Aurat Wanita Perpekstif Syahrur

Aurat Wanita Perpekstif Syahrur

Bekal ilmu yang kurang ditambah dengan kerancuan berpikir akan menelurkan hasil yang menyimpang dari semestinya. Sebagaimana yang dilakukan Muhammad Syahrur, seorang profesor jurusan Teknik Sipil yang tidak pernah bergabung dengan institusi Islam dan tidak pernah menempuh pelatihan resmi atau memperoleh sertifikat dalam ilmu-ilmu keislaman. Berikut kami ulas salah satu buah pikirannya berikut sanggahannya.

Aurat Wanita menurut Syahrur

Menurut Syahrur pemahaman aplikasi Nabi Muhamad saw terhadap ayat-ayat hukum, yang dikenal al-sunnah al-Nabawiyyah, baik mutawatir atau ahad, yang disebutkan dalam kitab hadits bukanlah sebagai wahyu kedua [Metodologi Fiqih, 104], melainkan hanya pemahaman awal terhadap ayat-ayat ahkam dalam al-Qur’an, yang berarti pemahaman Nabi saw tersebut bersifat relatif dan terbatas sesuai dengan kondisi saat itu.

Keputusan hukum akan senantiasa berubah sesuai dengan perubahan ruang dan waktu.[Ibid, hal 106] Dari kesimpulan seperti ini ditambah lagi dengan pemahamannya bahwa tafsir al-Quran tiap generasi itu berbeda-beda berdasar pada realitas tertentu pada masa mereka hidup. Pemahaman dan keserasian dengan realitas objektif merupakan tolak ukur seberapa jauh penafsiran atau pembacaan hermeneutika itu benar atau salah. [Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, hal 97]

 

baca juga: Tafsir Shiyam Ala Syahrur

Syahrur telah keluar dari epistemologi Islam dan mengugat serta mendekonstruksi ushul fiqih dengan epistemologi berlandaskan worldview (pandangan dunia) Barat, yang mengedepankan rasionalitas dan tunduk pada realitas dengan pendekatan hermeneutika.[Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Hal 41] Interpretasi dianggap sudah berhasil mencapai tujuannya jika dunia teks dan dunia interpreter (penafsir) telah berbaur menjadi satu.[Dasar-dasar Hermeneutika, Hal 49]

Hasil dari kerancuan berpikirnya pun akhirnya muncul, diantaranya nampak ketika menafsirkan ayat 31 dari surat An-Nur,”Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita“. Syahrur mengartikan aurat dengan apa yang membuat seseorang malu apabila terlihat dan aurat tidak berkaitan dengan halal haram, baik dari dekat maupun jauh. Ia membuat contoh, “Apabila ada orang yang botak dan tidak suka orang melihat kepalanya yang botak, maka dia akan memakai rambut palsu, sebab ia menganggap botak kepalanya sebagai aurat. Kemudian ia mengutip hadits Nabi, “Barang siapa menutupi aurat mukmin, niscaya Allah akan menutupi auratnya.” Dia berkomentar, menutupi aurat mukmin dalam hadits itu, bukan berarti meletakkan baju padanya agar tidak terlihat.

Maka ia menyimpulkan bahwa aurat berangkat dari rasa malu, yakni ketidaksukaan seseorang ketika terlihatnya sesuatu, baik dari tubuhnya maupun perilakunya. Sedang malu menurutnya relatif, berubah-ubah sesuai dengan adat istiadat, zaman, dan tempat. [Nahwa Ushul Jadidah, Hal 370]

Kritik terhadap pemikiran Syahrur

Pendefinisian aurat dengan rasa malu adalah pendapat keliru. Aurat yang diartikan sebagai sesuatu yang malu apabila terlihat dan tidak ada hubungannya dengan halal haram, menunjukan keterpaksaan pendefinisiannya yang mengalah kepada kenyataan, dimana orang-orang disekitarnya yang sudah biasa dengan budaya telanjang. Hal ini tidak berdasar, karena kalau malu yang jadi ukurannya, totalitas relatifitas penafsiran tidak ada batasannya. Bahkan telanjang bulat sekalipun, jika itu sudah biasa, tidak disebut sebagai aurat karena mereka sudah tidak malu lagi untuk bertelanjang bulat.

Penjelasan tentang batasan aurat pun dibahas oleh para ulama. Menurut DR Wahbah Zuhaily, definisi aurat dari segi literal adalah kekurangan. Sedang menurut istilah syara’ adalah sesuatu yang wajib disembunyikan dan diharamkan melihatnya. (Fiqh Islam, 1/633).

Berkenaan dengan batasan-batasan ‘aurat wanita merdeka, Abu Hanifah berpendapat bahwa seluruh tubuhnya ‘aurat kecuali wajah, kedua telapak tangan dan kedua telapak kakinya. Sebuah riwayat yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah juga menyatakan bahwa kedua telapak kaki wanita juga merupakan ‘aurat. Imam Malik dan Asy-Syafi’i sepakat berpendapat bahwa ‘aurat wanita ialah seluruh badan kecuali bagian wajah dan kedua telapak tangannya. Sedangkan Imam Ahmad memiliki dua riwayat, salah satunya adalah mengecualikan wajah dan kedua telapak tangannya dari ‘aurat wanita, dan satu riwayat lagi yang lebih populer menyatakan bahwa yang merupakan ‘aurat wanita hanyalah wajahnya saja secara khusus. (Rahmatul Ummah, hal 28)

 

Referensi:

  1. Sumaryono, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 1999)

Mudjia Raharjo, Dasar-dasar Hermeneutika; Antara Intensionalisme dan Gadamerian, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Group, 2008)

Muhammad bin Abdirahman Ad Dimasqyi, Rahmatul Ummah fi Ikhtilafi al-Aimmah, (Maktabah At-tauqifiyah, TT)

Muh. Syahrur, Dirasah Islamiyyah: Nahw Ushul Jadidah Li al-Fiqh al-Islami, terj. Sahiron Syamsuddin, Metodologi Fiqih Islam Kontemporer, Yogyakarta: eLSAQ Press, 2008)

___________, Nahwa Ushul Jadidah, (Damaskus: Al-Ahali, 2000)

Wahbah Az-Zuhaili, Fiqh Islam wa Adillatuhu, (Syamela)

 

 

%d bloggers like this: