Al-Muatta`

Al-Muatta`

(Kitab Shahih Pertama yang Dibukukan)

Pada edisi sebelumnya telah dipaparkan sekilas tentang kitab al-Mudawwanah yang juga merupakan salah satu kitab yang disusun oleh Imam Malik bin Anas dan menjadi rujukan dalam mazhabnya. Selain al-Mudawwanah, beliau juga menyusun kitab al-Muwatha’ yang tidak kalah pentingnya dalam khazanah keilmuan baik zaman dahulu maupun sekarang.

Dalam mukaddimah al-Muwatha’ dijelaskan bahwa yang melatarbelakangi penyusunan kitab ini adalah karena keinginan Imam Malik secara pribadi, yaitu setelah beliau melihat kitab Abdul Aziz bin Abdullah Salamah yang disusun tanpa disertai hadits atau atsar dari para sahabat. Selain itu, Khalifah Ja’far bin Manshur memandang sangat prihatin pada perbedaan fatwa dan pertentangan yang tengah berkembang saat itu. Maka ketika ia menunaikan ibadah haji, ia menemui Imam Malik dan memintanya untuk membuat sebuah kitab yang menjadi penengah dan bisa diterima oleh semua pihak. Kitab tersebut akan dijadikan sebagai undang-undang kekhalifahannya.

Dengan dukungan dari beberapa pihak di atas, akhirnya beliau mulai menyusun al-Muwatha’, namun beliau tidak sependapat dengan Khalifah al-Manshur jika al-Muwatha’ dijadikan sebuah undang-undang dan rujukan paten kekhalifahannya saat itu. Beliau berkata kepada Khalifah al-Manshur, “Janganlah engkau lakukan itu wahai Khalifah, telah sampai pada umat penjelasan-penjelasan al-Qur’an, mereka juga mendengar hadits yang banyak, meriwayatkan bermacam-macam riwayat, maka dari itu mereka mengambil apa yang telah sampai pada mereka dan mengamalkannya.”

Para ulama berbeda pendapat tentang penamaan dengan al-Muwatha’, ada yang berpendapat bahwa sebelum kitab ini disebarluaskan terlebih dahulu disodorkan pada 70 ahli fikih Madinah. Yang lain berpendapat karena kitab tersebut memudahkan umat Islam dalam memilih pendapat dan menjadi pegangan dalam ibadah mereka. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa suatu ketika Imam Malik mimpi bertemu dengan Rasulullah dan beliau berkata kepadanya, “Mudahkanlah manusia untuk mendapatkan ilmu,” kemudian Imam Malik menamainya dengan al-Muwatha’. Secara lafal, al-Muwatha’ artinya adalah yang dimudahkan, dengan harapan kitab yang disusun Imam Malik ini dapat memberi kemudahan bagi umat manusia untuk mempelajari ilmu dan membimbing mereka pada jalan yang diridhai Allah.

Banyak penilaian positif para ulama pada kitab ini, di antaranya adalah sanjungan Imam asy-Syafi’i, beliau menuturkan, “Tidak ada kitab di muka bumi ini yang lebih shahih setelah al-Qur’an dari pada kitab al-Muwatha’ yang disusun Imam Malik.” Namun soal pernyataan Imam asy-Syafi’i ini, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa beliau mengatakan demikian karena pada waktu itu belum ada kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim.

Maka dari itu sebagian orang bertanya-tanya, manakah yang lebih shahih antara kitab al-Muwatha’ dan Shahih al-Bukhari-Muslim, sementara syarat-syarat diterimanya hadits menurut penyusun dua kitab tersebut hampir sama. Sebenarnya letak persoalannya, Imam Malik menerima hadits yang sanadnya terputus dan Imam al-Bukhari tidak menerimanya. Maka tidak heran jika Imam Malik meletakkan hadits yang sanadnya terputus pada bab-bab utama, dan itu tidak dilakukan oleh Imam al-Bukhari. Dengan demikian para ulama menyatakan al-Muwatha’ adalah kitab shahih pertama kali yang disusun dan Shahih al-Bukhari-Muslim adalah kitab shahih murni yang pertama kali ada.

Al-Muwatha’ adalah kitab hadits yang bersistematika fikih. Terdiri dari 61 bab; 1824 hadits. Dimulai dengan bab waktu-waktu shalat, bersuci, shalat, zakat, puasa, haji dan ditutup dengan bab nama-nama Nabi. Di dalamnya terhimpun hadits-hadits Nabi baik yang sanadnya bersambung maupun tidak. Juga terhimpun qaul sahabat, tabi’in, ijma’ penduduk Madinah dan pendapat Imam Malik sendiri.

Secara khusus tidak ada pernyataan tegas mengenai metode yang dipakai Imam Malik dalam menyusun kitab ini. Namun dengan melihat penjelasan dan isi kitab ini, Imam Malik menerapkan metode pembukuan hadits berdasarkan klarifikasi hukum fikih. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas beliau mencantumkan hadits-hadits yang bersumber dari Nabi, sahabat, tabi’in, bahkan beliau juga mencantumkan pendapatnya sendiri dalam kitab ini.

Kitab al-Muwatha’ telah disyarah oleh beberapa ulama, di antaranya adalah Abu Umar bin Abdul Bar al-Namri al-Qurthubi yang berjudul at-Tamhid lima fi al-Muwatha’ min al-Ma’ani wa al-Asanid dan Ibnu Abdil Barr yang berjudul al-Istidzkar fi Syarhi Mazhahibi Ulama’i al-Amshar. Selain itu kitab ini telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh salah satu penerbit Islam dalam negeri, serta menjadi kitab panduan dalam pembelajaran siswa di berbagai lembaga pendidikan. Wallahu a’lam.

Disarikan dari mukaddimah kitab al-Muwatha’ biriwayati Yahya bin Yahya al-Laitsi,  hal. 5-28, Mu’assasah ar-Risalah, th. 2013 M.

 

%d bloggers like this: