4 Zat Dari Babi Yang Sulit Dihindari

4 Zat Dari Babi

Untuk menghindari daging dan masakan babi, kita perlu mengenali istilah lain babi seperti pork, bacoon, lard, pig, ham,  boar, hog, swine, sow atau istilah dalam bahasa China seperti siu, agar tidak salah pilih menu saat makan di sebuah restoran. Atau lebih amannya, jika resto tersebut menyajikan masakan babi, kita tidak makan di tempat tersebut. Meskipun ada pilihan menu halal, tapi kita patut khawatir jika bahan-bahan mentahnya bercampur atau wadah yang digunakan bekas mengolah babi.

Foto warung yang menyajikan babi

Untuk produk makanan selain di restoran, label halal sudah mencukupi. Untuk memastikan apakah sebuah makanan mengandung zat haram  atau tidak, kita bisa langsung mencari label halal pada makanan tersebut. Jika tidak ada, kita patut waspada.

Hanya saja, hal ini tidak selalu mudah. Beberapa produk baik makanan atau kosmetik local yang bias kita pakai, biasanya belum memiliki sertifikat halal. Makanan atau minuman serta kosmetik tersebut rawan terkontaminasi barang haram karena tidak ada pengawasan. Bukan lain karena beberapa zat dari babi memang jamak digunakan sebagai zat campuran dengan ragam fungsinya.

baca juga: PILAH-PILIH REESTO HALAL

Beberapa zat dari babi yang jamak digunakan sebagai campuran diantaranya;

GELATIN

Gelatin adalah produk alami yang diperoleh dari hidrolisis parsial kolagen. Gelatin merupakan protien yang larut. Sumber gelatin dapat berasal dari tulang dan jangat sapi, kulit babi dan kulit ikan. karena gelatin merupakan produk alami, maka diklasifikasikan sebagai bahan pangan bukan bahan tambahan pangan.

Gelatin yang diperoleh dari babi merupakan gelatin yang paling luas dipakai dalam industri pangan dan obat-obatan karena paling murah dibanding yang dari sapi atau ikan. Dalam industri pangan, gelatin dipakai sebagai bahan pembuatan permen lunak, jeli, es krim, susu formula, roti, minuman susu dll. Adapun dalam industri farmasi, gelatin merupakan bahan pembuatan vaksin, cangkang kapsul, krim, pasta gigi dan obat gosok.

Menurut data, penggunaan gelatin sapi sekira 60 % sedangkan babi 40%. Gelatin disebut sebagai miracle food karena sangat sulit digantikan dengan alternatif lain. Salah satu sifat gelatin yang ajaib adalah padat dalam kondisi kering dan meleleh saat di mulut inilah yang sulit tergantikan.(halalguide.info)

Kolagen

Kolagen adalah protein jaringan ikat yang liat. Kolagen menghubungkan dan mendudkung jairngan tubuh seperti kulit, tulang, tendon, otot, tulang rawan bahkan kuku dan rambut. Kolagen sangat penting bagi petumbuhan sel, menjaga elastisitas kulit dan regenerasi sel. 33 % protein tubuh terdiri dari kolegn dan sekira 75 % kulit terbentuk dari kolagen.

Dalam dunia industri, kolagen diperoleh dari hewani misalnya sapi dan babi. Kolagen dipakai dalam hand body lotion, pelembab, suntik dan suplemen. Kolagen akan melenturkan dan mengencangkan kulit. Kolagen pada kulit manusia berfungsi seperti kasur elastis yang menjaga kelenturan kulit. Semakin tua usia, kasur ini akan berkurang elastisitasnya. Akibatnya, kulit keriput dan otot mudah kaku karena tidak elastis.

Lagi-lagi karena alasan ekonomis, beberapa perusahaan kosmetik memilih kolagen dari babi. Perkembangan babi dalam peternakan sangat cepat hingga mampu memproduksi kulit lebih banyak dibanding sapi. Masa panen babi jauh lebih pendek daripasa sapi. Babi transgenik memiliki jaringan sel yang mirip dengan manusia. Dengan demikian kolagen babi transgenik diharapkan dapat memberikan ahsil lebih maksimal dibanding sapi.

Lard atau Lemak Babi

Lemak babi memiliki kegunaan luarbiasa banyak. Baik digunakan sebagai lemak murni maupun diambil zat-zat darinya melalui beberapa proses. Salah satunya dibuat shortening, bahan pemberi gizi, pelezat, pengempuk sekaligus pengembang.

Shortening adalah lemak yang telah mengalami beberapa proses semisal pembersihan dari zat asam berlemak bebas, pemutihan, pengurangan bau (deodorization), dan pemanasan. Dengan proses ini, minyak shortening, baik cari maupun padat akan memiliki warna menarik dan bau yang sedap.

Dalam memasak, mintak ini memiliki fungsi pelezat dan pembangkit aroma. Lemak babi menghasilkan asap yang sedikit dan mengeluarkan aroma lezat saat dikombinasi dengan bahan masakan lain. Banyak chef dan ahli roti menyebut lard babi sebagai lemak yang superior karena rasanya.

Dalam pembuatan roti, shortening sangat diperlukan untuk meningkatkan volume roti (pengembang). Selain itu, shortening juga berfungsi memberi rasa empuk pada tekstur roti dan memunculkan aroma lezat.

Namun begitu, shortening tidak semuanya berasal dari babi. Shortening dapat berasal dari sapi, kelapa atau sawit.

Lesitin

Lesitin (Lechitin) merupakan istilah umum untuk menunjuk setiap kelompok zat lemak kuning-kecoklatan ada pada jaringan hewan dan tumbuhan yang terdiri dari asam fosfat, kolin, asam lemak, gliserol, glikolipid, trigliserida, dan fosfolipid (misalnya, fosfatidilkolin, fosfatidiletanolamin, dan fosfatidilinositol).

Lesitin diisolasi oleh ahli kimia dan farmasi Perancis Theodore  Gobley pada tahun 1846. Lesitin dapat diperoleh dari kuning telur, minyak biji matahari, lemak hewani, dan yang paling banyak dari kedelai. Dalam pangan, lesitin berfungsi sebagai emulsifier, yaitu zat yang dapat mencampur minyak dan air. Hal tersebut dapat terjadi karena lesitin mempunyai kepala yang bersifat hidrofilik dan ekor yang bersifat hidrofobik.Digunakan pada sekian banyak produk pangan misalnya; coklat, permen, susu, kopi dan banyak lagi. Kita bisa mengecek kandungan lesitin melalui daftar komposisi pada bungkus makanan.

Lesitin juga digunakan pada banyak produk mulai dari cat, bahan anti lengket untuk plastik, suatu aditif antisludge (anti-lumpur) dalam pelumas motor, zat antigumming dalam bensin, dan pengemulsi, zat penyebar, dan antioksidan pada tekstil, karet, dan industry lain.

Lesitin dari babi banyak digunakan karena memiliki hasil yang sangat baik dan harga relatif murah. Bahan utama pembuatan lesitin dari babi adalah lemak babi. Apabila dalam komposisi sebuah produk yang tidak berlabel halal terdapat “lesitin” saja tanpa penambahan “kedelai” atau “soya” atau “soy”, hendaknya kita berhati-hati. Bisa jadi, lesitin yang digunakan berasal dari babi.

Zat Haram yang telah berubah bentuk

Suatu zat haram yang telah berubah bentuk menjadi zat baru, apakah hukumnya masih haram atau tidak? Perbedan pendapat mengenai masalah ini muncul sejak zaman empat mazhab. Al-Hashkafi (ulama mazhab Hanafi, wafat 1088H) menyatakan bahwa babi yang dibakar dan berubah menjadi debu, atau berubah menjadi garam hukumnya tidak najis. Sementara ulama mazhab Syafi’I dan Hanbali menyatakan, zat najis seperti babi hukumnya tetap najis meski telah berubah bentuk secara drastis sekalipun seperti menjadi debu maupun garam, kecuali khamr yang berubah menjadi cuka.

Namun, menurut beberapa fatwa, zat-zat seperti gelatin, kolagen dan lesitin yang berasal dari babi bukanlah zat baru. Artinya, meskipun telah mengalami proses ekstraksi dan proses lainnnya, zat tersebut belum berubah dari identitas aslinya bahwa zat tersebut berasal dari babi. Hal ini bisa dibuktikan dalam tes DNA.

Oleh karenanya, gelatin dari babi tetap diharamkan oleh majelis-majelis fatwa internasional seperti OKI keputusan no: 23 (11/3) tahun 1986, keputusan Al-Majma Al-Fiqhiy Al-Islamy di bawah (Rabitah Alam Islami) yang berpusat di Mekkah (no. 3, rapat tahunan ke 15) tahun 1998,dan Fatwa Dewan Ulama Besar Kerajaan Arab Saudi no fatwa : 8039.

Fakta bahwa babi memiliki banyak zat yang berguna memang tak dapat dimungkiri. Ini merupakan ujian bagi muslim agar lebih kreatif mencari alternatif pengganti yang halal. Dan terbukti alternatif itu selalu ada, asla kita mau berusaha menggalinya. Semoga kita terhindar dari zat-zat haram. Amiin.

 

%d bloggers like this: