Apa Iya, Riba Sedikit Itu Boleh?

Apa Iya, Riba, Sedikit Itu Boleh?

Riba, merupakan dosa besar. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni 7/492, menyatakan bahwa riba diharamkam berdasarkan dalil dalam Al-Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’. Banyak hadits mengancam pelaku riba, di antaranya dosa riba lebih besar daripada perbuatan zina. (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Namun demikian, sebagian kaum muslimin kurang berhati-hati dalam menyikapi riba. Berbagai dalil yang disebutkan dalam al-qur’an, sunnah, atau ijma’ tersebut dipahami untuk riba yang adh’afan mudha’afah; riba yang berlipat ganda. Sedang riba yang sedikit ~semisal bunga dengan kisaran yang tidak memberatkan maksimal 30% atau 15 %~ boleh alias tidak haram. Benarkah demikian?

KONTROVERSI AYAT RIBA ADH’AFAN MUDHAA’AFAH

‘Riba boleh asal sedikit’ merupakan pendapat nyleneh yang berdalil dengan firman Allah SWT,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali ‘Imran: 130).

Ayat di atas dipahami dengan mafhum mukhalafah (kaidah ushul fikih bermakna logika terbalik). Cara berpikirnya, yang diharamkan adalah riba yang berlipat ganda, maka sebaliknya, riba yang tidak berlipat ganda atau riba yang sedikit dibolehkan.

Di dalam website http://hizbut-tahrir. or.id/ disebutkan bahwa Jamaluddin AlAfghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha berpendapat demikian (sumber: Abdul Majid al-Muhtasib, Ittijahat atTafsir fi al-‘Ashr ar-Rahin, 178; Abdurrahim Faris Abu ‘Ulbah, Syawa`ib at-Tafsir, 246; Abdul Aziz al-Khayyath, Asy-Syarikat fi asy-Syari’ah al-Islamiyyah wa al-Qanun alWadh’i, 2/168-173)

BACA JUGA: Sulitnya Menghinndari Debu Riba

Mereka yang berpendapat nyleneh seperti ini meniadakan dalil baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah yang melarang riba secara mutlak. Menurut mereka yang membolehkan ‘riba asal sedikit’, meyakini bahwa semua dalil pengharaman riba tidak berfungsi karena ditakhsis (dikhususkan/dikecualikan) oleh ayat Ali Imran 130 di atas dengan metode mafhum mukhalafah (logika terbalik).

TAFSIR AYAT RIBA ADH’AFAN MUDHAA’AFAH

Penyebutan adhafan mudha’afah yang berarti berlipat ganda bukanlah faktor diharamkannya riba. Tapi ayat tersebut melarang memakan riba setiap saat baik sedikit atau banyak.

Ungkapan berlipat ganda untuk menunjukkan bahwa riba yang terjadi itu karena adanya penundaan pembayaran hingga waktu tertentu. Kalau ada penundaan, maka ada tambahan pembayaran utang, tambahan tersebut sesuai kesepakatan. Adanya tambahan pembayaran tersebutlah yang membuat penundaan pembayaran itu ada. Akhirnya rentenir mengambil keuntungan berlipat-lipat dibanding dengan utang yang pertama. (Lihat Penjelasan Imam Asy-Syaukani dalam Fath al-Qadir, 1/622)
Jadi, kata adha’afan mudhaafah bukan dalil kebolehan riba yang jumlahnya sedikit.

MAFHUM MUKHALAFAH YANG TIDAK TEPAT

Imam Ibnu Hayyan al-Andalusi berkata, ”Riba sudah diharamkan dalam segala jenisnya, maka dari itu sifat yang terdapat dalam ayat itu (yaitu larangan memakan riba yang berlipat ganda, adh’afan mudhaa’afah) tak dapat diambil mafhum mukahalafah-nya dan tidak dapat pula menjadi qaid (batasan) dalam larangan riba…” (Ibnu Hayyan alAndalusi, Tafsir al-Bahrul Muhith, 3/54; Imam Syaukani, Fathul Qadir, 1/380).

TAKHSISH YANG SALAH

Di antara dalil pendapat nyleneh ini, bahwa surat al-Baqarah ayat 275 (“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba,”) merupakan dalil umum saja. Dalil umum ini dikhususkan oleh dalil surat Ali ‘Imran ayat 130 yang menerangkan bahwa riba yang diharamkan adalah yang berlipat ganda.

Dalam ilmu Ushul Fiqih, dalil yang mengkhususkan (takshish) itu seharusnya turun belakangan (muta`akhkhir) dari dalil umumnya, atau kalaupun turun lebih dulu (mutaqaddim) harusnya takhshis itu bersambung (muttashil) dengan dalil umumnya dalam satu rangkaian ayat. (Saifuddin al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul alAhkam).

Kedua syarat tersebut tidak terwujud dalam pendapat kebolehan riba sedikit. Karena faktanya surat Ali Imran ayat 130 turun lebih dahulu, bukan turun belakangan. Baru setelah itu turunlah surat al-Baqarah ayat 275. Lagi pula dua ayat tersebut tidak terletak dalam satu rangkaian ayat yang bersambung (muttashil).

BERHATI-HATI PANGKAL SELAMAT

Dalam surat al-Baqarah ayat 275279, terdapat lima balasan mengerikan bagi pelaku riba. Balasan tersebut adalah ditimpa kesurupan, barokahnya dihapus, menghalalkan riba berarti kufur, kekal di neraka, dan diperangi Allah ‘Azza wa Jalla.

Karena itu, daripada sengsara di akhirat, mari hindari riba baik sedikit atau berlipat. Lebih selamat mengikuti ijma’ ulama’ daripada sibuk mencari pembenaran. Wallahu ‘alam. []

%d bloggers like this: