Air

air menurut islam

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

“Sesungguhnya air itu thahur (suci dan mensucikan), tidak ada sesuatupun yang dapat menajiskannya”

Bersuci dari hadats baik kecil ataupun besar merupakan hal yang sangat penting dalam agama islam. Karena tatkala seorang muslim melakukan ibadah, sedangkan pada dirinya atau tempat beribadahnya terdapat hadats atau najis maka ibadahnya tidak sah dan akan sia-sia. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita mengetahui kreteria air seperti apa yang dapat digunakan untuk bersuci. Mengingat air merupakan alat utama yang digunakan untuk bersuci dari hadats baik kecil ataupun besar.

MACAM-MACAM AIR MENURUT AGAMA ISLAM

Di dalam ajaran agama islam, air dibagi menjadi tiga macam; air suci yang mensucikan, air suci yang tidak mensucikan, air mutanajjis (air yang terkena najis).

  1. Air Suci yang Mensucikan

Air suci yang menyusikan ialah air yang suci dan dapat menyucikan benda lain, atau air yang sah dipakai untuk berwudhu, mandi dan membersihkan najis. Air ini disebut pula air muthlak, yaitu setiap air yang jatuh dari langit atau yang bersumber dari bumi, yang keadaan asalnya tetap tidak berubah warna, rasa dan bau, atau berubah namun penyebabnya tidak sampai menghilangkan sifat menyucikan yang ada, seperti berubah karena bercampur dengan tanah yang suci, garam atau tumbuhan air (lumut). Contoh, air hujan, air yang sungai, air telaga, air laut, air salju, dan lain-lain, baik air tawar atau asin.

Menurut ijma ulama, air mutlak ini suci dan dapat menyucikan benda lain, dan ia dapat digunakan untuk menghilangkan najis, dan juga dapat digunakan untuk berwudhu dan mandi (baik sunnah atau wajib), berdasarkan firman Allah Ta’ala:

وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا

“Dia lah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih” (QS. Al Furqan: 48)

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

“dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu.” (QS. Al anfal: 11)

Dan juga sabda Rasul saw mengenai laut;

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيْلُ مِنَ الْمَاءِ إِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَـتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هُوَ الطُّهُوْرُ مَاؤُهُ الحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Telah bertanya seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ya Rasulullah, kami akan berlayar di lautan dan kami hanya membawa sedikit air, maka kalau kami berwudlu dengan mempergunakan air tersebut pasti kami akan kehausan, oleh karena itu bolehkah kami berwudlu dengan air laut? Jawab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Laut itu suci airnya, (dan) halal bangkainya.” (HR. Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah)

Beliu juga bersabda,

إنَّ الْمَاءَ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ إلَّا مَا غَلَبَ عَلَى رِيحِهِ وَطَعْمِهِ وَلَوْنِهِ

“sesungguhnya air itu menyucikan, ia tidak menjadi najis kecuali yang berubah bau, rasa dan warnanya.” (HR. Ibnu Majah)

  1. Air Suci yang Tidak Mensucikan

Air suci yang tidak mensucikan maksudnya ialah air tersebut dapat digunakan untuk membersihkan najis dari pakaian dan badan, akan tetapi tidak dapat menyucikan (mengangkat) hadats. Oleh sebab itu, tidak sah jika kita berwudhu dan mandi wajib dengan air seperti ini. Air seperti ini ada 3 macam, yaitu:

  1. Air musta’mal, yaitu air yang telah digunakan untuk membersihkan najis atau mengangkat hadats, baik untuk wudhu atau mandi (Bidayatul Mujtahid, Ibnu Rusyd, jil 1, hal 26.). Air semacam ini hukumnya suci, akan tetapi tidak sah digunakan untuk bersuci lagi. Contoh; Ahmad mandi wajib di dalam ember, setelah Ahamd selesai mandi, masih ada air yang tertinggal di dalamnya. Air yang tersisa di dalam ember bekas mandi Ahmad inilah yang disebut dengan air musta’mal yaitu air yang telah digunakan untuk bersuci. Air yang semacam ini statusnya adalah air suci, akan tetapi tidak bisa digunakan untuk bersuci kembali, baik untuk wudhu ataupun mandi.
  2. Air yang berubah dari wujud aslinya, yaitu air yang berubah karena bercampur dengan benda suci lainnya sehingga berubah salah satu dari tiga sifat yaitu warna, rasa atau baunya. Contoh mudah untuk air jenis ini adalah air kopi, air teh, air susu dan lain-lain. Artinya air ini sebenarnya suci, tetapi tidak bisa mensucikan benda lain. Hal ini dikarenakan benda yang mencampurinya mendominasi air tersebut, sehingga namanya pun bukan lagi air muthlak, akan tetapi air kopi, air teh, air susu, dan lain-lain.

Adapun air yang mengalami perubahan dari aslinya, baik perubahan warna, bau, atau rasa karena pengaruh campuran unsur lain yang suci, namun benda yang mencampurinya tidak mendominasi, sehingga air tersebut tetap dinamakan air secara muthak, maka hukum air tersebut tetap suci dan menyucikan (thahur). Seperti perubahan air bak yang bercampur dengan percikan sabun, air kolam yang kejatuhan daun-daun, atau yang lainnya. Ini tetap dinamakan air dan sah untuk wudhu atau mandi selagi air tersebut tidak dimasak, ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah (Fathul Qadir, Kamaluddin Muhammad bin Abdul Wahid, jil 1, hal. 48). Adapun menurut jumhur ulama, Imam Malik, Syafi’I dan Hambali, jika berubah salah satu dari tiga sifat diatas, maka air tersebut adalah air suci, tetapi tidak menyucikan (Lihat Fiqhul Islam wa Adilatuhu, Wahbah az Zuhaili, jil 1, hal 226.).

  1. Air tumbuh-tumbuhan baik bunga atau buah, seperti air mawar, air semangka dan yang semisalnya. air semacam ini suci akan tetapi tidak menyucikan (Lihat Fiqhul Islam wa Adilatuhu, Wahbah az Zuhaili, jil 1, hal 234).
  2. Air Mutanajjis (air yang terkena najis). Bagian ini di bagi dua :

Air Mutanajjis adalah air yang terkena benda najis yang tidak dimaafkan oleh syara’, seperti air yang tidak mengalir dan juga sedikit terkena kotoran manusia walaupun sedikit, sehingga air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci. Para ulama membagi air yang Mutanajjis ini menjadi dua, yaitu:

  1. Air yang sedikit, menurut ulama Syafi’I dan hambali air dikatakan sedikit jika ukurannya kurang dari dua kullah. Dua kullah apabila diukur dengan ruangan bersegi empat adalah 1 ¼ hasta bagi masing-masing panjang, lebar dan dalam, berdasarkan hasta yang sederhana. Adapun untuk ukuran tempat yang bundar seperti kolam adalah 2 hasta untuk ukuran dalam dan 1 hasta untuk ukuran lebar. Air yang kurang dari dua kullah apabila kemasukan benda najis, maka air tersebut menjadi najis walaupun tidak ada perubahan apapun. Air yang seperti ini tidak boleh digunakan untuk bersuci, ini merupakan pendapat kebanyakan ahli fikih (Lihat Fiqhul Islam wa Adilatuhu, Wahbah az Zuhaili, jil 1, hal 231-235).
  2. Air yang banyak, menurut ulama Syafi’I dan hambali air dikatakan banyak adalah air yang lebih dari dua kullah. Jika air ini kemasukan najis, maka hukumnya suci dan menyucikan jika tidak terjadi perubahan pada warna, rasa dan baunya. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,

 إذاَ كَانَ المـاَءُ قُـلَّـتَـيْـنِ لَـمْ يـَحْمِل الخَـبَـثَ. وفي لفظٍ: لَـمْ يـَـنْجُسْ

 “jika air mencapai dua kullah, maka (air tersebut) tidak mengandung kotoran (najis)”. Dalam lafadz lain: “(air tersebut) tidak ternajisi.” (HR. Hakim, Baihaqi, Daruqudni, dishahihkan oleh syaikh al Albani.)

Tetapi jika ada perubahan walaupun sedikit pada salah satu sifatnya, maka hukumnya menjadi najis (Lihat Syarhul Mumti’ ‘ala Zadil Mustaqni’, Muhammad bin Shalih bin Muhammad al Utsaimin, jil 1, hal 40). Air ini tetap boleh digunakan bersuci dengan catatan tidak ada perubahan apapun jika kemasukan najis. Misalnya si A mengencingi air sungai, jika air kencing tersebut tidak menyebabkan bau, rasa dan baunya air sungai berubah, maka hukumnya tetap suci.

%d bloggers like this: