannya (untuk berdoa), tidaklah beliau menurunkan keduanya hingga beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya tersebut. (HR. Tirmidzi)

Pendapat ketiga, mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai berdoa bukan termasuk sunnah dan bukan pula bid’ah. Maksudnya amalan tersebut boleh-boleh saja dikerjakan (mubah). Bagi mereka yang mengamalkannya, kita tidak menganggap hal tersebut bid’ah. Bagi mereka yang tidak mengerjakannya pun tidak mengurangi amalannya. (Syarhu al-Mumti’ ‘Ala Zadi al-Mustaqni’, Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, 4/ 40)

Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: