khutbah jum’at

khutbah jum'at

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ . لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

و قال رسول الله:

 إن الله قال: وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ . رواه البخاري.

Saya wasiatkan kepada diri saya pribadi dan kepada saudara-saudaraku seakidah, marilah kita berusaha mengisi sisa-sisa usia kita dengan menambah ketakwaan kita kepada-Nya. Antara lain dengan berusaha mengoptimalkan nilai-nilai ibadah fardhu kita. Dilanjutkan dengan menyempurnakan ibadah-ibadah sunnah kita.

Dalam sebuah hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Allah berfirman,

 “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan hamba-Ku itu tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menggenggam, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta pasti Aku beri, jika ia meminta perlindungan, niscaya Aku lindungi.”

Kalau sholat, tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dengan sholat shubuh yang tentu saja kita kerjakan di masjid secara berjamaah. Tidak ada ibadah yang lebih dicintai oleh Allah dibanding sholat dhuhur, tentu saja yang kita kerjakan secara berjamaah. Begitu juga dengan shalat Ashar , begitu juga sholat maghrib, begitu juga sholat isya’.

Kalau shiyam, tidak ada shiyam yang lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan shiyam ramadhan.

Tidak ada shadaqah yang lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan shadaqah wajib, yaitu zakat.

Dan tidak ada ibadah haji yang lebih dicitai oleh Allah dibanding haji yang pertama, karena haji yang ke dua, ke tiga, ke empat pada hakikatnya adalah ibadah sunnah.

Seorang laki-laki datang kepada rasulullah dan bertanya,

“Bagaimana pendapat anda jika ada seseorang yang mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian melakukan shalat wajib, dan shiyam ramadhan, serta mengeluarkan zakat?

Rasulullah menjawab,

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan seperti ini, maka dia tergolong orang yang senantiasa melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya, dan laksana matinya seperti orang yang syahid di medan peperangan.”

Mari kita jaga yang fardhu. Apabila yang fardhu itu kita laksanakan dengan sungguh-sungguh secara maksimal dan kita optimalkan, ibadah fardhu tadi akan menuntun, mengajak, bahkan memotivasi untuk mengerjakan ibadah-ibadah lain yang sunnah.

Ketika sholat shubuh kita laksanakan secara berjamaah di masjid, shalat tadi akan menuntun kita untuk mengerjakan sholat dua raka’at sebelumnya. Dua rakaat sebelum shubuh, nilainya mengalahkan dunia seisinya.

Barangkali di antara kita tadi pagi ada yang tidak sempat mengerjakan shalat dua raka’at sebelum shubuh dan tidak ada perasaan menyesal, tidak merasa kehilangan, tidak merasa ada sesuatu yang saya tinggalkan padahal itu sangat tinggi nilainya, maka bermuhasabahlah.

Anda yang tadi pagi tidak mengerjakan shalat dua raka’at sebelum shubuh, dan itu sunnah, dan anda tidak menyesal, maka instrospeksilah.

Mengapa kita bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat jum’at agar kita mendapat shaf yang pertama? Mudah-mudahan itu hasil dari usaha kita untuk melaksanakan sholat fardhu secara optimal.

Mengapa kita bergegas menuju masjid, tapi berusaha mengambil tempat yang paling belakang? Apakah karena tempat paling belakang itu kita bisa bersandar? Maka ini karena bisa jadi sholat fardhu kita dalam pengerjaannya masih bolong-bolong.

“Tidak ada ibadah yang lebih aku cintai dibanding ibadah yang aku wajibkan kepadanya”. Ketika ibadah wajib tadi telah mantap, telah kita kerjakan secara optimal, sekipun kadang-kadang juga belum khusyu’, tapi itulah maksimal kemampuan kita. Kemudian memotivasi kita mengerjakan ibadah sunnah, rasulullah mengingatkan dalam kelanjutannya,

وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا

Apabila ibadah wajib sudah dia kerjakan secara benar. Dan itu memotivasi dia untuk mengerjakan ibadah sunnah. Apabila ibadah sunnah itu dia kerjakan secara benar, paling tidak dua reka’at sebelum shubuh, dua atau empat reka’at sebelum dhuhur, dua reka’at sesudah dhuhur, dua rekaat sesudah maghrib, dua reka’at sesudah isya’, maka Allah akan mencintai dia. Kalau Allah sudah mencintai dia, maka Allah yang akan menjadi pendengaran dia di manapun dia mendengar, Allah menjadi pengelihatan dia di manapun dia melihat, aku menjadi tangan dia di manapun dia bergerak, Allah menjadi kaki dia di mana dia melangkah.

Setiap tingkah laku dan apapun yang kita ucapkan akan dijaga oleh Allah apabila yang fardhu kita laksanakan secara maksimal. Dan itu semua akan mendorong kita untuk melakukan ibadah-ibadah sunnah yang tentu saja itu menjadi pelengkap dan penyempurna ibadah-ibadah fardhu kita.

Mari bermuhasabah.. mari bertanya kepada diri kita, beberapa kali kita melalui bulan ramadhan, sudah berapa kali kah al qur’an yang kita khatamkan?

Pada kesempatan yang lalu pernah saya sampaikan, Utsman bin Affan, kisah seorang penguasa yang wilayahnya terbentang sejak dari afrika utara sampai gunung Himalaya. Karena kesadaran diri beliau, bahwa diri beliau adalah makhluk yang hina, kemampuan beliau adalah kemampuan manusia yang terbatas, beliau tidak akan pernah mengemban amanah memimpin umat dengan menjadi kepala Negara, kecuali harus mendapat bimbingan dari Allah. Satu hari Utsman sosok kepala Negara yang super sibuk tadi bisa mengkhatamkan membaca al-Qur’an sekali. Ramadhan berakhir, beliau khatamkan al qur’an dua puluh Sembilan kali kalau ramadhannya 29 hari, khatam 30 kali kalau ramadhannya 30 hari. Adakah di antara kita yang lebih sibuk dari Utsman bin Affan?

Maka, marilah kita manfaatkan sisa usia kita dengan nilai-nilai ibadah yang sifatnya maksimal, optimal sesuai dengan contoh dari Rasulullah.

Aquulu qauli hadza…

 

Khutbah 2

Di saat Abu bakar ash-Shidiq sedang menderita sakit yang parah, yang dengan sakitnya itu beliau dipanggil menghadap keharibaan Allah, beliau, orang yang menggantikan rasulullah imam shalat, orang yang ditunjuk rasulullah menemani beliau hijrah dari Makkah ke Madinah, bersembunyi di gua Tsur. Orang yang oleh rasulullah beliau katakana, apabila iman manusia sejagat itu ditimbang dengan imannya abu bakar maka iman Abu Bakar akan berada di bawah dan iman manusia sejagat akan berada di atas.

Disaat menderita sakit menjelang kematiannya, beliau memanggil Umar Ibn Khattab yang ditunjuk untuk menjadi pengganti beliau, beliau berwasiat kepada Umar Ibn Khattab,

إِنَّ لِلَّهِ تَعَالَى حَقًّا بِالنَّهَارِ لا يَقْبَلُهُ بِاللَّيْلِ ، وَلِلَّهِ فِي اللَّيْلِ حَقًّا لا يَقْبَلُهُ فِي النَّهَارِ ، وَإِنَّهَا لا تُقْبَلُ نَافِلَةٌ حَتَّى تُؤَدَّى الْفَرِيضَةُ

“Allah mempunyai hak untuk dilaksanakan perintah-perintahnya di siang hari dan itu tidak akan diterima apabila dilakukan di malam hari. Dan sesungguhnya Allah mempunyai hak di malam hari dan itu tidak diterima apabila dilakukan di siang hari. Dan Allah tidak akan menerima ibadah sunnah seseorang sampai ia mengerjakan ibadah wajib.”

Fenomena yang sering kita lihat-mudah-mudahan bukan kita pelakunya-, menjelang ramadhan mereka membeli sarung baru, membeli peci baru, membeli baju baru, sajadah baru, berbondong-bondong menuju masjid, setelah maghrib untuk melaksanakan sholat isya dan yang lebih pokok lagi melaksanakan sholat tarawih. Sementara sholat shubuh dia laksanakan di rumah, sholat dhuhur dia kerjakan secara tidak berjamaah, begitu juga ashar, begitu juga maghrib. Kalau isya dikerjakan karena ada tambahan yang dianggap lebih pokok daripada sholat isya itu sendiri.

Sholat tarawih adalah ibadah yang mulia, ibadah yang agung, pahalanya bisa menghapus dosa setahun yang telah lalu, apabila yang sunnah itu dikerjakan setelah mereka menyempurnakan yang fardhu.

Tetapi apabila yang fardhu masih bolong-bolong, dalam artian dia mampu mengerjakan di masjid tapi dia kerjakan di rumah, isya’ nya di masjid karena mengejar tarawih, maka kata Abu Bakar Ash Shidiq, “Allah tidak akan menerima Ibadah sunnah seseorang apabila dia tidak melaksanakan ibadah fardhu secara sempurna”.

Marilah kita laksanakan ibadah sunnah sebaik-baiknya di atas ibadah fardhu yang kita kerjakan sesempurna dan sebaik-baiknya. Sehingga dengan demikian kita akan menjadi orang-orang yang dicintai Allah sesuai dengan hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, sebagaimana yang saya sampaikan dalam khutbah pertama. Marilah kita akhiri khutbah siang ini dengan berdoa,

 

 

%d bloggers like this: