99 Penyebab Kamatian

99 Penyebab Kamatian

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Kehidupan seluruh makhluk telah ditentukan ajalnya. Tak ada seorang manusia pun yang dapat menyangkal, bahwa dirinya akan mati. Dengan berlalunya waktu, dari hari ke hari, berlalunya bulan demi bulan, dan bergantinya tahun ke tahun berikutnya, maka sesungguhnya semua itu mengurangi jatah hidup manusia, semakin mendekatkan dirinya kepada ajal yang ditentukan oleh Allah. Tapi herannya, masih banyak saja manusia yang tidak memperhatikannya. Karena disibukkan diri dengan berbagai urusan dunia yang akan ditinggal dan melalaikan masa depan di akhirat yang kekal selamanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Tetapi kamu lebih  memilih kehidupan duniawi, sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17).

Allah menyatakan bahwa manusia banyak tertipu dengan kehidupan dunia. Lantas, apakah kita juga termasuk orang-orang seperti itu?? Padahal kita sering mendapat nasehat, tapi masih saja sering melalaikan perintah Allah dan melanggarnya. Lantas, bagaimana halnya dengan mereka yang enggan mendengarkan pengajian. Sangatlah rugi bagi mereka yang sehat walafiat, namun tidak mau merenungi akan adanya kematian yang menunggunya.

Sebenarnya, banyak hal yang bisa menyadarkan diri kita akan kematian. Banyak orang-orang yang hidup di sekitar kita, baik orang yang dikenal atau tidak yang telah mendahului dijemput malaikat maut. Di antara kita sudah ada yang ditinggal mati oleh kakek atau neneknya, ayah atau ibunya, kakak atau adiknya, suami atau istrinya, bahkan anak atau cucunya. Demikian juga tetangganya, kawan sekolahnya, teman bermainnya, atau kawan kerjanya. Tanpa pernah diduga dan tidak diinginkan oleh kita.

Ada sebuah nasehat menarik dari Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:

Dunia telah berjalan menjauhi, sedangkan akhirat telah berjalan mendekati. Dan masing-masing dari Dunia dan akhirat ada orang-orang (yang memburunya), maka hendaklah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) akhirat, janganlah kamu menjadi orang-orang (yang memburu) dunia. Karena sesungguhnya hari ini (di dunia) ada amal, dan belum ada hisab (perhitungan amal), sedangkan besok (akhirat) yang ada adalah hisah dan tidak ada amal.” (HR Bukhari).

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Banyak faktor yang bisa menjadi penyebab kematian manusia. Tidak peduli apakah dia laki-laki atau perempuan, tua atau muda, muslim atau kafir, orang kaya atau miskin, polisi atau begal, pengusaha atau pengemis, jamaah masjid atau bukan, seorang kiyai atau orang biasa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan hakikat ini dalam banyak hadits, diantaranya:

Dari Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir, dari bapaknya, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah diciptakan di dekat anak Adam sembilan puluh sembilan musibah (sebab kematian). Jika dia tidak terkena semua musibah itu, dia pasti mengalami ketuaan. (HR Tirmidzi).

Dalam hadits disebutkan ada “sembilan puluh sembilan musibah/sebab kematian” maksudnya adalah bahwa sebab-sebab kematian itu sangat banyak, bukan hanya sembilan puluh sembilan saja jumlahnya. Tak jarang kita dengar, ada seseorang yang meninggal hanya karena kecapekan, karena kaget, karena saking senengnya, atau karena saking sedihnya. Dan masih banyak lagi sebab-sebab kematian yang terkadang tidak terduga.

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

Terkait dengan hadits di atas, ada dua makna yang disebutkan oleh para ulama.

Pertama, banyak faktor yang menjadi penyebab kematian manusia. Meskipun manusia itu berulang kali selamat dari sebab kematian yang berupa penyakit, kelaparan, tenggelam, terbakar, atau lainnya, tentu dia akhirnya akan mengalami penuaan dan akhirnya meninggal. Artinya, selamat dari dari berbagai musibah yang pernah dialami bukanlah jaminan seseorang tidak meninggal, pasti akan datang saat-saat dimana dia tua dan tak berdaya kemudian akhirnya meninggal dunia.

Oleh karena itu, mumpung masih hidup, masih sehat, masih muda dan bugar, jangan sampai lengah dengan kesehatan yang diberikan Allah. Semua itu adalah karunia dan ujian, sejauh mana rasa syukur kita sehingga menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

Kedua, asal penciptaan manusia tidak terlepas dari musibah, bencana dan penyakit. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah ungkapan,

اَلْبَرَايَا أَهْدَافُ الْبَلَايَا

Semua makhluk adalah sasaran musibah.”

Atau seperti dikatakan Ibnu Atha rahimahullah,

مَا دُمْتَ فِيْ هَذِهِ الدَّارِ لَا تَسْتَغْرِبْ وُقُوْعَ الْأَكْدَارِ

Selama engkau berada di dunia ini, jangan heran dengan terjadinya berbagai macam kesusahan.

Inti yang perlu kita cermati adalah bahwa dunia itu penjara bagi seorang mukmin dan surga bagi orang kafir. Segala tindak tanduk kita dibatasi dengan adanya syariat. Dan kematian dengan berbagai macam penyebabnya adalah sebagai pengingat agar kita selalu waspada dan eling. Sehingga sepantasnya seorang mukmin selalu bersabar dan bersyukur menghadapi keputusan Allah, ridha terhadap yang ditakdirkan dan diputuskan Allah kepada dirinya.

Dalam sebuah riwayat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa semua penyakit  itu ada obatnya kecuali ketuaan yang membawa kepada kematian.

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَدَاوَوْا عِبَادَ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنَزِّلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ مَعَهُ شِفَاءً إِلَّا الْمَوْتَ وَالْهَرَمَ

Dari Usamah bin Syarik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kamu berobat, wahai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan obat bersamanya, kecuali kematian dan ketuaan”. (HR Ahmad).

Di dalam hadits yang lain disebutkan:

عَنْ أَبِيِ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً أَوْ لَمْ يَخْلُقْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ أَوْ خَلَقَ لَهُ دَوَاءً عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ إِلَّا السَّامَ قَالُوْا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا السَّامُ؟ قَالَ الْمَوْتُ

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit atau tidak menciptakan penyakit kecuali menurunkan atau menciptakan obat untuknya. Orang yang telah mengetahuinya dia mengetahui, orang yang tidak mengetahuinya dia tidak mengetahuinya, kecuali as-saam”. Para sahabat bertanya, “Apakah as-saam itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kematian. (HR al-Hakim).

 

Maasyiral muslimin rahimakumullah,

 

Sebagai manusia, kita memiliki aneka harapan dan keinginan. Banyak orang berharap memiliki dunia dan kemewahannya; memiliki pekerjaan yang ringan dan mudah, usaha yang lancar dan sukses, punya rumah dan mobil mewah, dan perkara wah lainnya. Namun kebanyakan tidak menyadari bahwa sesungguhnya kematian itu lebih dekat dari angan-angan, impian, harapan dan keinginannya. Maka jangan sampai berat sebelah, maksudnya adalah mengutamakan dunia dan melalaikan akhirat. Dunia itu ada dan dicari sebagai wasilah atau sarana mendapatkan akhirat yang lebih baik dan banyak lagi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan tentang begitu dekatnya kematian kepada seseorang. Beliau menjelaskan dengan membuat sebuah ilustrasi dengan garis, sehingga hal itu lebih menjadikan gamblang dan menyentuh hati orang-orang yang memperhatikan. Setelah beliau membuat garis, dengan jelas beliau bersabda,

Ini adalah (ibarat) angan-angan (manusia), dan ini (ibarat) ajalnya. Ketika ia dalam keadaan demikian (yaitu mengejar angan-angan dan impiannya), tiba-tiba datang kepadanya garis yang terdekat ( yaitu ajalnya)’.” (HR. al-Bukhari).

Selain itu, beliau juga pernah mengilustrasikan kedekatan ajal pada manusia itu dengan anggota badan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عن أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذَا ابْنُ آدَمَ وَهَذَا أَجَلُهُ وَوَضَعَ يَدَهُ عِنْدَ قَفَاهُ ثُمَّ بَسَطَهَا فَقَالَ وَثَمَّ أَمَلُهُ وَثَمَّ أَمَلُهُ وَثَمَّ أَمَلُهُ

Dari Anas bin Malik, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ini adalah anak Adam, dan ini adalah ajalnya,” beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (bersabda seperti itu seraya) meletakkan tangannya pada tengkuknya, lalu membentangkan telapak tangannya seraya bersabda, “Dan disana adalah angan-angannya, dan disana adalah angan-angannya’ dan disana adalah angan-angannya.” (HR Tirmidzi).

Maasyiral muslimin rahimakumullah.

Demikianlah kondisi nyata antara kita dan kematian. Entah menyadari atau tidak, mengetahui atau tidak. Di antara kita ada yang malas mengingatnya, walaupun dia tidak memungkiri itu akan menimpa dirinya. Bahkan dia yakin nantinya akan mati. Di antara kita ada juga yang tidak suka mendengarkannya, padahal bisa jadi hal itu sudah sangat dekat dengannya dari pada berbagai impian dan harapan yang dimilikinya.

 

KHUTBAH KEDUA

 

Maasyiral Muslimin Rahimakumullah

 

Semoga sedikit keterangan ini mengingatkan kita tentang pentingnya persiapan menghadapi kematian, masalah besar yang dihadapi setiap insan. Demikianlah yang paling penting sebagaimana diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Dari al-Bara’, di berkata, “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu jenazah, lalu beliau duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda,’Wahai saudara-saudaraku! Untuk semisal ini, maka persiapkanlah!’.” (HR Ibnu Majah).

 

 

 

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ وَلَا تَكِلْنَا إِلَى أَنْفُسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاجْعَلْ عَمَلَنَا فِي رِضَاكَ، وَوَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، رَبَّنَا إِنَّا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وإنْ لَمْ

تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ

 

ilyas mursito

%d bloggers like this: