Apakah Thaharah Menjadi Syarat Thawaf?

Apakah Thaharah Menjadi Syarat Thawaf

Thawaf adalah ibadah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Thawaf merupakan salah satu rukun ibadah Haji dan Umrah. Dalam ibadah Umrah hanya ada satu jenis Thawaf, yaitu Thawaf yang menjadi rukun Umrah. Hukum Thawaf ini adalah wajib dan menjadi syarat sah Umrah. Adapun dalam ibadah Haji ada tiga jenis Thawaf; Thawaf Qudum, Thawaf Ifadhah, dan Thawaf Wada’.

Semua jenis Thawaf dilakukan di dalam Masjidil Haram. Karena dilakukan dalam masjid, maka para ulama berbeda pendapat apakah orang yang melakukan Thawaf harus dalam keadaan suci dari hadats besar, hadats kecil, dan najis? Ataukah kesucian dari hadats dan najis bukan syarat sah ibadah Thawaf?

TIDAK HARUS SUCI

Ulama mazhab Hanafi dan sebagian ulama mazhab Hanbali berpendapat kesucian dari hadats dan najis bukanlah syarat sah Thawaf. Jika seseorang melakukan Thawaf dalam keadaan junub atau haidh, misalnya, maka Thawafnya sah.

Para ulama mazhab Hanafi menambahkan bahwa hukum Thawaf adalah wajib. Maksudnya adalah jika ia mampu, maka ia wajib mengulangi Thawaf tersebut setelah ia suci. Jika ia tidak mengulangi Thawaf tersebut, padahal ia mampu, maka ia wajib membayar denda. Dendanya adalah menyembelih domba atau unta, sesuai besar-kecilnya hadats yang ia alami. (As-Sarkhasi, Al-Mabsuth, 4/44) Mereka berargumentasi dengan beberapa dalil sebagai berikut.

Pertama, Thawaf adalah rukun Haji dan Umrah berdasar ayat Al-Qur’an, “Maka hendaklah mereka melakukan Thawaf pada rumah Allah yang tua (Ka’bah)!” (QS. Al-Hajj [22]: 29)

Thawaf adalah nama untuk aktivitas mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Ia bisa dilakukan oleh orang yang suci maupun orang yang tidak suci. Pensyaratan kesucian dalam Thawaf bukanlah berdasar ayat Al-Qur’an atau hadits mutawatir, melainkan berdasar hadits Ahad. Ayat Al-Qur’an dan hadits mutawatir memberi faedah ilmu yaqin. Adapun hadits Ahad “hanya” memberi faedah amal.

Perkara rukun harus ditetapkan berdasar ayat Al-Qur’an atau hadits mutawatir. Adapun perkara kewajiban bisa ditetapkan berdasar hadits Ahad. Oleh karenanya, kesucian bukan rukun dalam Thawaf. Kesucian “hanyalah” kewajiban dalam Thawaf. Sanksi dari meninggalkan perkara yang wajib dalam manasik Haji adalah membayar denda.

Kedua, Thawaf diqiyaskan dengan wukuf di Arafah. Wukuf di Arafah sebagai rukun terpenting Haji tidaklah disyaratkan dalam keadaan suci. Maka demikian pula dengan Thawaf.

 

HANYA HAIDH YANG DILARANG

Ulama mazhab Zhahiri berpendapat, suci dari najis, hadats kecil, junub, dan nifas bukanlah syarat Thawaf. Hanya wanita haidh yang dilarang melakukan Thawaf. (Al-Muhalla bil-Atsar, Ibnu Hazm, 5/189) Mereka beragumen dengan beberapa dalil sebagai berikut.

Pertama, Nabi ﷺ melarang Aisyah dari melakukan Thawaf saat ia haidh.

Kedua, hadits dari Aisyah x bahwa Asma’ binti Umais x melahirkan di daerah Dzulhulaifah. Maka Nabi ﷺ memerintahkannya untuk mandi dan melakukan ihram. (HR. Muslim, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah)

Nabi ﷺ tidak melarang Asma’ binti Umais dari melakukan Thawaf. Seandainya kesucian dari najis, hadats kecil, junub, dan nifas adalah syarat Thawaf, pastilah Nabi ﷺ akan menjelaskannya, sebagaimana beliau menjelaskan perihal haidh.

 

HARUS DALAM KEADAAN SUCI

Mayoritas ulama dari kalangan mazhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali berpendapat kesucian adalah syarat sah Thawaf. Orang yang Thawaf harus suci dari hadats besar yang mewajibkan mandi, hadats kecil yang mewajibkan wudhu, dan najis. Jika ia melakukan Thawaf dalam keadaan tidak suci, maka Thawafnya tidak sah. Ia harus mengulangi Thawafnya setelah ia bersuci. (Al-Istidzkar, Ibnu Abdil Barr, 4/88; Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, An-Nawawi, 8/18; Al-Mughni, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, 5/222-223)

Mereka berargumen dengan beberapa dalil sebagai berikut.

Pertama, dari Aisyah x ia berkata, “Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi ﷺ saat tiba di Makkah adalah beliau berwudhu, lalu melakukan Thawaf pada Baitullah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadits Aisyah ini menjelaskan pelaksanaan Thawaf oleh Nabi ﷺ. Kita diperintahkan meneladani tata cara manasik beliau, berdasar sabda Nabi ﷺ saat Haji wada’, “Hendaklah kalian mengambil tata cara manasik dariku.” (HR. Muslim) Sedangkan hukum asal dari sebuah perintah adalah menunjukkan kewajiban, sampai ada dalil lain yang memalingkannya kepada hukum sunah atau mubah.

Kedua, dari Aisyah x ia berkata, “Kami berangkat (dari Madinah) Bersama Nabi ﷺ semata-mata untuk menunaikan Haji. Ketika tiba di daerah Saraf, saya mengalami haidh. Rasulullah ﷺ masuk ke dalam tenda dan melihat aku menangis. Beliau bertanya, ‘Apakah engkau mengalami haidh?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau n bersabda, “Ini adalah takdir yang telah Allah tetapkan atas kaum wanita anak keturunan Adam. Lakukanlah seluruh manasik yang biasa dikerjakan oleh jamaah Haji, namun janganlah engkau Thawaf sampai engkau suci!” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam salah satu riwayat Muslim, hadits ini diriwayatkan dengan lafal, “Maka lakukanlah apa yang biasa dilakukan oleh jama’ah Haji, namun janganlah engkau Thawaf sampai engkau mandi!”

 

Baca Juga: Tanda Haji Kita Diterima

 

Hadits ini menegaskan larangan Thawaf sampai seorang wanita suci dari haidh dan mandi. Hukum asal sebuah larangan adalah menunjukkan makna haram dan batalnya perbuatan yang dilarang. Hukum ini senantiasa berlaku sampai ada dalil shahih lain yang merubahnya.

Ketiga, dari Aisyah x bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Seorang wanita yang haidh hendaknya melaksanakan seluruh tata cara manasik, kecuali Thawaf.” (HR. Ahmad)

Keempat, secara logika, Thawaf adalah ibadah yang dilakukan di dalam masjid. Maka bersuci menjadi syaratnya, sebagaimana bersuci menjadi syarat shalat. Orang yang dalam kondisi junub, haidh, atau nifas, dilarang berdiam diri di dalam masjid, apalagi melakukan shalat atau Thawaf di dalamnya.

 

TARJIH

Pendapat yang lebih benar adalah pendapat mayoritas ulama bahwa kesucian adalah syarat sah Thawaf. Hal itu karena beberapa alasan berikut.

Pertama, QS. Al-Hajj [22]: 29 tidak menunjukkan bahwa kesucian bukanlah syarat Thawaf. Sebab ayat tersebut bersifat global. Ia dijelaskan secara rinci dalam hadits-hadits nabawi, yang menunjukkan kesucian adalah syarat Thawaf.

Kedua, Qiyas Thawaf dengan wukuf di Arafah adalah kurang tepat. Thawaf lebih tepat diqiyaskan dengan shalat. Meskipun tidak sama persis dalam seluruh aspeknya, Thawaf memiliki kaitan sangat erat dengan shalat. Thawaf dan shalat sama-sama dilakukan di dalam masjid. Hal ini dikuatkan oleh hadits dari Ibnu Abbas c bahwasanya Nabi ﷺ bersabda, “Thawaf pada baitullah adalah shalat, hanyasaja Allah memperbolehkan berbicara di dalamnya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim)

Ketiga, Hadits Asma’ binti Umais tidak menjelaskan kebolehan Thawaf bagi wanita yang nifas. Nifas Asma’ terjadi lebih dahulu daripada haidh Aisyah. Sebab, Asma’ melahirkan lebih dahulu di daerah Dzulhulaifah. Setelah itu Aisyah baru mengalami haidh di daerah Saraf.

Baca Juga: Rahasia Ilahi Adanya Ka’bah, Makkah, dan Haji

 

 

Hadits Aisyah yang melarang wanita haidh dari Thawaf merupakan penjelasan untuk larangan Thawaf bagi wanita yang nifas. Sebab, haidh dan nifas sama-sama hadats besar. Selain itu, durasi waktu nifas lebih lama daripada haidh. Sehingga kedudukan haidh dan nifas dalam hal larangan Thawaf adalah sama.

Keempat, Nabi ﷺ melakukan Thawaf dalam keadaan suci. Beliau n bersabda dalam Haji wada’, “Hendaklah kalian mengambil tata cara manasik kalian dariku!” Dengan demikian, sabda Nabi ﷺ dan perbuatan Nabi ﷺ menunjukkan persyaratan kesucian dalam Thawaf.

Kelima, hadits-hadits yang menunjukkan syarat kesucian dalam Thawaf adalah hadits-hadits yang shahih dan penunjukan maknanya sangat jelas. Wallahu a’lam [Abu Ammar]

 

%d bloggers like this: