Berapapun Wajib Dizakati

Zakat

Zakat termasuk pondasi Islam. Pembangkang yang enggan menunaikannya diancam Allah SWT dan Rasul-Nya. Ancaman dahsyat telah Allah SWT terangkan dalam QS. At-Taubah: 34-35. Allah SWT akan membakar dahi, lambung, dan punggung mereka yang enggan mengeluarkan zakat. Tidak hanya itu, Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Bukhari menerangkan ular jantan akan menyiksa mereka di akhirat.

KEHATI-HATIAN TAPI BERESIKO BESAR

Ancaman yang begitu tegas dari Allah SWT dan Rasul-Nya membuat sebagian kaum muslimin mengambil sikap berlebihan dalam fiqih zakat. Ada satu pendapat yang tersebar di antara kaum muslimin, bahwa apapun yang kita miliki wajib dizakati. Tanpa harus menunggu haul (genap satu tahun) atau tak harus mencapai nishab (batas minimal harta yang wajib dizakati)

Barangkali karena ingin terhindar dari ancaman Allah SWT, mereka berpendapat wajib mengeluarkan zakat bila mempunyai uang/harta apapun dan berapapun. Misalkan, fulan memiliki Rp10.000 maka wajib disucikan dengan membayar 2,5% nya.

Konsekuensi pendapat ini, seseorang yang tidak mengeluarkan zakat tersebut (Rp250 untuk harta Rp10.000, misalkan) akan terkena sanksi yang tegas dari Allah SWT dan Rasul-Nya.
Pendapat aneh ini juga tidak membedabedakan jenis harta. Semua wajib dizakati. Apapun itu, bagaimanapun bentuknya, yang penting harta itu statusnya adalah dimiliki.

Pendapat ini disimpulkan ~tanpa mendalami pendapat para sahabat/ulama’ mujtahid~ dari ayat ini,
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” [QS.Al-Baqarah : 3]

Dari Aisyah Ra , ia berkata,  Rasulullah SAW masuk ke rumahku. Beliau melihat di tanganku ada cincin perak. Beliau bersabda, “Apakah ini wahai Aisyah?” Aku menjawab, “Aku memakainya untuk berhias di depanmu wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Apakah kamu menunaikan zakatnya?” Aku menjawab, “Tidak, atau sesuai kehendak Allah.” Beliau bersabda, “Zakat akan mencegahmu dari api neraka.” (HR. Abu Dawud, Hakim dalam Mustadraknya, Ad-Daruquthni dan AlBaihaqi)

Ayat dan hadits di atas tidak menyebutkan spesifik tentang batas minimal harta yang wajib dizakati. Logikanya, semua harus dizakati tanpa harus menunggu satu tahun atau mencapai batasan-batasan tertentu.

Kesalahan pengambilan kesimpulan ini berujung pada apapun dan berapapun harta kita wajib dizakati. Rumah, kendaraan, perhiasan, uang recehan, baju, buku, makanan, HP, uang hasil panen, hasil penjualan dan lain sebagainya harus dizakati 2,5% terlebih dahulu tanpa haul dan nishab. Lebih aneh lagi, hasil zakat ini harus diberikan kepada Imam pengajiannya, bila dibagikan sendiri ke fakir miskin tanpa melalui sang Imam maka zakatnya dianggap tidak sah. Allahu musta’an ISLAM

MEMBATASI HARTA YANG WAJIB DIZAKATI

Syariat zakat tidak akan membebani kaum muslimin yang fakir miskin. Rasulullah SAW memberikan batasan jumlah harta yang wajib dizakati. Ancaman dahsyat bagi pembangkang zakat, hanya untuk  kaum muslimin yang hartanya telah mencapai nishab dan haul. Bukan tanpa batas sehingga setiap muslim terbebani harus menzakati apapun dan berapapun harta mereka.

Berikut dalil-dalil dari hadits Nabi yang membantah pendapat mereka,

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Albani). Tapi zakat pertanian, buah-buahan & zakat harta karun (rikaz) tidak perlu adanya haul (genap satu tahun) menurut hadits lain dan para ulama’.

Rasulullah SAW bersabda: “Apabila engkau memiliki 200 dirham dan telah lewat satu tahun, maka zakatnya sebanyak 5 dirham. Tidak wajib atasmu zakat (emas) kecuali engkau memiliki 20 dinar, jika engkau memiliki 20 dinar dan telah lewat satu tahun, maka zakatnya setengah dinar.” (Shahih Sunan Abi Dawud no. 1391, Sunan Abi Dawud IV/447 no. 1558)

Dari Abu Sa’id al-Khudri z  bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada zakat pada unta yang jumlahnya kurang dari 5 ekor, juga pada perak yang kurang dari 5 awaq, dan tidak pula pada kurma yang kurang dari 5 ausuq.” (Shahih al-Bukhari Fathul Baari III/310  no. 1447)

Bahkan Sayyid Sabiq menukil perkataan Imam Nawawi bahwa bila suatu ketika nishab tersebut berkurang selama masa haul (satu tahun), maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau sempurna lagi setelah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika sempurna nishab tersebut. (Fiqh Sunnah 1/468)

baca juga: Bahan Baku Industri, Adakah Zakatnya?

SYARIAT ISLAM TIDAK MENYENGSARAKAN FAKIR MISKIN

Ketika apapun dan berapapun harta wajib dizakati, akhirnya fakir miskin juga wajib menzakati hartanya. Ketika mereka memiliki uang Rp.100.000, maka wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5%. Bukankah zakat berfungsi menyejahterakan fakir miskin? Pendapat aneh ini tentu akan membebani fakir miskin yang seharusnya mendapat bantuan dari zakat. Kenapa harus meyakini kebenaran pendapat aneh ini?. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: