Berbagi Biaya Tak Selalu Berbagi Pahala

Berbagi Biaya Tak Selalu Berbagi Pahala

Makin hari, Umat Islam di Indonesia makin semangat beramal. Terutama ibadah kurban pada Iedul Adha. Tentunya, 10 tahun silam jumlah pengkurban tidak sebanyak sekarang. Bahkan di beberapa daerah, sejak bulan Ramadhan, digalakkan patungan sapi dan mulai dicicil sedikit demi sedikit. Tujuannya jelas, agar ibadah kurban terasa lebih ringan.

Saking semangatnya, ratusan murid di suatu sekolah atau jamaah masjid diajari untuk berkurban. Seekor kambing ditanggung oleh warga satu sekolah. Kadang iuran per anak Rp3000 atau lebih. Bagaimana tidak ingin, pahala berkurban sangat banyak.

Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Ibnu Majah no. 3126. Hadits ini dhaif menurut Syaikh Al Albani)

Karena keutamaan-keutamaan khusus sekaligus syiar kaum muslimin, banyak yang ingin mendapatkan pahala kurban dengan ‘modal’ dana yang ringan. Akhirnya, saling berbagi biaya agar sama-sama berpahala.

Berbagi biaya untuk kurban sapi tak ada persoalan. Karena sapi memang bisa ditanggung maksimal 7 orang; tidak boleh lebih. Abdullah bin Abbas radhiyallahu’anhu pernah menjelaskan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Idul Adhha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk kurban seekor unta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (HR Tirmidzi no. 905)

Masalahnya adalah berbagi biaya untuk kurban kambing. Padahal dalam sebuah hadits disebutkan, ”Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai kurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi no. 1505)

Berdasarkan hadits di atas, kurban seekor kambing cukup untuk seluruh anggota keluarga—istri dan anak-anak, meskipun jumlahnya banyak. Tetapi tidak untuk keluarga yang berbeda.

 

KENAPA HARUS BERBAGI BIAYA

Kurban kambing yang ditanggung banyak orang merupakan cara berkurban yang nyleneh. Cara ini menyelisihi hadits.

Adapun sebagian umat islam yang membenarkan patungan kambing atau berbagi biaya pengadaan kambing dengan alasan hadits Jabir bin ’Abdillah berikut,

”Aku bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menghadiri shalat Idul Adha di tanah lapang. Setelah NabiSAW  berkhutbah, beliau turun dari mimbar kemudian beliau diserahkan satu ekor domba. Lalu beliau memotong dengan tangannya, lantas bersabda, ”Bismillah, wallahu akbar. Ini adalah kurbanku dan kurban siapa saja dari umatku yang tidak ikut berkurban”. (HR. Abu Dawud no. 2810)

Mereka beralasan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam meniatkan kurban untuk seluruh umatnya yang tidak berkurban. Maknanya, boleh saja kita niatkan kurban untuk satu RT, satu sekolahan atau satu desa. Dan biaya ditanggung bersama.

Hadits di atas oleh para ahli fikih dikhususkan bagi Nabi SAW saja. Tidak untuk umatnya. Sedangkan umatnya hanya diperbolehkan menyembelih kurban kambing untuk dirinya dan keluarganya.

Al-Qodhi Abu Ishaq menjelaskan, ”Perkataan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ini –wallahu a’lam- sebagaimana seseorang boleh  berkurban untuk dirinya dan keluarganya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam boleh berkurban atas nama seluruh kaum muslimin karena beliau adalah ayah mereka dan istri-istri beliau adalah ibu mereka.” (Al-Muntaqa Syarh Al Muwatha, 3/113)

 

SOLUSI BIAYA KURBAN

Rata-rata alasan mendasar biaya kurban kambing ditanggung bersama karena kurang mampu. Kalau memang ingin mengejar pahala kurban, solusinya adalah hutang atau arisan. Dengan syarat yakin mampu membayarnya di kemudian hari.

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan tentang orang yang tidak mampu aqiqah—sama halnya dengan kurban, ”Jika seseorang tidak mampu aqiqah, maka hendaknya ia mencari utangan dan berharap Allah akan menolong melunasinya. Karena seperti ini akan menghidupkan ajaran Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam.” (Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/11011)

 

KESIMPULAN

Umat islam berbagi biaya kurban kambing tidak bisa dikatakan telah berkurban. Insyaallah masih terhitung sedekah saja tidak sampai derajat pahala kurban. Karena amaliyah kurban harus sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. Walaupun dengan satu penanggung biaya, pahala kurban bisa diniatkan untuk keluarganya. Wallahu a’lam bish showab.

 

 

Kontroversi: yahya

%d bloggers like this: