Anjing Halal Dimakan?

Anjing Halal Dimakan?

Sate jamu guk-guk telah merebak di masyarakat. Banyak warung terangterangan menulis kata anjing atau guk guk dalam spanduk di depan warung. Menurut sebagian masyarakat, anjing menjijikkan. Tapi kenyataannya tidak sedikit yang menjadi penikmat daging anjing.

Mereka yang suka makan anjing bisa jadi non-Muslim atau bahkan orang Islam. Bagi non-Muslim, barangkali daging anjing ‘halal’ untuk dimakan.

Sementara bagi kalangan muslim, memang masih ada yang tidak tahu hukum memakan anjing, namun ternyata ada juga yang nekat memakan daging anjing berangkat dari keyakinan bahwa ada dalil yang menghalalkannya. Seperti apakah argumentasi mereka?

ANJING ITU SUCI JADI HALAL DIMAKAN

Mereka yang beranggapan anjing halal dimakan, diantara pijakannya, barang najis tentu tidak boleh dimakan, sedangkan suci pasti boleh dimakan.

Bagi mereka, yang najis hanya air liur saja. Sedangkan, daging nya suci, maka boleh dimakan.

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُم إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sucinya wadah minummu yang telah diminum anjing adalah dengan mencucinya tujuh kali dan salah satunya dengan tanah. (HR. Muslim dan Ahmad)

Dari Abi Hurairah radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bila anjing minum dari wadah air milikmu harus dicuci tujuh kali. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas, mereka menyimpulkan bahwa wadah air yang disentuh mulut atau air liur anjing harus dicuci. Berarti, mulut dan air liur lah yang najis, selain itu tidak najis. Apabila tidak najis berarti boleh dimakan.

BACA JUGA:  Hikmah Medis di Balik Kenajisan Anjing dan Kesucian Tanah

Logika seperti ini pada dasarnya cacat karena banyak benda suci yang tidak boleh dimakan. Debu, kain, kayu, dan lain sebagainya yang suci tidak boleh dimakan. Jadi, tidak setiap yang suci halal dimakan.

PENGHASIL AIR LIUR ANJING JUGA NAJIS

Sebagian ulama’ dalam madzhab Hanafi memang tidak menajiskan daging anjing (Fathul Qadir, 1/64). Namun, tetap berpendapat bahwa anjing tidak halal dimakan. Madzhab Syafii dan Hambali berpendapat bahwa selain air liur dan mulut, tubuh anjing semuanya najis. (Al-Mughni, 1/52)

Dua mazhab ini berlogika bahwa sumber najis hukumnya juga najis. Air liur anjing dalam hadits adalah najis, maka sumber air liur (yang memproduksi) otomatis juga najis.

Maka, keseluruhan badan anjing (daging, usus, dsb) najis karena sumber air liur yang najis. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu pun secara logika juga najis, baik air kencing, kotoran atau keringatnya.

TIDAK ADA DALIL PENGHARAMAN ANJING

Mereka yang berpendapat anjing boleh dimakan karena satu ayat di bawah ini,

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi — karena sesungguhnya semua itu kotor — atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-An’am: 145)

Ayat di atas menerangkan jenis makanan yang diharamkan. Apa saja yang tidak disebut di atas berarti diperbolehkan. Tidak ada ayat yang mengharamkan daging anjing. Maka, anjing dihukumi halal atau mubah dimakan.

Memang tidak ada ayat yang mengharamkan daging anjing. Namun, dalam memahami nash syar’i tidak boleh mendasarkan kepada al-Qur’an saja dengan mengabaikan hadits Nabi ﷺ.

SUNNAH NABI MENJELASKAN AL-QUR’AN

Dua sumber hukum Islam; al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pegangan kaum muslimin. Kalau hanya memegangi al-Qur’an saja dan mengabaikan hadits Nabi ﷺ akan sesat dan gagal memahami syariat.

Dalam menyikapi hukum makan daging anjing ini, memang terdapat pendapat yang nyleneh menyelisihi jumhur ulama’. Sebagian ulama’ madzhab maliki berpendapat memakan daging anjing hukumnya dibenci (makruh tanzih). Sekali lagi, hukumnya dibenci bukan dihalalkan atau dibolehkan. (Asy-Syarhul Kabir, 1/83)

Al-An’am ayat 145 masih terlalu luas cakupannya. Ayat ini didetailkan maksudnya melalui hadits Nabi ﷺ, dari Abi Tsa’labah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنْ أَكْلِ كُلِّ ذِى نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ .

“Rasulullah ﷺ sallam melarang memakan setiap hewan buas yang bertaring.” (HR. Al-Bukhari no. 5530 dan Muslim no. 1932)

Anjing termasuk golongan hewan buas yang bertaring (as-siba’). Rasulullah ﷺ melarang memakannya. Hadits ini cukup kuat dijadikan pegangan. Tidak bertentangan dengan ayat manapun namun menerangkan lebih rinci.

Kesimpulannya, tidak ada pendapat yang membolehkan memakan daging anjing. Adanya pendapat nyleneh menyelisihi jumhur ulama’, yaitu hukumnya dibenci/makruh. Pendapat ini tidak mengamalkan hadits nabi di atas.

Apa karena nafsu sesaat kita mau menyelisihi hadits Nabi dan menghalalkan makan anjing?. Wallahu a’lam. [ ]

 

 

 

 

 

%d bloggers like this: