Berada di Masjid Saat Kondisi Haid, Nifas atau Junub

Berada di Masjid Saat Kondisi Haid, Nifas atau Junub

Masjid adalah tempat ibadah yang senantiasa harus dijaga kesuciannya. Baik kesucian tempatnya, atau kesucian orang yang hendak memasukinya. Lalu bagaimana dengan orang yang sedang haid, nifas, atau junub? Apakah boleh masuk dan berdiam diri di masjid? Mari simak ulasan berikut ini.

Imam an-Nawawi ketika menjelaskan mengenai hukum wanita haid, nifas, dan junub, beliau menyatakan,

وَيَحْرُمُ حَمْلُ الْمُصْحَفِ وَمَسُّهُ لِقَوْلِهِ تَعَالَى لَا يَمَسُّهُ اِلَّا الْمُطَهَّرُوْنَ وَيَحْرُمُ الْلُبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ لِقَوْلِهِ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أُحِلُّ المَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ فَأَمَّا الْعُبُوْرُ فَاِنَّهَا إِذَا اسْتَوْثَقَتْ مِنْ نَفْسِهَا جَازَ لِاَنَّهُ حَدَثٌ يَمْنَعُ الْلُبْثَ فِيْ الْمَسْجِدِ فَلَا يَمْنَعُ الْعُبُوْرَ كَالْجَنَابَةِ.

Diharamkan membawa dan menyentuh mushaf al-Qur’an karena firman Allah Ta’ala, “Tidak boleh menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” Diharamkan pula berdiam diri di dalam masjid karena sabda Nabi ﷺ, “Aku tidak menghalakan masjid bagi wanita haid dan orang yang junub.” Adapun hanya sekedar lewat, apabila wanita haid tersebut merasa yakin terhadap dirinya sendiri maka diperbolehkan, karena hadats melarang seseorang berdiam diri di masjid bukan melarang seseorang lewat sebagaimana junub. (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 2/357)

يَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ وَالنُّفَسَاءِ مَسُّ الْمُصْحَفِ وَحَمْلُهُ وَالْلُبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ وَكُلُّ هَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ عِنْدَنَا

Diharamkan bagi wanita haid dan nifas menyentuh dan membawa mushaf al-Qur’an dan berdiam diri di dalam masjid. Semua ini telah disepakati menurut mazhab kami (mazhab Syafi’i). (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 2/360)

Zainuddin bin Ibnu Nujaim al-Hanafi menjelaskan,

(وَدُخُولُ مَسْجِدٍ) أَيْ يَمْنَعُ الْحَيْضَ دُخُولَ الْمَسْجِدِ وَكَذَا الجنابة (الجبانة) وَخَرَجَ بِالْمَسْجِدِ غَيْرُهُ كَمُصَلَّى الْعِيدِ وَالْجَنَائِزِ وَالْمَدْرَسَةِ وَالرِّبَاطِ فَلَا يَمْنَعَانِ من دُخُولِهَا.

(Masuk masjid) maksudnya wanita haid dilarang masuk ke dalam masjid begitu juga seorang yang junub. (tanah lapang) maksudnya bukan termasuk tempas shalat yang lainnya seperti tempat untuk shalat id, shalat jenazah, sekolahan, tempat ribat (perbatasan wilayah kekuasaan) maka kedua hal tersebut (haid dan junub) tidak menghalanginya untuk masuk ke tempat-tempat tersebut. (Al-Bahru ar-Raqiq syarhu Kanzi ad-Daqaiq, Zainuddin bin Ibnu Nujaim al-Hanafi, 1/205)

As-Sarkhasiy al-Hanafi juga menjelaskan,

أَنْ لَا تَدْخُلَ الْمَسْجِدَ لِأَنَّ مَا بِهَا مِنَ الْأَذَى أَغَلَظُ مِنَ الْجَنَابَةِ وَالْجُنُبُ مَمْنُوْعٌ مِنْ دُخُوْلِ الْمَسْجِدِ فَكَذَلِكَ الْحَائِضُ وَهَذَا لِأَنَّ الْمَسْجِدَ مَكَانُ الصَّلَاةِ فَمَنْ لَيْسَ مِنْ أَهْلِ أَدَاءِ الصَّلَاةِ مَمْنُوْعٌ مْنِ دُخُوْلِهِ.

Hendaknya (wanita haid) tidak masuk masjid karena apa yang ada pada dirinya adalah sesuatu yang mengganggu bahkan lebih parah dari pada junub. Adapun orang yang junub dilarang masuk masjid, dan begitu pula wanita haid. Hal ini dikarenakan masjid adalah tempat shalat, maka barang siapa yang tidak terbebani melaksanakan shalat dilarang memasukinya. (Al-Mabsuth, as-Sarkhasiy, 3/152)

Ad-Dasuqi al-Maliki mengenai wanita haid masuk ke dalam masdi, beliau menuturkan dalam salah satu bukunya,

وَيَحْرُمُ عَلَى الْحَائِضِ أَيْضًا دُخُولُ مَسْجِدٍ وَمَسُّ مُصْحَفٍ

Dan diharamkan bagi wanita haid masuk masjid dan menyentuh mushaf al-Qur’an. (Hasyiah ash-Shawi ‘ala asy-Syarhi ash-Shaghir, Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad al-Khaluti terkenal dengan nama ash-Shawi al-Maliki, 1/216)

Ketika Ibnu Qudamah al-Maqdisi membahas permasalan ini, beliau menjelaskan,

وَلَيْسَ لَهُمُ الْلُبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ لِقَوْلِ اللهِ تَعَالَى: وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِيْ سَبِيْلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوْا وَرَوَتْ عَائِشَةُ قَالَتْ: جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَبُيُوْتُ أَصْحَابِهِ شَارِعَةٌ فِيْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ: وَجِّهُوْا هَذِهِ الْبُيُوْتَ عَنِ الْمَسْجِدِ فَإِنِّي لَا أُحِلُّ المَسْجِدَ لِحَائِضٍ وَلَا جُنُبٍ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدُ… إِذَا تَوَضَأَ الْجُنُبُ فَلَهُ الْلُبْثُ فِيْ الْمَسْجِدِ فِيْ قَوْلِ أَصْحَابِنَا وَ إِسْحَاقَ وَقَالَ أَكْثَرُ أَهْلِ الْعِلْمِ.

Tidak diperbolehkan bagi mereka (wanita haid, nifas dan seorang yang junub) berdiam diri di dalam masjid karena Allah Ta’ala berfirman, “Tidak pula orang yang junub keculai hanya sekedar lewat hingga mereka bersuci”. Aisyah berkata, “Nabi ﷺ datang (ke masjid) sementara bagian depan rumah para sahabat ada yang menjorok ke dalam masjid, maka Nabi bersabda, “Palingkan rumah-rumah tersebut dari masjid, kerena sesunggunhya aku tidak menghalalkan masjid bagi wanita haid dan seorang yang junub.” (HR. Abu Daud)… Apabila seorang yang junub telah wudhu maka diperbolehkan baginya berdiam diri di dalam masjid ini adalah pendapat madzhab kami (Hambali), Ishaq dan kebanyakan para ahli ilmu. (Al-Mughni, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, 1/166). [ ]

 

Oleh: Luthfi Fathoni

%d bloggers like this: