Belanja Pakaian Kewajiban Suami

Belanja Pakaian Kewajiban Suami

Salah satu hak seorang isteri adalah mendapatkan nafkah pakaian dari suaminya, ini telah menjadi kesepakatan para fuqaha. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman:

وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara makruf.” (QS. Al-Baqarah: 233)

Imam at-Tirmidzi menyebutkan dalam sebuah riwayatnya bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Adapun hak mereka (para isteri) atasmu (suami) adalah memberi pakaian dan makanan yang baik.” Dan beberapa hadits yang lain.

Hak pakaian bagi isteri adalah suatu yang harus ditunaikan sebagaimana nafkah yang lain, para fuqaha juga sepakat bahwa standar pakaian yang harus diberikan kepada isteri adalah yang “mencukupi”. Di sinilah para fuqaha mulai berbeda pendapat tentang standar mencukupi yang dimaksud, sebab tidak ada nash sharih yang menjadi dasar dalam hal ini.

Baca Juga: Hukum Mengambil Harta Suami Tanpa Ijin

 

Pertama, menurut mazhab Hanafi pakaian yang diberikan kepada isteri menyesuaikan kemampuan suami, bukan ditentukan dengan melihat keadaan atau latar belakang isteri.

Abu al-Ma’ali al-Hanafi menjelaskan bahwa nafkah wajib diberikan oleh suami karena isteri tinggal di rumah suami dan segala manfaatnya akan kembali pada suami, sehingga suami bekewajiban memberi pakaian kepada isteri sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan setempat. (Abu al-Ma’ali, al-Muhith al-Burhani, 3/527)

Kedua, mazhab Maliki berpendapat hendaknya pada musim dingin isteri mendapatkan pakaian yang dipakai untuk cuaca dingin dan pada musim panas isteri diberi pakaian yang biasa dipakai ketika cuaca panas. Apabila yang menjadi patokan adalah jumlah musim maka isteri akan mendapatkan nafkah pakaian sesuai dengan musim wilayah yang mereka tinggali.

Namun demikian hal ini dapat dikembalikan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku bagi suami atau isteri, seperti yang ditegaskan oleh Imam ad-Dasuqi. (Ad-Dasuqi, Hasyiyah ad-Dasuqi, 2/513)

Ketiga, menurut mazhab Syafii isteri berhak mendapatkan nafkah pakaian paling tidak setiap enam bulan sekali. Meliputi pakaian yang menutupi seluruh badan dan beberapa jenis pakaian yang biasa dipakai olehnya; baik dipakai ketika di dalam rumah maupun saat keluar rumah. Bahkan apabila ia tinggal di wilayah dingin maka suami berkewajiban memberinya pakaian yang dipakai waktu dingin dan apabila satu pakaian tidak dapat melindungi isteri dari hawa dingin maka suami berkewajiban memberikan kepadanya dua pakaian dan seterusnya.

Imam An-Nawawi menjelaskan, apabila sebelum enam bulan pakaian yang diberikan oleh suami telah usang maka suami tidak memiliki kewajiban untuk mengganti dengan yang baru. Lain halnya dengan setelah enam bulan namun pakaian yang diberikan belum pernah dipakai, maka ada dua pendapat dalam mazhab Syafi’i, pendapat yang shahih adalah tetap memberikan yang baru. (An-Nawawi, al-Majmu’, 18/262)

Keempat, sedangkan mazhab Hambali berpendapat suami berkewajiban memberi nafkah pakaian kepada isteri setiap setahun sekali. Pakaian diberikan di awal tahun, tetapi apabila pakaian tersebut usang setelah berjalan beberapa bulan sebagaimana wajarnya maka suami berkewajiban untuk memberikan pakaian yang lain.

Baca Juga: Membayar Zakat Kepada Suami

 

Ada dua pendapat dalam mazhab Hambali tentang pakaian yang belum usang setelah waktunya, pertama: suami tidak berkewajiban untuk menggantinya karena dianggap tidak menjadi kebutuhan. Kedua: suami berkewajiban menggantinya karena telah tiba waktunya untuk memberi pakaian yang lain. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, 8/203)

Dari penjelasan empat mazhab di atas dapat disimpulkan bahwa nafkah pakaian bagi isteri yang wajib diberikan oleh suami perlu mengacu pada empat hal, yaitu:

Pertama, pakaian yang menutup aurat. Tidak dianggap telah menjalankan kewajibannya jika suami hanya memberikan pakaian yang tidak dapat menutup aurat isterinya, sebab tidak selalunya isteri akan berdiam diri di rumah atau kamar suami.

Kedua, pakaian yang melindungi isteri dari segala hal yang membahayakan. Seperti baju yang dipakai ketika musim dingin, musim panas, dan lain sebagainya.

Ketiga, mempertimbangkan kebutuhan. Kebutuhan pakaian setiap orang tidak dapat disamakan, ada yang butuh sedikit pakaian karena tinggal di tempat yang membuat pakaian tidak cepat usang atau bau, ada pula orang yang tinggal di tempat yang membuat pakaian cepat rusak bahkan bau. Oleh karena itu suami hendaknya mempertimbangkan kebutuhan isterinya terhadap pakaiannya.

Keempat, memperhatikan ‘urf (kebiasaan) setempat, dimana setiap daerah memiliki kebiasaan yang berbeda dengan daerah yang lain. Meskipun apabila suami merasa tidak mampu memberikan nafkah sesuai adat kebiasaan setempat maka hendaknya menyampaikan ketidakmampuannya itu terhadap isterinya. Wallahu a’lam. []

%d bloggers like this: