Antara Wihdatul Mathali’ dan Ikhtilaful Mathali’

Antara Wihdatul Mathali’ dan Ikhtilaful Mathali'

Tempat terbit atau munculnya hilal disebut mathla’ atau mathli’, dan bentuk pluralnya adalah mathali’.

Semua ulama fiqih dan pakar astronomi sepakat bahwa tempat dan waktu terbitnya hilal di setiap negeri berbeda dengan negeri lainnya. Namun mereka berbeda pendapat apakah perbedaan mathali’ tersebut dipertimbangkan bagi penetapan awal Ramadhan dan Syawwal.

Maksudnya, jika hilal bulan Ramadhan berhasil dilihat di sebuah negeri, apakah kewajiban shaum Ramadhan berlaku untuk penduduk negeri yang melihat hilal saja, ataukah berlaku umum untuk kaum muslimin di seluruh dunia?

Dalam hal ini terdapat tiga pendapat yang masyhur di kalangan ulama.

WIHDATUL MATHALI’

Wihdatul mathali’ adalah pendapat yang menyatakan bila hilal Ramadhan terlihat di sebuah negeri, maka ia berlaku untuk umat Islam di seluruh dunia.

Pendapat ini dipegangi oleh mayoritas ulama madzhab Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Di antara ulama kontemporer yang mengikuti pendapat ini adalah Komisi Fatwa Dewan Ulama Arab Saudi yang diketuai oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Komisi Fatwa Mesir, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Husamuddin ‘Afanah, dan lain-lain.

Argumentasi mereka adalah:

Firman Allah, “Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan, hendaklah ia shaum!” (Al-Baqarah [2]: 185)

Sabda Nabi SAW, “Shaumlah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal. Jika hilal tertutup awan, maka genapkanlah Sya’ban 30 hari!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perintah dalam ayat dan hadits tersebut dipahami berlaku umum untuk semua umat Islam. Sehingga jika sebagian umat Islam telah melihat hilal di sebuah negeri, maka konskuensi hukumnya berlaku atas umat Islam seluruh dunia.

BACA JUGA: Antara Maqashid dan Usul Fiqih

IKHTILAFUL MATHALI’ SECARA LUAS

Ikhtilaful mathali’ adalah pendapat yang menyatakan jika hilal Ramadhan di sebuah negeri telah terlihat, maka kewajiban shaum berlaku untuk umat Islam di negeri tersebut semata. Umat Islam di negeri-negeri yang tidak melihat hilal Ramadhan, belumlah wajib melakukan shaum Ramadhan.

Di antara ulama sahabat dan tabi’in yang memegangi pendapat ini adalah Ibnu Abbas, Ikrimah, Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Salim bin Abdullah bin Umar. Pendapat ini dipegangi oleh Imam Asy-Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, dan Ishaq bin Rahawaih.

Argumentasi mereka adalah:

  1. Firman Allah, “Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan, hendaklah ia shaum!” (Al-Baqarah [2]: 185) Dipahami dari ayat ini bahwa orang dan negeri yang tidak menyaksikan hilal, tidaklah terkena perintah shaum.
  2. Sabda Nabi SAW, “Shaumlah kalian karena melihat hilal dan berbukalah kalian karena melihat hilal!” (HR. Bukhari dan Muslim) Dipahami dari hadits ini, orang dan negeri yang tidak menyaksikan hilal, tidaklah terkena perintah shaum.
  3. Hadits Kuraib bahwa ia diutus ke Syam dan ikut shaum Ramadhan berdasar ru’yah hilal penduduk Syam. Lalu ia kembali ke Madinah. Ia lantas ditanya oleh Ibnu Abbas, “Kapan kalian melihat hilal?” Kuraib menjawab, “Kami melihat hilal pada malam Jum’at.” Ibnu Abbas bertanya, “Kamu melihat dengan mata kepalamu sendiri hilal pada malam Jum’at?” Kuraib menjawab, “Ya, dan penduduk Syam juga melihatnya. Mereka pun melakukan shaum, demikian pula Mu’awiyah melakukan shaum.” Ibnu Abbas berkata, “Tapi kami melihat hilal pada malam Sabtu. Maka kami akan melanjutkan shaum sampai genap 30 hari atau sampai kami melihat hilal.” Kuraib bertanya, “Tidakkah cukup bagi kalian dengan ru’yah hilal dan shaum Mu’awiyah?” Ibnu Abbas menjawab, “Tidak cukup. Demikianlah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasai)
  4. Qiyas ru’yah hilal Ramadhan dengan perbedaan waktu terbit dan terbenam matahari.

Jika matahari telah terbenam di Indonesia pada pukul 18.00 sore, misalnya, maka pada saat yang sama di Arab Saudi baru pukul 14.00 siang. Pada saat itu penduduk Indonesia sudah bisa berbuka, sementara penduduk Arab Saudi masih wajib shaum.

 

IKHTILAFUL MATHALI’ SECARA TERBATAS

Pendapat ini menyatakan ikhtilaful mathali’ berlaku untuk negeri-negeri yang jaraknya berjauhan. Misalnya antara Indonesia dan Arab Saudi.

Adapun negeri-negeri yang jaraknya relatif berdekatan atau dalam satu kawasan, maka berlaku padanya wihdatul mathali’. Misalnya Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Pendapat ini dipegangi oleh para ulama muhaqqiq madzhab; Al-Kasani al-Hanafi, (Badai’u ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’, 2/579), Az-Zaila’i al-Hanafi (Raddu al-Muhtar ‘ala Ad-Dur al-Mukhtar, 3/364), Ibnu Abdil Barr al-Maliki, An-Nawawi asy-Syafi’i, dan Ar-Rafi’i asy-Syafi’i (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 6/280).

Ibnu Abdil Barr berkata, “Para ulama telah sepakat ru’yah hilal di sebuah negeri tidak berlaku untuk negeri lainnya yang berjauhan seperti negeri Andalus (Spanyol) dari negeri Khurasan (Afghanistan). Demikian pula setiap negeri memiliki ru’yah sendiri-sendiri, kecuali apabila negeri-negeri itu seperti sebuah negara yang besar dan negeri-negeri kaum muslimin yang wilayahnya berdekatan.” (Al-Istidzkar, 10/30)

Di antara ulama kontemporer yang memilih pendapat ini adalah Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin (Asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, 6/309-310).

 

KAJIAN PENDAPAT

Hadits Kuraib menjelaskan bahwa dalil-dalil pendapat pertama sebenarnya berlaku khusus untuk orang dan negeri yang melihat hilal semata. Bahkan Ibnu Abbas menegaskan hal itu adalah perintah Rasulullah SAW sendiri.

Tidak seorang pun bisa memungkiri adanya perbedaan waktu dan tempat terbitnya hilal di antara negeri-negeri kaum muslimin. Sebagaimana tidak bisa dipungkiri adanya perbedaan waktu terbit dan terbenamnya matahari yang mengakibatkan perbedaan waktu shalat, berbuka, dan sahur.

Perbedaan tersebut relatif kecil manakala negeri-negeri tersebut berdekatan atau berada dalam satu kawasan. Sehingga hari dimulai dan diakhirinya shaum Ramadhan di negeri-negeri yang berdekatan atau negeri-negeri satu kawasan sangat mungkin sama.

Maka pendapat yang lebih kuat, wallahu a’lam, adalah pendapat ketiga. Hal itu karena pendapat ketiga menggabungkan dalil-dalil pendapat pertama dan pendapat kedua, dan sesuai dengan realita perbedaan waktu.

Pendapat ketiga telah diamalkan di zaman sahabat dan tabi’in (era Khulafa’ Rasyidun dan Khilafah Umawiyah), dimana Madinah dan Syam dianggap berjarak jauh sehingga memakai ru’yah masing-masing negeri.

Ia juga diamalkan secara luas oleh umat Islam pada zaman Ibnu Abdul Barr (abad 5 H, saat Khilafah Abbasiyah Baghdad dan Daulah Umawiyah Andalus masih berdiri) sehingga termasuk perkara yang tidak ada perbedaan pendapat lagi di kalangan ulama pada zaman tersebut. Wallahu a’lam []

 

Referensi:

Al-Kasani, Badai’ ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, cet. 2, 1424 H.

Ibnu Abidin, Ar-Raddu al-Muhtar ‘ala Ad-Dur al-Mukhtar, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, cet. 1, 1423 H.

Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar al-Jami’ li-Madzahib Fuqaha’ al-Amshar, Damaskus: Dar Qutaibah, cet. 1, 1414 H.

An-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Jeddah: Maktabah al-Irsyad, cet. 1, t.t.

Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, cet. 3, 1417 H.

Ibnu Taimiyah, Majmu’atu al-Fatawa, Manshurah: Dar al-Wafa’, cet. 3, 1426 H.

Muhammad Shalih al-Utsaimin, Asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, Damam: Dar Ibn al-Jauzi, cet. 1, 1424 H.

%d bloggers like this: