Adakah Shalat Khusus Karena Terjadi Bencana?

adakah shalat khusus saat terjadi bencana

Musim hujan di tanah air seringkali diwarnai dengan hujan deras, angin kencang, banjir bandang, dan tanah longsor. Tak jarang kejadian alam itu mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan kerugian ekonomi yang cukup besar. Fenomena alam tersebut merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang besar di jagad raya.

Apakah kemunculan tanda-tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang “menakutkan” tersebut menjadi alasan disunahkannya melakukan shalat khusus, sebagaimana disunahkannya shalat gerhana Matahari dan Bulan? Masalah ini ternyata sudah lama menjadi ajang perbedaan ijtihad para ulama fikih.

 

ADA PERISTIWA ALAM DISUNAHKAN SHALAT

Sebagian ulama berpendapat disunahkan untuk melakukan shalat saat terjadi gejala-gejala alam apapun yang menakutkan. Seperti gempa bumi, gunung meletus, angin badai yang merusak, banjir bandang yang menghancurkan, tsunami, gerhana matahari, gerhana bulan, dan lainnya. Pendapat ini dipegangi oleh madzhab Hanafi dan Ibnu Hazm az-Zhahiri, dan menjadi salah satu dari beberapa pendapat imam Ahmad bin Hambal.

Al-Kasani al-Hanafi menulis, “Disunahkan untuk melakukan shalat saat terjadi setiap perkara besar yang menakutkan, seperti badai angin yang kencang, gempa bumi, cuaca yang sangat gelap, dan hujan yang turun secara terus-menerus. Sebab, semua hal tersebut termasuk gejala alam yang menakutkan dan peristiwa yang menggoncangkan hati.” (Al-Kasani, Badai’ as-Shanai’ fi Tartib as-Syarai’, II/255-256)

 

BACA JUGA: Shalat Sunnah Rawatib Berdasarkan Waktu Pelaksanaannya

 

Mereka berargumen dengan Qiyas terhadap kesunahan shalat gerhana matahari dan gerhana bumi. Dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ menegaskan ‘illah (alasan yang mendasari perintah) disyariatkannnya shalat gerhana matahari dan gerhana bulan adalah karena keduanya merupakan tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang luar biasa.

Mereka menyatakan qiyas ini merupakan jenis qiyas yang paling kuat dan paling tinggi kedudukannya. Sebab ‘illah dari hukum tersebut ditegaskan langsung oleh Rasulullah ﷺ dalam teks hadits.

Pendapat ini berdalil dengan hadits mauquf dari Abdullah bin Harits, dari Ibnu Abbas bahwasanya ia memimpin shalat masyarakat ketika terjadi gempa bumi di kota Bashrah. Ia melakukan shalat dua rekaat, dengan melakukan tiga kali ruku’ dan tiga kali membaca surat dalam setiap rekaat. Jadi, ia melakukan enam kali ruku’ dan empat kali sujud. Usai shalat, Ibnu Abbas berkata,

هَكَذَا صَلَاةُ الْآيَاتِ

Beginilah caranya shalat ketika terjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang besar).” (HR. Abdur Razzaq, Ibnu Abi Syaibah, dan Al-Baihaqi. Al-Baihaqi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menshahihkan sanadnya)

Selain hadits tersebut, pendapat ini juga berargumen dengan hadits mauquf lain dari Ubaid bin Umair dari Aisyah x, ia berkata, “Shalat ketika terjadi tanda-tanda (kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla yang besar) itu enam kali ruku’ dengan empat kali sujud.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla, III/316)

 

SHALAT DISUNNAHKAN HANYA KETIKA TERJADI GEMPA

Sebagian ulama berpendapat disunahkan untuk melakukan shalat saat terjadi gempa bumi saja, sebagaimana disunahkannya shalat saat terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan. Adapun tanda-tanda alam lainnya yang besar seperti tsunami, gunung meletus, angin badai, banjir bandang, dan lain-lain tidak disunahkan untuk melaksanakan shalat khusus. Pendapat ini dipegangi oleh imam Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan Abu Tsaur. (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, III/332-333 dan Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar, II/418)

Mereka berargumentasi dengan riwayat Ibnu Abbas yang melaksanakan shalat berjamaah saat terjadi gempa bumi di Basrah.

 

TIDAK ADA SUNAH SHALAT KETIKA TERJADI BENCANA ALAM

Sebagian ulama berpendapat tidak disunahkan untuk melakukan shalat atas gejala alam yang besar dan peristiwa yang menakutkan, kecuali saat terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan. Adapun terjadinya gunung meletus, banjir bandang, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain tidak disunahkan untuk melakukan shalat khusus. Pendapat ini dipegangi oleh imam Malik bin Anas. (Al-Mughni, III/333 dan Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, II/471)

Dalil beliau adalah hadits-hadits shahih yang menyebutkan Nabi ﷺ dan para sahabat di zaman Khulafa’ Rasyidin hanya melaksanakan shalat khusus saat terjadi matahari dan gerhana bulan. Mereka tidak melaksanakan shalat khusus ketika terjadi tanda-tanda alam lainnya yang besar.

 

TIDAK SUNAH JIKA DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH

Tidak disunahkan melakukan shalat khusus secara berjamaah jika terjadi gunung meletus, banjir bandang, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain. Maksudnya, tidak disunahkan melakukan shalat khusus secara berjamaah untuk selain gerhana matahari dan gerhana bulan. Meskipun demikian, disunahkan melakukan shalat secara sendirian di rumah jika terjadi peristiwa alam seperti itu. Pendapat ini dipegangi oleh imam Asy-Syafi’i.

Asy-Syafi’i berkata, “Saya tidak memerintahkan untuk melaksanakan shalat jamaah atas terjadinya gempa bumi, kegelapan yang sangat pekat, guntur yang hebat, angin badai, dan tanda-tanda alam lainnya. Saya memerintahkan untuk melakukan shalat sendiri-sendiri, sebagaimana mereka melaksanakan shalat-shalat sunah lainnya dengan sendiri-sendiri.” (Al-Umm, I/409)

An-Nawawi berkata, “Seluruh ulama mazhab kami sepakat menyatakan disunahkan (saat terjadi tanda kekuasaan Allah ‘Azza wa Jalla seperti gempa bumi dan lainnya) untuk melaksanakan shalat sendirian, berdoa, dan memohon kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan sungguh-sungguh, agar tidak termasuk golongan orang yang lalai.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, V/59)

 

KAJIAN PENDAPAT

  1. Hadits-hadits shahih dan riwayat sejarah menunjukkan, pada zaman Nabi ﷺ tidak pernah terjadi gempa bumi yang besar. Juga tidak ditemukan hadits shahih dan riwayat sejarah yang menunjukkan Nabi ﷺ melakukan shalat khusus ketika terjadi gempa bumi.
  2. Riwayat sejarah menunjukkan gempa bumi yang besar di kota Madinah pertama kali terjadi di era khalifah Umar bin Khatab. Sufyan bin Uyainah meriwayatkan dari Shafiyah x bahwa saat gempa bumi tersebut terjadi, Umar bin Khatab naik ke mimbar dan menyampaikan peringatan keras kepada kaum muslimin, “Duhai, betapa cepatnya kalian membuat perkara-perkara baru dalam agama. Demi Allah ‘Azza wa Jalla, seandainya gempa bumi terjadi kembali, niscaya aku akan keluar dari tengah kalian (tidak mau tinggal dalam kota Madinah lagi).”

Umar bin Khatab tidak melakukan shalat khusus atas gempa bumi tersebut. Seluruh sahabat dan tabi’in yang berada di Madinah juga tidak melakukan shalat khusus. (Al-Istidzkar, II/418)

  1. Hujan deras selama tujuh hari berturut-turut hingga menimbulkan banjir bandang yang merusak perumahan, lahan pertanian, dan hewan ternak pernah terjadi di zaman Rasulullah ﷺ. Hadits tentang hal itu diriwayatkan dari Anas bin Malik dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim. Saat itu Rasulullah ﷺ dan para sahabat tidak melaksanakan shalat khusus. Beliau hanya berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar hujan berhenti.
  2. Shalat khusus secara berjamaah saat terjadi gempa bumi atau tanda alam lainnya yang besar diriwayatkan dari beberapa orang sahabat saja, seperti Ibnu Abbas dan Aisyah. Mayoritas sahabat dari kalangan muhajirin dan Anshar tidak melaksanakannya. Seandainya ada perintah shalat khusus dari Rasulullah ﷺ, niscaya riwayatnya akan dikenal luas oleh mayoritas sahabat.
  3. Pendapat yang lebih kuat adalah tidak ada shalat khusus atas tanda-tanda alam yang “menakutkan” tersebut, selain gerhana matahari dan bulan sebagaimana pendapat imam Malik. Namun disunahkan untuk memperbanyak doa, dzikir, istighfar, sedekah, dan taubat saat tanda-tanda tersebut terjadi. Wallahu a’lam [-]

 

REFERENSI

Abu Bakr bin Mas’ud al-Kasani, Badai’ as-Shanai’ fi Tartib as-Syarai’, Kairo: Daru Hadits, cet. 2, 1426 H.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, cet. 3, 1417 H.

Ibnu Rusyd al-Andalusi, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 1, 1416 H.

Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, Al-Umm, Beirut; Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 3, 1435 H.

Ibnu Abdil Barr al-Andalusi, Al-Istidzkar al-Jami’ li-Madzahib Fuqaha’ al-Anshar, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 3, 1431 H.

Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1417 H.

Ibnu Hazm al-Andalusi, Al-Muhalla bil-Atsar, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, cet. 3, 1431 H.

%d bloggers like this: