Berbeda Tapi Tak Mengapa

perbedaan pendapat

Para ulama telah menjelaskan, bagaimana sikap seorang muslim ketika terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama dalam suatu permasalahan. Diantaranya adalah untaian kata dari Al Hafidz Ibnu Abdul Bar:

عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ فُقَهَاءِ الْسَلَفِ أَنَّ الْاِخْتِلَافَ فِيْ الْفُرُوْعِ فِيْهِ سَعَةٌ ، فَرُوِيَ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ قَالَ : لَقَدْ نَفَعَ اللَّهُ تَعَالَى بِاخْتِلَافِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَعْمَالِهِمْ ، لَا يَعْمَلُ الْعَالِمُ بِعَمَلِ رَجُلٍ مِنْهُمْ إِلَّا رَأَى أَنَّهُ فِي سَعَةٍ وَرَأَى أَنَّهُ خَيْرٌ مِنْهُ قَدْ عَمِلَهُ .

Beliau menceritakan dari para fuqaha’ salaf, mereka menyatakan “sesungguhnya perbedaan pendapat dalam permasalahan cabang (fiqih) terdapat kelonggaran di dalamnya.” Diriwayatkan dari Al Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr, dia berkata, “sungguh Allah telah memberikan manfaat dalam perbedaan para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam amalan-amalan mereka, tidaklah seorang yang berilmu beramal dengan amalan salah seorang dari mereka, kecuali ia berpendapat bahwa amalan tersebut masuk dalam kategori perkara yang ada kelonggaran dan  beranggapan bahwa pendapat tersebut adalah yang terbaik dari pendapat lain yang telah diamalkannya.”

Beliau juga berkata,

لَقَدْ أَوْسَعَ اللَّهُ عَلَى النَّاسِ بِاخْتِلَافِ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَيُّ ذَلِكَ أَخَذْتَ بِهِ لَمْ يَكُنْ فِي نَفْسِكَ مِنْهُ شَيْءٌ .

“sungguh Allah telah memberi kelonggaran kepada manusia dalam perbedaan pendapat para sahabat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, pendapat manapun yang kamu ambil, tidaklah mengapa bagimu. (Jami’ bayani al-ilmi wa fadhlihi, Abu Umar Yusuf bin Abdullah bin Muhammad bin Abdil Bar bin Ashim An-Namari Al-Qurtubi, 2/80)

Ibnu Taimiyan juga menuliskan dalam bukunya raf’ul malaim ‘anil Aimmatil a’lam:

أنَّ الْاِخْتِلَافَ فِيْ الْفُرُوْعِ لَا بَأْسَ بِهِ ،وَأَنَّ فِيْهِ تَوْسِعَةً عَلَى الْأُمَّةِ مَا دَامَ صَادِراً عَنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْاِجْتِهَادِ .

Sesungguhnya perbedaan dalam masalah cabang (hasil ijtihad) tidaklah mengapa, dan sungguh di dalamnya terdapat kelonggaran bagi umat, selama perbedaan tersebut disandarkan kepada ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad.” (raf’ul malami ‘anil Aimmatil A’lam, Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam bin Taimiyah, 108)

(baca juga: Kelapangan Islam Dalam Perbedaan Pendapat Fikih)

Dalam kitab Syarh al Aqidah ath Thahawiyah juga dijelaskan bahwa perbedaan pendapat yang qawiy (memiliki hujjah yang sama-sama kuat) tidak boleh diingkari.

وَالْخِلَافُ الْقَوِيٌّ لَا إِنْكَارَ فِيْهِ، فَإِذَا كَانَتْ الْمَسْأَلَةُ فِيْهَا خِلَافٌ قَوِيٌّ فَلَا عَتْبَ مِنَ الْأَصْلِ لِمَنْ أَخَذَ بِأَحَدِ الْقَوْلَيْنِ، أَخَذَ بِهَذَا وَأَخَذَ بِهَذَا، هَذَا يَرَى كَذَا وَهَذَا يَرَى كَذَا، الْمَسْأَلَةُ فِيْهَا سَعَةٌ.

Tidak boleh mengingkari sebuah perbedaan yang di dalamnya memiliki hujjjah yang sama-sama kuat. Apabila dalam sebuah permasalahan terdapat perbedaan pendapat yang sama-sama kuat hujjahnya , maka pada dasarnya tidak tercela bagi siapa yang mengambil salah satu dari dua pendapat tersebut. Yang satu mengambil yang ini dan yang satu mengambil yang itu. Ini berpendapat begini dan yang itu berpendapat begitu. Permasalahan seperti ini di dalamnya terdapat kelonggaran. (Syarh al Aqidah ath Thahawiyah, Shalih bin Abdul Aziz Alu asy Syaikh, 723)

Al Imam Ibnu Abdul Bar meriwayatkan di dalam “keutamaan ilmu dan Ulama” yang disandarkan kepada Yahya bin Sa’id, ia berkata,

مَا بَرِحَ أُوْلُوْا الْفَتْوَى يُفْتُوْنَ ، فَيُحِلُّ هَذَا ، وَيُحَرِّمُ هَذَا ، فَلَا يَرَى الْمُحَرِّمُ أَنَّ الْمُحَلِّلَ هَلَكَ لِتَحْلِيْلِهِ ، وَلَا يَرَى الْمُحَلِّلُ أَنَّ الْمُحَرِّمَ هَلَكَ لِتَحْرِيْمِهِ . وَاْلِاخْتِلَافُ فِيْ الْفُرُوْعِ طَبِيْعَةٌ بَشَرِيَّةُ أَقَرَّتْهُ الْشَرَائِعُ السَمَاوِيَّةُ الْأُخْرَى. قال الله تعالى : وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ. فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا.

“selama seorang mufti berfatwa, menghalalkan ini dan mengharamkan ini. Maka mufti yang mengharamkan tidak boleh menganggap bahwa mufti yang menghalalkan akan binasa karena penghalalannya dan begitu pula mufti yang menghalalkan tidak boleh menganggap bahwa mufti  yang mengharamkan akan binasa karena pengharamannya. Perbedaan pendapat dalam masalah Furu’ (hasil ijtihad) merupakan tabiat manusiawi, sebagaimana telah ditetapkan dalam syari’at-syari’at samawi yang lain. Allah berfirman,  “Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu” . (QS. Al Anbiya’: 78-79) (Al Fiqhiyatu Asbabuha wa Adabuha,77)

%d bloggers like this: