Al-Mabsuth

Al-Mabsuth

Syamsuddin as-Sarkhasi

Penulisan fikih madzhab Hanafi dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama adalah penulisan yang disandarkan pada imam utama, seperti Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan al-Hasan. Imam al-Hasan telah menulis enam kitab dan salah satunya adalah kitab al-Mabsuth. Tingkatan kedua adalah kitab yang ditulis secara individual oleh generasi setelahnya dan merujuk pada imam-imam sebelumnya, seperti kitab al-Badai’ ash-Shanai’ yang ditulis oleh Imam al-Kasani. Sedangkan tingkatan ketiga adalah kitab yang berisikan persoalan-persoalan hukum yang ditulis oleh imam-imam mujtahid, seperti kitab an-Nawazil yang ditulis oleh Imam al-Faqih Abu Laits as-Samarqandi.

Adapun kitab al-Mabsuth yang akan dibicarakan di sini, bukan kitab yang ditulis oleh Imam al-Hasan, tetapi kitab yang ditulis oleh Imam Syamsuddin as-Sarkhasi.

Penjelasannya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa Imam al-Hasan telah menulis enam kitab dan keenam kitab tersebut telah diringkas oleh Abu Fadhl al-Marwazi yang diberi judul Mukhtashar al-Kafi. Di dalamnya berisi ringkasan-ringkasan fikih Hanafi dari keenam kitab yang ditulis oleh Imam al-Hasan. Kemudian Imam Syamsuddin as-Sarkhasi men-syarah kitab Mukhtashar al-Kafi tersebut dan diberi judul sama dengan kitab pertama yang ditulis oleh Imam al-Hasan, yaitu al-Mabsuth.

Dalam referensi pemikiran hukum Islam, Imam Syamsuddin as-Sarkhasi lebih dikenal sebagai tokoh yang terlibat secara langsung dalam perdebatan keilmuan, baik ketika berhadapan dengan tokoh yang bersebrangan dengan madzhab Hanafi maupun dalam melahirkan teori. Ia memiliki kecerdasan dan kedalaman ilmu yang membedakannya dengan tokoh lain baik dari kalangan madzhabnya maupun di luar madzhab. Nama beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Abu Sahl Abu Bakar as-Sarkhasi, beliau wafat pada tahun 490 H/ 1096 M.

Kitab ini mengupas berbagai hal secara mendalam dan tuntas dengan cara khas pemikiran Hanafiyah. Dari aspek sistematika, kitab al-Mabsuth tidak dimulai dengan kajian soal thaharah sebagaimana dalam tradisi penulisan kitab-kitab fikih lainnya. Kajian pertama dalam kitab ini langsung dimulai dengan kajian shalat, karena dalam pandangannya shalat merupakan dasar yang paling fundamental bagi keislaman seseorang setelah beriman kepada Allah Ta’ala. Kemudian ditutup dengan pembahasan nikah dan seputarnya.

Kitab ini merupakan kitab induk dalam Madzhab Hanafi dalam bidang hukum. Kehadirannya sangat fenomenal karena ditulis pada saat berada di penjara, dengan cara didiktekan oleh as-Sarkhasi kepada murid-muridnya. Perbedaannya dengan gaya penulisan buku-buku ilmiah kontemporer, dalam al-Mabsuth tidak dicantumkan rujukan dan catatan kepustakaan. Hal itu dapat dimaklumi karena faktor kelaziman dan kultur dalam penulisan seperti yang dimaksudkan itu belumlah menjadi sebuah tuntutan seperti adanya sekarang. Ditambah lagi dengan kondisi dipenjara yang secara fisik dan psikologis tentu berada dalam keterbatasan dan tekanan sehingga tidak memungkinkan menghadirkan banyak referensi.

Sistematika penyampaiannya adalah dengan menyebutkan sebuah permasalahan fikih, kemudian menjelaskan hukumnya dalam madzhab Hanafi, menyebutkan dalil yang mendasarinya, dan menyebutkan pendapat-pendapat yang menyelisihi. Setelah semua itu, baru mulai menjelaskan dalilnya dan mendiskusikan dalil tersebut. Terkadang beliau menggabungkan dalil madzhab Hanafi dengan madzhab lain yang tidak sependapat, tentunya dengan penggabungan yang sangat baik serta menjauhkan dari pendapat yang berlawanan. Selain itu beliau juga membandingkan pendapat madzhabnya dengan madzhab lain, terkhusus madzhab Syafi’i dan pendapat Imam Malik, terkadang juga menyebutkan madzhab Hanbali dan madzhab Zhahiri.

Oleh karena itulah, tidak heran jika banyak ulama yang memuji bawa al-Mabsuth adalah kitab yang bernilai dan bermanfaat. Sebuah kitab yang paling luas pembahasannya dari kitab fikih Hanafi yang lain. Juga merupakan kitab fikih perbandingan yang merujuk pada madzhab Hanafi dalam perkara hukum, fatwa, pembelajaran, dan penyusunannya.

Ibnu Abidin berkomentar tentang beliau, “As-Sarkhasi tidak melakukan sesuatu yang menyelisihinya (yaitu madzhab Hanafi), ia merujukkan pendapatnya kepada madzhabnya, dan tidak berfatwa kecuali atas dasarnya.”

Kitab ini beliau tulis bukan dalam jumlah juz yang sedikit, yaitu berjumlah 30 juz. Penerbit as-Sa’adah Mesir mencetaknya menjadi 15 jilid yang tersusun dari 30 juz. Semoga Allah memudahkan orang yang ingin mempelajarinya, memberi berkah kepada penulis, para ulama, pelajar, serta semua pihak yang ikut berpartisipasi menyebarluaskan kitab yang sangat berharga ini. Amin.

baca juga: KIFAYATUL AKHYAR

%d bloggers like this: