Al-Fikhu ‘Ala Al-Mazhahibi Al-Arba’ah

Al-Fikhu ‘Ala Al-Mazhahibi Al-Arba’ah

Abdurrahman Al-Jaziri

Fiqih bagaikan lautan ilmu tak bertepi. Satu masalah dalam fikih bisa berkembang dan bercabang menjadi banyak. Sudah umum diketahui bahwa mazhab fikih mempunyai pandangan yang berbeda tentang satu masalah yang sama. Bahkan, boleh jadi perbedaan itu muncul justru di kalangan ulama fikih sendiri.

Salah satu kitab yang mempermudah untuk membantu mengetahui pendapat dari masing-masing mazhab adalah kitab Al-Fikhu ‘Ala Al-Mazhahibi Al-Arba’ah, yang disusun oleh seorang ulama tersohor, Abdurrahman Al-Jaziri. Sebuah buku fikih klasik dalam empat mazhab Sunni yakni, Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hanbali dan disertai dengan dalil-dalil yang mendasari pendapat mereka. Merupakan kitab fikih perbandingan mazhab yang terkenal, yang menjadi salah satu rujukan para ulama dan umat Islam pada zaman kini.

Disusun untuk mempermudah pembaca yang ingin mengetahui perbedaan pendapat dalam fikih. Dilengkapi dengan bermacam pembahasan fikih, seperti: Bersuci, Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Makanan-minuman yang dilarang dan dibolehkan, Jual-beli, Nikah, Thalaq, Hudud, Qisash, Bughat, Murtad, Ta’zir, Dosa-dosa besar, dan lain sebagainya.

Penulis buku tersebut adalah Abdurrahman bin Muhammad ‘Iwadh Al-Jaziri. Dilahirkan di Jazirah Shandaweel, yaitu di Mesir pada tahun 1299 H. Beliau memperdalam ilmu di Al-Azhar serta memperdalam mazhab Abu Hanifah dari tahun 1313 H. sampai 1326 H. Pada tahun 1330 H. beliau ditetapkan sebagai peneliti di bidang Kementrian Wakaf dan sebagai Ustadz di Universitas Ushuluddin serta salah satu anggota perkumpulan ulama. Beliau wafat di Halwan pada tahun 1359 H.

Pada awalnya, kitab ini diisusun oleh sekumpulan ulama atas bimbingan Kementrian Wakaf Mesir. Kemudian Syaikh Al-Jaziri melakukan sebuah amalan besar berupa pengeditan bahasanya, mentahdzibnya, membenarkan kesalahan-kesalahan yang ada di dalam susunan tersebut ketika pertama kali dicetak. Beliau mengambil peran yang sangat besar dalam perubahan bab-babnya, kemudian beliau mengeluarkan sebuah kitab atas namanya sendiri yang merupakan bentuk dari kesungguhan beliau.

baca juga: Kitab Wajib Pesantren Salafiyah, Fathul Mu’in bisyarhi

Merupakan ciri dari kitab ini adalah menyebutkan berbagai masalah dan pendapat mazhab yang ada serta perkataan mereka, di samping tidak meninggalkan penyebutan dalil-dalil setiap mazhab. Penulis menjelaskan sebab penyusunan buku ini seraya berkata, “Tujuan penyusunan kitab ini adalah untuk mempermudah imam masjid dari para ulama dalam menemukan pembahasan fikih.”

Beliau juga mengatakan, “Saya telah berusaha dengan sungguh-sungguh, telah kami periksa dengan benar, saya pisahkan permasalahan-permasalahan di dalamnya dengan judul-judul khusus, serta saya rapikan dengan sangat baik. Sehingga memudahkan pembaca dalam mengambil manfaatnya.”

Meskipun penulis kitab ini sudah bersungguh-sungguh untuk menyajikannya dengan baik, namun masih terdapat kekurangan di dalamnya. Banyak peneliti untuk kitab ini yang mendapati kesalahan dalam menisbatkan perkataan atau pendapat kepada pemiliknya. Terkadang juga didapati bahwa penulis tidak menunjukkan rujukannya. Semua ini merupakan sisi kekurangan dalam kitab ini. Akan tetapi kesalahan ini tidak terjadi pada semua pendapat yang tercantum di dalamnya kecuali hanya beberapa bagiannya saja.

Syaikh Abdul Karim Al-Khudhair berkata, “Kitab ini tidak sempurna, sebagian mazhab dinukil dari kitab-kitab yang tidak masyhur dalam mazhabnya. Dan beberapa riwayat tidak berlaku dalam mazhab yang bersangkutan.”

Diantara sikap lain yang diambil oleh ulama adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Syaikh Al-Baltaji dalam sebuah makalah miliknya, “Akan tetapi kami mengambil manfaat kitab tersebut secara umum dari sumber-sumber yang dekat, mudah diraih baik wujud maupun kefahamannya. Terlebih untuk kumpulan orang terpelajar.”

Oleh karena itu, Kitab ini bukanlah rujukan tunggal untuk mengetahui pendapat yang rajih dari mazhab ulama yang empat. Barang siapa ingin mengetahui pendapat mazhab yang terpercaya hendaknya mengambil dari kitab fikih mereka yang dapat dipercaya. Jika merasa kesulitan dengan itu, hendaknya mengambil dari kitab-kitab tertentu yang menyebutkan permasalahan khilafiyah dari ulama-ulama yang mendalami ilmu tersebut dan mampu dalam hal tahqiq (meneliti keshahihannya). Seperti imam Nawawi dalam kitabnya Al-Majmu’, Ibnu Qudamah dalam kitabnya Al-Mughni, atau kitab-kitab terkini lainnya.

Berdasarkan edisi Arabnya, kitab ini yang diterbitkan oleh Dar Al-Fikr , Beirut–Lebanon pada tahun 1990 M/1411 H, kitab ini disusun dalam 5 juz dan dicetak menjadi 5 jilid. Semoga Allah selalu memberi keberkahan kepada penulis dan orang-orang yang memanfaatkan karya yang berharga ini. Amiin. Wallahu A’lam.

%d bloggers like this: